Jumat, 05 Februari 2021

Begini Mekanisme Vaksinasi COVID-19 untuk Masyarakat Umum

 Pemerintah menargetkan sekitar 181 juta penduduk Indonesia divaksinasi COVID-19. Proses vaksinasi dilakukan secara bertahap dengan tenaga kesehatan sebagai penerima pertama.

Kelompok selanjutnya yakni petugas pelayanan publik sebelum akhirnya masyarakat umum. Diperkirakan vaksinasi Corona untuk masyarakat umum bisa dimulai sekitar akhir April atau awal Mei mendatang.


Mekanisme pemberian vaksin COVID-19 untuk masyarakat umum disebut akan sama dengan tenaga kesehatan. Penerima vaksin akan menerima undangan melalui SMS.


"Masyarakat juga akan menerima undangan lewat SMS dan selanjutnya dapat melakukan registrasi sebelum menerima vaksinasi," ujar juru bicara penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers yang disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (4/2/2021).


Vaksinasi COVID-19 untuk masyarakat umum nantinya menggunakan sistem satu data vaksinasi COVID-19. Kerja sama untuk pendataan dilakukan oleh Telkom, Kominfo, BPJS, Kemenkes, dan Kemenko Perekonomian.


Sampai saat ini total yang sudah mendapatkan vaksin COVID-19 sekitar 700 ribu orang untuk dosis pertama dan 96 ribu sudah menerima dosis vaksin COVID-19 kedua.

https://tendabiru21.net/movies/the-maidroid/


Pecahkan Misteri Asal Usul Corona, WHO Bakal Selidiki Gua Kelelawar di Wuhan


Tim investigasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini tengah berada di China untuk meneliti asal-usul virus Corona yang menyebabkan pandemi COVID-19.

Dikutip dari laman Reuters, Peter Daszak, pakar zoologi dan penyakit hewan yang tergabung dalam tim investigasi tersebut menyebut bahwa sangat penting meneliti gua kelelawar untuk melacak elemen genetik virus.


Daszak sebelumnya terlibat dalam penelitian tentang asal-usul Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) pada 2002 hingga 2003 silam, untuk menelusuri asal-usul virus ke kelelawar yang tinggal di sebuah gua di Provinsi Yunnan di China barat daya.


"Penelitian serupa perlu dilakukan jika kita ingin menemukan asal mula satwa liar yang sebenarnya dari COVID-19," kata Daszak, kepala Aliansi EcoHealth yang berbasis di New York.


"Pekerjaan semacam ini, untuk menemukan kemungkinan sumber dari kelelawar, penting karena jika kita dapat menemukan sumber virus mematikan ini, kita dapat mengurangi kontak dengan hewan-hewan itu," ujar dia kepada Reuters dalam sebuah wawancara.


Tidak jelas apakah China saat ini mengambil sampel dari banyak gua kelelawar, tetapi virus yang mirip dengan SARS-CoV-2 sebelumnya telah ditemukan di Yunnan, China.


Daszak mengatakan tim di Wuhan telah menerima informasi baru tentang bagaimana virus tersebut menyebabkan pandemi, tetapi tidak menerangkan lebih lanjut.


"Saya melihat gambaran yang datang dari beberapa skenario tampak lebih masuk akal daripada sebelumnya," kata dia.


Satu skenario yang sedang diteliti lebih dekat oleh tim WHO adalah kemungkinan bahwa virus tersebut mungkin telah beredar jauh sebelum pertama kali diidentifikasi di Wuhan.


"Itu adalah sesuatu yang kami lihat dengan sangat intens untuk melihat tingkat penularan komunitas yang mungkin terjadi lebih awal. Pekerjaan sebenarnya yang kami lakukan di sini adalah melacak kembali dari kasus pertama kembali ke reservoir hewan, dan itu jalan yang jauh lebih berbelit-belit, dan mungkin telah terjadi selama beberapa bulan atau bahkan tahun," tutur Daszak.


Dia tidak menjelaskan lebih lanjut tetapi mengatakan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa virus itu muncul dari laboratorium.


Para penyelidik telah mengunjungi rumah sakit, fasilitas penelitian, dan pasar makanan laut tempat wabah pertama diidentifikasi, meskipun waktu mereka di Wuhan terbatas pada kunjungan yang diselenggarakan oleh otoritas China.


Daszak mengatakan pihak berwenang China tidak menolak permintaan tim untuk mengunjungi fasilitas atau bertemu dengan tokoh-tokoh penting.


"Tentu saja tidak mungkin untuk mengetahui apa yang tidak diberitahukan kepada Anda, tetapi apa yang saya lihat di China, dan apa yang dilihat kelompok ini di China, adalah apa yang kami minta, kami diizinkan melakukannya," kata Daszak

https://tendabiru21.net/movies/lust-for-a-vampire/

Rabu, 03 Februari 2021

Urut-urutan Gejala yang Paling Sering Dialami Pasien COVID-19

 Gejala yang muncul pada infeksi SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 cukup beragam, mulai dari yang paling umum seperti sesak napas hingga yang tak terbayangkan seperti sariawan. Tidak semua pasien mengalami gejala yang sama, bahkan ada yang tak bergejala sama sekali.

Variasi ini jugalah yang bagi sebagian orang memicu pandangan skeptis: "apa-apa kok dibilang COVID-19".


