Selasa, 02 Februari 2021

Hanya Rp 10 Ribu, Investasi Pencairan Instan Kini Bisa Lewat OVO

 Platform pembayaran digital OVO menggandeng agen penjual efek reksa dana, Bareksa meluncurkan fitur invest pada aplikasi OVO. Fitur ini menghadirkan produk reksa dana pasar uang (money market fund) yang dikelola Manulife Aset Manajemen Indonesia, bernama Manulife OVO Bareksa Likuid atau MOBLI.

Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra mengungkapkan kolaborasi itu bertujuan untuk menjawab tantangan yang ada di masyarakat, khususnya generasi milenial, untuk mulai membangun kebiasaan berinvestasi sejak dini. Oleh karenanya, masyarakat kini dapat mulai berinvestasi pasar uang di OVO dengan modal mulai Rp 10.000.


"Ini merupakan terobosan yang baru pertama kali terjadi di Indonesia dengan melakukan integrasi e-money dan e-investment, sebagaimana halnya kita lihat pada integrasi Alipay dan Yu'e Bao di China, yang telah mencatatkan sukses besar dalam mengenalkan investasi reksa dana secara masif di kalangan milenial," ujar Karaniya dalam keterangan tertulis, Senin (1/2/2021).

https://tendabiru21.net/movies/genius-6/


Co-Founder/CEO Bareksa ini menambahkan peluncuran fitur 'Invest' adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk membuka akses yang terjangkau, terpercaya, dan nyaman dalam pengelolaan investasi, khususnya bagi investor pemula. Terlebih, dalam mengembangkan terobosan ini, pihaknya berkonsultasi dengan Bank Indonesia (BI) dan OJK.


"Untuk itu, kami berterima kasih atas dukungan BI dan OJK yang pro-inovasi dan visioner dalam pemanfaatan tekfin bagi peningkatan inklusi keuangan dan pendalaman pasar keuangan kita," imbuhnya dalam Peluncuran Layanan Investasi OVO secara virtual, Selasa (26/1).


Sementara itu, Presiden Direktur Interim dari Manulife Aset Manajemen Indonesia Afifa menyambut baik kolaborasi dengan OVO dan Bareksa ini. Menurutnya, sebagai salah satu perusahaan pengelola reksa dana pihaknya berkomitmen untuk mengembangkan industri reksa dana di Indonesia.


"Kami secara aktif berkolaborasi dengan berbagai mitra, termasuk dengan mitra di industri keuangan digital. Kami percaya kolaborasi ini akan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia dalam meningkatkan literasi dan inklusi reksa dana di Indonesia," ungkapnya.


Adapun Financial Coach Philip Mulyana menjabarkan keuntungan yang bisa didapat para anak muda bila memulai investasi reksa dana pasar uang sejak dini, antara lain mendapatkan keuntungan lebih besar hingga 4-6% per tahun dibandingkan dengan menabung secara konvensional yang hanya mencapai 2% per tahun.


"Oleh sebab itu, meski kamu mungkin masih di usia awal 20-30 tahun, sebaiknya dana masa depan sudah disiapkan lebih awal dari sekarang. Tujuannya, agar di usia 45 tahun kamu sudah dapat lebih dekat ke kondisi merdeka finansial," paparnya.


Selain itu, kata dia, investasi reksa dana juga dapat menjadi salah satu opsi tabungan dana darurat yang baik untuk investor pemula. Terlebih lagi dengan fitur pencairan instan yang dihadirkan OVO, dana dapat dengan mudah dicairkan ketika mendadak dibutuhkan ataupun untuk langsung bertransaksi di aplikasi OVO.


Sementara itu, founder Negeri Pembelajar learning platform dan Mentorgue, Fellexandro Ruby memberikan tips untuk memulai berinvestasi sejak dini. Salah satunya adalah dengan menyisihkan dana berlebih secara teratur dan menginvestasikannya di instrumen reksa dana.


Ruby menilai layanan investasi yang ada di aplikasi OVO sangat cocok dengan generasi milenial yang ingin belajar berinvestasi. Sebab fitur tersebut membuat investasi terasa lebih mudah dan bisa dimulai dengan nominal yang sangat kecil.


Menurutnya, ketika dana sudah cukup banyak bisa mencoba diversifikasi investasi misalnya membuka bisnis atau membeli aset produktif seperti apartemen atau rumah untuk disewakan kembali.


