Selasa, 02 Maret 2021

Dokter THT Tak Sarankan Pakai Earphone saat Berolahraga, Ini Bahayanya

 Bagi sebagian orang, musik efektif menjadi teman penyemangat saat berolahraga. Misalnya, jogging sembari menggunakan earphone untuk mendengarkan musik. Akan tetapi, hal ini rupanya justru berbahaya bagi kesehatan telinga.

Hal ini dipaparkan oleh dokter spesialis THT dari RSUP Sanglah Denpasar, dr Eka Putra Setiawan, SpTHT-KL(K).


Menurutnya, posisi earphone yang bergeser-geser di telinga saat berolahraga tak baik bagi kesehatan dan kebersihan liang telinga. Apalagi karena tercampur keringat, pH atau kadar keasaman di area telinga bisa terganggu.


"Karena tergeser-geser, ada keringat maka terjadi perubahan lingkungan di liang telinga. Ini akan menyebabkan rasa gatal, perih, bahkan ada rasa sakit. Itu yang sebenarnya kita harus hindari," terangnya dalam talkshow di Radio Kementerian Kesehatan, Senin (1/3/2021).


Kebersihan earphone harus dijaga agar tidak menjadi medium penyebaran bakteri. Misalnya pada jenis earphone dengan karet silikon, karet perlu dicopot dan dibersihkan secara rutin.


"Bersihkan (earphone) dengan cara melepaskan silikon, gunakan air dicampur sabun dan rendam beberapa menit. Keringkan, kemudian bisa kita pakai lagi. Mudah-mudahan dengan demikian, liang telinga sehat, tidak terkontaminasi oleh earphone," imbuhnya.


Selain kebersihan, volume dan durasi penggunaan perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan telinga. Untuk penggunaan 4,6 jam, volume earphone tidak boleh melebihi 60 persen.


Sedangkan pada penggunaan 1,2 jam, tidak boleh melebihi 80 persen.


Jika suasana sedang bising dan volume harus mencapai 90 persen atau lebih, earphone hanya boleh digunakan selama idealnya 18 menit.


Dr Eka menyebut, kendala lain dari menggunakan earphone saat berolahraga adalah suasana bising dari lingkungan sekitar.


Sering kali suasana bising membuat orang 'refleks' membesarkan volume earphone. Walhasil, volume melebih batas yang dianjurkan sesuai durasi penggunaan.


Khusus bagi yang berolahraga di tempat umum, pastikan juga earphone tidak menghalangi telinga untuk tetap mendengarkan suara dari lingkungan sekitar. Beberapa kecelakaan saat olahraga terjadi karena suara klakson kendaraan tidak terdengar saat memakai earphone.

https://indomovie28.net/movies/the-farewell/


Sudah Setahun COVID-19 di Indonesia, Waspadai 9 Titik Lengah Penularan


 Setahun sejak kasus pertama virus Corona COVID-19 ditemukan di Indonesia, penularannya masih sulit dikendalikan. Ada beberapa titik lengah yang menjadi celah penularan.

Vaksinasi COVID-19 yang tengah diupayakan adalah untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Akan tetapi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut, langkah pertama untuk mencegah penularan COVID-19 bukanlah vaksinasi, melainkan 5M.


Ketua Dewan Pakar PB IDI Prof Dr dr Menaldi Rasmin, SpP(K) menyebut, vaksinasi adalah 'langkah etis' dalam penanganan pandemi COVID-19.


"Vaksinasi adalah cara paling etis untuk mendapatkan kekebalan masyarakat. Kalau cara nggak etis, biarin saja. Siapa yang tahan, tahan. Nggak tahan, ya nggak tahan," ujarnya dalam jumpa pers virtual oleh Tim Mitigasi IDI, Senin (1/3/2021).


Ia sebutkan, bukan vaksin yang paling diperlukan untuk mengatasi pandemi. Jika tujuannya adalah herd immunity, hal tersebut baru tercapai jika vaksinasi sudah dilakukan ke 70 persen masyarakat Indonesia.


"Kok lama? Sebetulnya kalau orang sudah mulai dengan pencegahan dengan 5M, ketakutan seperti itu (vaksinasi lama) tidak perlu, karena vaksinasi adalah pencegahan tahap kedua," imbuhnya.


Sebelum vaksinasi, langkah pertama yang diperlu diupayakan adalah 5M mencakup:


memakai masker

mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir

menjaga jarak

menjauhi kerumunan

membatasi mobilitas dan interaksi.

