Minggu, 10 Januari 2021

Si CePAD, Rapid Test Antigen Pertama Buatan Anak Bangsa Dijual Rp 120 Ribu

 Alat Rapid Test Antigen besutan Universitas Padjadjaran (Unpad) yang bernama Si CePAD dibanderol seharga Rp 120 ribu.

Pusat Inkubasi Bisnis Unpad Diana Sari mengatakan, harga tersebut dijual per piece dan penggunaannya tidak bisa secara mandiri harus disertai dengan tenaga kesehatan atau medis.


"Memang tidak bisa dipakai sendiri. Jadi jangan dipakai sendiri, kalau ke klinik minat saja untuk menggunakan CePAD. (Harga tersebut) masih dirasa tinggi, akan tetapi kami sudah menghitung apabila diproduksi banyak bisa lebih murah," kata Diana dalam Launching Media Center dan Pengenalan CePAD bersama Ikatan Keluarga Alumni Unpad melalui zoom meeting, Sabtu (9/1/2021).


Lantas bagaimana dengan tingkat akurasinya jika dibandingkan dengan alat tes lain?


Diana mengatakan, saat ini alat rapid test antigen sudah direkomendasikan secara resmi oleh World Health Organization (WHO) dan Unpad satu-satunya universitas yang menciptakan rapi berbasis antigen di Indonesia.

https://nonton08.com/movies/my-sister-in-laws-secret/


"Kalau kita melihat di sini tingkat akurasinya 91,5 persen dengan sensitivitas 85 persen. Yang direkomendasikan WHO 80 persen, artinya kita sudah melebihi itu," ujarnya.


Diana menjelaskan, perbedaan PCR dengan Rapid Antigen. Tes PCR (Polyester Chain Reaction) mendeteksi material genetik virus, sedangkan rapid test antigen mendeteksi protein virus.


Rapid test antigen berbeda dengan rapid test antibodi. Pada rapid test antibodi, yang dilihat adalah respons imun yang terbentuk ketika virus masuk. "Karena antibodi ada di dalam darah maka pengambilan sampulnya melalui darah," sambungnya.


Pada tes antigen ini, yang dideteksi bukan antibodi melainkan keberadaan virus, sama seperti tes PCR. Oleh sebab itu, pemeriksaan dilakukan di bagian nasofaring (tenggorokan di bagian atas terletak di belakang hidung dan dibalik langit-langit mulut).


"Karena antigen ini melihat virusnya, sehingga pengambilan sampel di nasofaring dan tenggorokan di mana paling banyak berkumpulnya virus," jelas Diana.


Kemudian, dilihat dari seberapa lama waktu kerjanya, rapid test antigen lebih cepat dibanding tes PCR yaitu hanya dalam 15 menit saja sudah dapat di lihat hasilnya. "Antigen hasilnya positif atau negatif bukan reaktif atau non reaktif," ujarnya.


Selain dapat mendeteksi virus Corona, alat tes CePAD ini juga diklaim dapat mendeteksi mutasi virus selagi bukan protein virus yang bermutasi. Sehingga, mutasi virus dari Inggris atau negara lain masih bisa terdeteksi dengan alat ini.


"CePAD ini masih bisa digunakan karena akurasinya bukan dari protein. Seperti literatur WHO, antigen ini mendeteksi ketika virus sedang banyak-banyaknya atau ct value COVID-19 di bawah 25," imbuhnya.


Dalam kesempatan itu, dia pun mendemonstrasikan penggunaan CePAD dengan dua sampel protein virus Corona. Hasilnya tidak kurang dari 15 menit terlihat perbedaan antara positif dan negatif.


Sampai saat ini, pihaknya mempunyai kapasitas produksi sebanyak 500 per bulan dan telah disebar ke seluruh daerah Provinsi Jawa Barat termasuk fasilitas kesehatan dan Labkesda.

https://nonton08.com/movies/roseannas-grave/

Berbagai Gejala Aritmia Jantung yang Perlu Diwaspadai

 Aritmia merupakan gangguan yang terjadi pada irama jantung. Kondisi ini terjadi ketika impuls listrik yang mengoordinasikan detak jantung tidak bekerja dengan baik, yang menyebabkan jantung berdetak terlalu cepat atau terlalu lambat.

Menurut dokter jantung dan pembuluh darah konsultan electrophysiologist/interventional cardiologist, dr Sunu Budhi Raharjo, PhD, SpJP(K), dari Heartology Brawijaya Hospital, mendiagnosis seseorang terkena aritmia perlu menjalani beberapa tahapan.


