Bagi sebagian orang, musik efektif menjadi teman penyemangat saat berolahraga. Misalnya, jogging sembari menggunakan earphone untuk mendengarkan musik. Akan tetapi, hal ini rupanya justru berbahaya bagi kesehatan telinga.
Hal ini dipaparkan oleh dokter spesialis THT dari RSUP Sanglah Denpasar, dr Eka Putra Setiawan, SpTHT-KL(K).
Menurutnya, posisi earphone yang bergeser-geser di telinga saat berolahraga tak baik bagi kesehatan dan kebersihan liang telinga. Apalagi karena tercampur keringat, pH atau kadar keasaman di area telinga bisa terganggu.
"Karena tergeser-geser, ada keringat maka terjadi perubahan lingkungan di liang telinga. Ini akan menyebabkan rasa gatal, perih, bahkan ada rasa sakit. Itu yang sebenarnya kita harus hindari," terangnya dalam talkshow di Radio Kementerian Kesehatan, Senin (1/3/2021).
Kebersihan earphone harus dijaga agar tidak menjadi medium penyebaran bakteri. Misalnya pada jenis earphone dengan karet silikon, karet perlu dicopot dan dibersihkan secara rutin.
"Bersihkan (earphone) dengan cara melepaskan silikon, gunakan air dicampur sabun dan rendam beberapa menit. Keringkan, kemudian bisa kita pakai lagi. Mudah-mudahan dengan demikian, liang telinga sehat, tidak terkontaminasi oleh earphone," imbuhnya.
Selain kebersihan, volume dan durasi penggunaan perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan telinga. Untuk penggunaan 4,6 jam, volume earphone tidak boleh melebihi 60 persen.
Sedangkan pada penggunaan 1,2 jam, tidak boleh melebihi 80 persen.
Jika suasana sedang bising dan volume harus mencapai 90 persen atau lebih, earphone hanya boleh digunakan selama idealnya 18 menit.
Dr Eka menyebut, kendala lain dari menggunakan earphone saat berolahraga adalah suasana bising dari lingkungan sekitar.
Sering kali suasana bising membuat orang 'refleks' membesarkan volume earphone. Walhasil, volume melebih batas yang dianjurkan sesuai durasi penggunaan.
Khusus bagi yang berolahraga di tempat umum, pastikan juga earphone tidak menghalangi telinga untuk tetap mendengarkan suara dari lingkungan sekitar. Beberapa kecelakaan saat olahraga terjadi karena suara klakson kendaraan tidak terdengar saat memakai earphone.
https://indomovie28.net/movies/the-farewell/
Sudah Setahun COVID-19 di Indonesia, Waspadai 9 Titik Lengah Penularan
Setahun sejak kasus pertama virus Corona COVID-19 ditemukan di Indonesia, penularannya masih sulit dikendalikan. Ada beberapa titik lengah yang menjadi celah penularan.
Vaksinasi COVID-19 yang tengah diupayakan adalah untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Akan tetapi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut, langkah pertama untuk mencegah penularan COVID-19 bukanlah vaksinasi, melainkan 5M.
Ketua Dewan Pakar PB IDI Prof Dr dr Menaldi Rasmin, SpP(K) menyebut, vaksinasi adalah 'langkah etis' dalam penanganan pandemi COVID-19.
"Vaksinasi adalah cara paling etis untuk mendapatkan kekebalan masyarakat. Kalau cara nggak etis, biarin saja. Siapa yang tahan, tahan. Nggak tahan, ya nggak tahan," ujarnya dalam jumpa pers virtual oleh Tim Mitigasi IDI, Senin (1/3/2021).
Ia sebutkan, bukan vaksin yang paling diperlukan untuk mengatasi pandemi. Jika tujuannya adalah herd immunity, hal tersebut baru tercapai jika vaksinasi sudah dilakukan ke 70 persen masyarakat Indonesia.
"Kok lama? Sebetulnya kalau orang sudah mulai dengan pencegahan dengan 5M, ketakutan seperti itu (vaksinasi lama) tidak perlu, karena vaksinasi adalah pencegahan tahap kedua," imbuhnya.
Sebelum vaksinasi, langkah pertama yang diperlu diupayakan adalah 5M mencakup:
memakai masker
mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir
menjaga jarak
menjauhi kerumunan
membatasi mobilitas dan interaksi.
Selain itu, Ketua Tim Mitigasi PB IDI dr Adib Khumaidi, SpOT memaparkan 9 titik lengah yang kerap menjadi 'celah' penyebaran COVID-19 di luar kesadaran masyarakat:
Saat bersama keluarga karena anggota keluarga bisa menjadi sumber pajanan
Ketika makan bersama sejawat di tempat kerja dan acara tertentu
Saat melepas penat, mencopot masker tanpa menjaga jarak aman
Rapat bersama teman sejawat karena tidak bisa menjamin orang lain benar-benar sehat
Saat bekerja dalam tim, orang yang saling berhadapan belum tentu bebas dari pajanan
Saat tidak menjaga jarak fisik
Saat di rumah ibadah
Saat dalam komunitas olahraga
Saat menghadiri pesta