"Saat ini kita dihadapkan dengan situasi pandemi yang masih akan terus berlangsung, jadi memang kita harus memiliki kesadaran untuk menyisihkan dana yang berlebih untuk diinvestasikan untuk saat-saat yang tidak terduga," tutupnya.

https://tendabiru21.net/movies/genius-5/

Menkominfo Koreksi Lelang Frekuensi 2,3 GHz Bukan Buat 5G

 Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengoreksi bahwa lelang frekuensi 2,3 GHz yang dibuka pemerintah tidak ada hubungannya dengan layanan 5G.

"Saya perlu tekankan di sini bahwa pelelangan spektrum pelelangan 2,3 GHz tidak ada hubungannya dengan deployment 5G. Jadi, berita yang disebar, belum sepenuhnya menggambarkan apa yang ada dalam perencanaan Kominfo," ujar Johnny saat Rapat Kerja dengan Komisi I DPR, Jakarta, Senin (1/2/2021).


Menkominfo kemudian menjelaskan bahwa lelang frekuensi tersebut dilakukan pemerintah menyesuaikan kebutuhan operator seluler dalam meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan.


"Pelelangan spektrum 2,3 GHz adalah menambah dan melengkapi kebutuhan operator seluler akan keperluan spektrum demi pengembangan usaha mereka, termasuk untuk pemanfaatan 4G," ungkapnya.


"Pelelangan 2,3 GHz itu tidak seluruhnya bebas secara nasional. Kominfo mencatat di 2,3 GHz ada aplikasi atau pemanfaatan telekomunikasi lain, sehingga dalam rangka pencarian sumber penerimaan negara berupa PNBP. Maka frekuensi 2,3 GHz yang kosong dilelang demi kepentingan operator seluler," tutur Johnny.


Ketika menyatakan membuka lelang frekuensi di 2,3 GHz pada November 2020, Kominfo mengatakan seleksi tersebut sebagai upaya mendukung transformasi digital, meningkatkan kapasitas jaringan operator seluler, hingga mendorong akselerasi penggelaran teknologi generasi kelima (5G).


Lelang frekuensi tersebut berjalan sampai ke tahap pengumuman pemenangnya. Namun secara mengejutkan, Kominfo membatalkan hasil lelang frekuensi 2,3 GHz pada rentang 2.360-2.390 MHz tersebut.


Saat mengumumkan pembatalan itu, Kominfo beralasan sebagai sebuah langkah kehati-hatian dan kecermatan dari Kementerian Kominfo guna menyelaraskan setiap bagian dari proses seleksi ini dengan ketentuan peraturan perundang-undangan berkaitan dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di lingkungan Kementerian Kominfo, khususnya Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2015.


Kominfo pun berencana melakukan lelang frekuensi 2,3 GHz. Hanya saja, untuk saat ini belum diketahui kapan proses tender itu dibuka. Adapun, untuk penggelaran 5G, Kominfo mengatakan bahwa tidak bergantung dengan frekuensi 2,3 GHz.


Sebelumnya dalam siaran pers No. 148/HM/KOMINFO/11/2020 pada Jumat 20 November 2020, Kominfo mengumumkan seleksi pengguna frekuensi 2,3 GHz. Di situ disebutkan frekuensi 2,3 GHz terkait 5G.


"Seleksi pengguna pita frekuensi radio 2,3 GHz itu bertujuan untuk meningkatkan kapasitas jaringan bergerak seluler, meningkatkan kualitas layanan secara maksimal, serta mendorong akselerasi penggelaran infrastruktur TIK dengan teknologi generasi kelima (5G)," sebut Kominfo dalam keterangan resminya saat itu.

https://tendabiru21.net/movies/genius-4/


Hanya Rp 10 Ribu, Investasi Pencairan Instan Kini Bisa Lewat OVO


Platform pembayaran digital OVO menggandeng agen penjual efek reksa dana, Bareksa meluncurkan fitur invest pada aplikasi OVO. Fitur ini menghadirkan produk reksa dana pasar uang (money market fund) yang dikelola Manulife Aset Manajemen Indonesia, bernama Manulife OVO Bareksa Likuid atau MOBLI.

Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra mengungkapkan kolaborasi itu bertujuan untuk menjawab tantangan yang ada di masyarakat, khususnya generasi milenial, untuk mulai membangun kebiasaan berinvestasi sejak dini. Oleh karenanya, masyarakat kini dapat mulai berinvestasi pasar uang di OVO dengan modal mulai Rp 10.000.


"Ini merupakan terobosan yang baru pertama kali terjadi di Indonesia dengan melakukan integrasi e-money dan e-investment, sebagaimana halnya kita lihat pada integrasi Alipay dan Yu'e Bao di China, yang telah mencatatkan sukses besar dalam mengenalkan investasi reksa dana secara masif di kalangan milenial," ujar Karaniya dalam keterangan tertulis, Senin (1/2/2021).

https://tendabiru21.net/movies/genius-3/