"Kalau aritmia ini perlu beberapa tahap ya pertama tentunya dari menanyakan keluhan pasien, variatif sekali dari yang simpel hanya merasa dada tidak nyaman berderbar-debar, denyut jantung hilang, lebih berat lagi apa kliyengan kaya muter gitu," ujar dr Sunu dalam diskusi daring, Sabtu (9/01/2021).


Menurutnya, kliyengan bisa terjadi karena denyut jantung terlalu cepat atau terlalu lambat. Hal ini terjadi karena aliran darah ke otak tidak cukup.


"Nah lebih lanjut lagi dari kliyengan apa, kalau denyut jantungnya lebih cepet ya pingsan atau terlalu lambat juga pingsan, terus lebih cepet lagi bisa terjadi namanya sudden cardiac death (SCD) jadi kematian yang terjadi mendadak jadi biasanya pasiennya kejang," ujarnya.


Gejala aritmia bervariasi dan bisa mengindikasikan kondisi yang tidak berbahaya atau yang memerlukan perhatian segera. Dikutip dari Healthline, berikut gejala aritmia yang perlu diwaspadai.


Gejala aritmia yang paling umum meliputi:


jantung berdetak kencang

detak jantung yang terlalu cepat

detak jantung yang terlalu lambat

detak jantung tidak teratur

berhenti di antara detak jantung

Gejala yang lebih serius meliputi:


nyeri dada

sesak napas

pusing

kliyengan

pingsan atau hampir pingsan

jantung berdebar-debar parah

kegelisahan

berkeringat

https://nonton08.com/movies/the-little-foxes/


Si CePAD, Rapid Test Antigen Pertama Buatan Anak Bangsa Dijual Rp 120 Ribu


Alat Rapid Test Antigen besutan Universitas Padjadjaran (Unpad) yang bernama Si CePAD dibanderol seharga Rp 120 ribu.

Pusat Inkubasi Bisnis Unpad Diana Sari mengatakan, harga tersebut dijual per piece dan penggunaannya tidak bisa secara mandiri harus disertai dengan tenaga kesehatan atau medis.


"Memang tidak bisa dipakai sendiri. Jadi jangan dipakai sendiri, kalau ke klinik minat saja untuk menggunakan CePAD. (Harga tersebut) masih dirasa tinggi, akan tetapi kami sudah menghitung apabila diproduksi banyak bisa lebih murah," kata Diana dalam Launching Media Center dan Pengenalan CePAD bersama Ikatan Keluarga Alumni Unpad melalui zoom meeting, Sabtu (9/1/2021).


Lantas bagaimana dengan tingkat akurasinya jika dibandingkan dengan alat tes lain?


Diana mengatakan, saat ini alat rapid test antigen sudah direkomendasikan secara resmi oleh World Health Organization (WHO) dan Unpad satu-satunya universitas yang menciptakan rapi berbasis antigen di Indonesia.


"Kalau kita melihat di sini tingkat akurasinya 91,5 persen dengan sensitivitas 85 persen. Yang direkomendasikan WHO 80 persen, artinya kita sudah melebihi itu," ujarnya.


Diana menjelaskan, perbedaan PCR dengan Rapid Antigen. Tes PCR (Polyester Chain Reaction) mendeteksi material genetik virus, sedangkan rapid test antigen mendeteksi protein virus.


Rapid test antigen berbeda dengan rapid test antibodi. Pada rapid test antibodi, yang dilihat adalah respons imun yang terbentuk ketika virus masuk. "Karena antibodi ada di dalam darah maka pengambilan sampulnya melalui darah," sambungnya.


Pada tes antigen ini, yang dideteksi bukan antibodi melainkan keberadaan virus, sama seperti tes PCR. Oleh sebab itu, pemeriksaan dilakukan di bagian nasofaring (tenggorokan di bagian atas terletak di belakang hidung dan dibalik langit-langit mulut).


"Karena antigen ini melihat virusnya, sehingga pengambilan sampel di nasofaring dan tenggorokan di mana paling banyak berkumpulnya virus," jelas Diana.


Kemudian, dilihat dari seberapa lama waktu kerjanya, rapid test antigen lebih cepat dibanding tes PCR yaitu hanya dalam 15 menit saja sudah dapat di lihat hasilnya. "Antigen hasilnya positif atau negatif bukan reaktif atau non reaktif," ujarnya.

https://nonton08.com/movies/diary-of-a-sex-addict/