Faktanya, infeksi virus Corona tidak hanya menyerang pernapasan. Para ilmuwan mengaitkannya juga dengan keluhan mata merah, gangguan pencernaan, bahkan masalah kejiwaan.


Meski tidak ada yang benar-benar sama, para pakar mengamati pola kemunculan gejala yang paling umum dialami pasien. Dikutip dari Timesnownews, berikut urut-urutan gejala yang muncul.


1. Demam

Selama pandemi, hampir semua tempat memberlakukan pengecekan suhu tubuh. Ada benarnya, sebab salah satu gejala paling umum pada infeksi apapun adalah demam. Demikian juga pada COVID-19, demam termasuk salah satu gejala paling perlu diwaspadai.


2. Batuk

Karena SARS-CoV-2 utamanya menyerang pernapasan, maka gejala yang umum berikutnya adalah batuk-batuk. Gejala ini juga paling diwaspadai, karena semburan droplet saat batuk adalah jalur utama penularan virus Corona. Karena itulah, masker jadi perlindungan wajib selama pandemi.


3. Anosmia

Tidak bisa mencium bau dan mengecap rasa juga tidak spesifik hanya dialami pasien COVID-19. Infeksi pernapasan pada umumnya juga bisa memicu keluhan ini. Tetapi, anosmia atau ketidakmampuan mendeteksi bau belakangan makin banyak dialami pasien COVID-19.


4. Pegal-pegal

Keluhan pegal dan nyeri otot muncul ketika virus Corona mulai masuk ke dalam tubuh dan mengalami replikasi. Proses tersebut memicu inflamasi atau radang, yang salah satunya ditandai dengan keluhan nyeri.


5. Diare

Kenapa China memberlakukan anal swab test untuk mendeteksi COVID-19? Gangguan pencernaan adalah salah satu gejala yang banyak dikeluhkan berikutnya. Benar, dari saluran pernapasan, virus ini bisa berakhir di saluran pencernaan, dan dikeluarkan bersama feses atau tinja.


Mengalami urut-urutan yang berbeda? Ceritakan di komentar ya.

https://indomovie28.net/movies/phineas-and-ferb-the-movie-candace-against-the-universe/


Vaksin Rusia Sputnik V Klaim Efikasi 91,6 Persen Lawan COVID-19


Hasil uji klinis fase 3 vaksin COVID-19 buatan Rusia, Sputnik V, menunjukkan efikasi 91,6 persen melawan gejala COVID-19 dan 100 persen efektif melawan penyakit parah dan sedang. Temuan analisis sementara hasil uji coba fase 3 ini diterbitkan dalam jurnal The Lancet, Selasa (2/2/2021).

Hasil uji klinis ini didasarkan pada data yang dikumpulkan dari 19.866 peserta, di mana sekitar tiga perempat (14.964) menerima dua dosis vaksin dan seperempat (4.902) diberi plasebo.


Sekitar 21 hari setelah pemberian dosis pertama, sebanyak 16 kasus gejala COVID-19 ditemukan dalam kelompok vaksin. Lalu 62 kasus ditemukan pada kelompok plasebo, hal tersebut setara dengan efektivitas vaksin yang mencapai 91,6 persen.


Uji coba tersebut melibatkan 2.144 orang yang berusia di atas 60 tahun dan sub-analisis yang dilakukan pada kelompok ini mengungkapkan bahwa vaksin tersebut dapat ditoleransi dengan baik dan memiliki kemanjuran yang setara 91,8 persen.


Dikutip dari laman CNN, peneliti juga menganalisis kemanjuran vaksin terhadap gejala COVID-19 yang parah dan sedang. Setelah 21 hari sejak pemberian dosis pertama, tidak ada kasus yang parah atau sedang dilaporkan pada kelompok yang divaksinasi, sementara 20 dilaporkan pada kelompok plasebo.


Efek samping yang ditemukan

Efek samping yang serius juga jarang terjadi dan tidak ada yang dianggap terkait dengan vaksinasi. Mayoritas efek samping yang dilaporkan ringan, seperti nyeri di tempat suntikan, gejala seperti flu dan tingkat energi yang rendah.


Peneliti mencatat perlu lebih banyak penelitian untuk memahami efektivitas vaksin terhadap COVID-19 yang tanpa gejala, penularan dan berapa lama efek dari vaksinasi bisa bertahan.


Mayoritas peserta dalam uji coba juga berkulit putih sehingga penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil di seluruh kelompok etnis lainnya.


Salah satu peneliti dari Pusat Penelitian Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya Rusia, Inna V Dolzhikova mengatakan vaksin Sputnik V memiliki efektivitas yang tinggi.


"Efektivitas tinggi, meningkatkan kekebalan tubuh dan penerimaan yang baik pada peserta yang berusia 18 tahun atau lebih," katanya.


Vaksin Corona Spuntnik V sendiri sudah disetujui di Rusia, Belarusia, Serbia, Argentina, Bolivia, Aljazair, Venezuela, Paraguay, Turkmenistan, Hongaria, UEA, Iran, Guinea, Tunisia, Armenia dan wilayah Palestina. Sputnik V sejauh ini telah diberikan kepada lebih dari 2 juta orang di seluruh dunia.

https://indomovie28.net/movies/reservoir-dogs/