Selain itu, Ketua Tim Mitigasi PB IDI dr Adib Khumaidi, SpOT memaparkan 9 titik lengah yang kerap menjadi 'celah' penyebaran COVID-19 di luar kesadaran masyarakat:


Saat bersama keluarga karena anggota keluarga bisa menjadi sumber pajanan

Ketika makan bersama sejawat di tempat kerja dan acara tertentu

Saat melepas penat, mencopot masker tanpa menjaga jarak aman

Rapat bersama teman sejawat karena tidak bisa menjamin orang lain benar-benar sehat

Saat bekerja dalam tim, orang yang saling berhadapan belum tentu bebas dari pajanan

Saat tidak menjaga jarak fisik

Saat di rumah ibadah

Saat dalam komunitas olahraga

Saat menghadiri pesta

https://indomovie28.net/movies/the-wedding/

Genap Setahun di Indonesia, Kapan Virus Corona Angkat Kaki?

 Tepat hari ini, setahun lalu, Senin (2/3/2021), Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Mitos Indonesia 'kebal' Corona terpatahkan.

Dua kasus pertama tersebut adalah seorang ibu, saat itu berusia 64 tahun, dan putrinya berusia 31 tahun. Keduanya berinteraksi dengan seorang warga negara Jepang yang terkonfirmasi positif COVID-19.


"Dicek dan tadi pagi saya dapat laporan dari Pak Menkes bahwa ibu ini dan putrinya positif Corona," kata Jokowi dalam konferensi pers kala itu.


Setahun berlalu sejak 2 kasus pertama ditemukan, kini tercatat sudah ada 1.341.314 kasus konfirmasi positif COVID-19 dengan kasus aktif sebanyak 153.074 pada Selasa (1/2/2021). Total sebanyak 1.151.915 pasien tercatat sembuh, sedangkan 36.325 kasus meninggal dunia.


Catatan ini menempatkan Indonesia di urutan pertama negara Asia Tenggara dengan jumlah kasus positif akumulatif paling tinggi. Di seluruh Asia, Indonesia menduduki peringkat ke-4 di bawah India, Turki, dan Iran.


Berbagai upaya membatasi persebaran virus telah dilakukan, tetapi belum tampak tanda-tanda pandemi akan berakhir dalam waktu dekat. Vaksinasi yang sudah dimulai di beberapa negara memupuk harapan agar setidaknya persebaran virus Corona lebih terkendali dengan terbentuknya herd immunity.


Secara global, tren penambahan kasus dalam beberapa pekan terakhir mengalami penurunan. Namun pada pakar meyakini virus Corona tidak akan benar-benar hilang, bahkan ada potensi akan menetap sebagai penyakit endemik.

https://indomovie28.net/movies/the-wedding-ringer/


Bagaimana di Indonesia?

Sepekan terakhir, penambahan kasus baru konsisten berada di bawah angka 10 ribu. Namun carut-marutnya pencatatan data membuat tren ini tidak terlihat menggembirakan, terlebih dengan jumlah testing yang juga terpantau menurun.


Ketua tim mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Adib Khumaidi, SpOT mengaku belum bisa memprediksi kapan Corona hilang di Indonesia.


Walaupun kecenderungan kasus virus Corona menurun di Indonesia, dr Adib mengingatkan bahwa kondisi pandemi juga perlu dilihat dari angka positivity rate, occupancy rate, dan recovery rate.


"Untuk angka perawatan di ICU, itu juga masih ada. Walaupun tidak sesulit mencari ICU pada bulan Januari, tapi angka hunian di ICU masih tinggi untuk pasien COVID-19, jadi saya kira kita belum bisa memprediksi kapan COVID-19 akan berakhir," terang dr Adib dalam konferensi pers IDI Senin (1/3/2021).


Sementara itu, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo telah menetapkan target Indonesia 'bebas' COVID-19 pada 17 Agustus. Tidak harus diartikan nol kasus, Indonesia bebas COVID-19 artinya pertumbuhan kasus bisa dikendalikan.


Juru bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menyebut, COVID-19 bisa terkendali jika tata kelola berjalan dengan baik. Kondisi paling ideal dan realistis menurutnya adalah desentralisasi penanganan hingga tingkat RT-RW.


"Belum tentu (nol kasus) kan kemampuan mengendalikan lain-lain dan dinamis, sekarang nol kasus besok bisa ada lagi, dikendalikan, nol kasus lalu kemudian aktivitas, ada lagi kasus, bisa dikendalikan," jelas Prof Wiku.


Begitu banyak perubahan setahun belakangan. Kerinduan untuk bisa beraktivitas secara normal makin tak tertahankan. Masih adakah harapan untuk bisa bebas berkumpul lagi?

https://indomovie28.net/movies/the-wonderful-wedding/