Rabu, 03 Maret 2021

3 Penyakit Ini Paling Bikin Tekor BPJS Kesehatan

  Pasien dengan penyakit katastropik diproyeksikan sebagai prioritas dalam penanganan BPJS Kesehatan. Pasalnya, penyakit seperti jantung koroner, gagal ginjal, dan kanker disebut mengkonsumsi dana paling besar.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof Ali Ghufron Mukti. Dirut baru yang akan menjabat pada periode 2021-2026 dan baru saja dilantik Presiden Joko Widodo pada 22 Februari 2021 ini menilai, penyakit katastropik tak hanya perlu diprioritaskan dalam hal penanganan, tapi juga promosi pencegahan.


Selain untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, juga menekan pengeluaran BPJS Kesehatan yang paling banyak teralokasi untuk pengobatan 3 jenis penyakit katastropik tersebut.


"Itu (penyakit katastropik) konsumsi dana BPJS besar. Tentu menjadi perhatian kita. Tapi kami ingin, promosi prevensi atau pencegahan, kemudian menjaga diri untuk sehat tidak jatuh sakit, itu yang utama. Kami akan tentu menekankan itu," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (3/3/2021).


Prof Ghufron menyebut, penyakit jantung koroner, gagal ginjal, dan kanker sejauh ini menjadi prioritas BPJS Kesehatan. Akan tetapi, hal ini masih perlu dikaji kembali untuk melihat metode penanganan dan pencegahan yang tepat lantaran pengobatannya memakan biaya yang besar.


"Tentu kita akan melihat, memetakan secara keseluruhan. Nanti kita lihat mana dan seperti apa kira-kita bottleneck penyakit yang prioritas. 3 penyakit itu penyakit yang paling mengkonsumsi dana BPJS," imbuhnya.


Ia menyebut, defisit BPJS Kesehatan hingga kini masih terjadi, tercatat mencapai Rp 7 triliun.

https://cinemamovie28.com/movies/summer-camp/


Ahli Sarankan Masker Rangkap untuk Tangkal Varian Corona B117


Pakar penyakit menular ternama di Amerika Serikat Dr Anthony Fauci menyarankan untuk 'double masking' atau mengenakan masker rangkap melawan varian baru Corona. Seiring dengan semakin luas penyebaran varian baru Corona B117.

"(Corona B117) itu adalah varian yang memiliki kemampuan lebih tinggi dalam menularkan virus secara efisien dari orang ke orang," kata Fauci beberapa waktu lalu.


"Jika Anda memiliki masker satu lapisan dan memakai satu lapisan lagi, akan masuk akal jika 'double masking' lebih efektif," lanjutnya, dikutip dari Newsweek.


Lantas bagaimana cara memakai masker rangkap?

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) beberapa waktu lalu memperbaharui pedoman. Disebutkan, masker rangkap lebih efektif menyaring partikel di udara.


Namun, tak sembarangan masker rangkap, CDC menyarankan lapisan pertama menggunakan masker medis sekali pakai, sementara masker kedua bisa menggunakan masker kain. Hal yang menjadi catatan adalah pastikan masker tetap nyaman saat dipakai dan sudah menutup bagian wajah dengan baik.


"Jangan pakai dua masker medis sekali pakai bersamaan. Masker ini tidak dirancang untuk bisa menutup pas di wajah, sehingga memakai lebih dari satu tidak akan menambah keketatan pemakaian masker," tulis CDC dalam pedoman barunya.


Seperti diketahui, varian Corona B117 sudah masuk Indonesia, diumumkan per Selasa (2/3/2021). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut dua kasus varian Corona B117 yang ditemukan adalah impor, berasal dari Arab Saudi.


Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio menyebut varian Corona B117 ini sudah masuk Indonesia beberapa minggu lalu.


"Kasusnya sebenarnya kasus impor yang datang di Indonesia, dan datangnya bukan tadi malam. Datangnya beberapa minggu yang lalu. Karena berbagai prosedur baru terdeteksi ada dua kasus," kata Prof Amin dalam diskusi online di kanal YouTube medcomid, Selasa (2/3/2021).

https://cinemamovie28.com/movies/the-model-solution/

Corona B117 Masuk RI, Pakar Ingatkan Kemungkinan Dampak ke Pasien Komorbid

 Varian baru Corona B117 Inggris sudah masuk Indonesia. Kabar ini mulanya diumumkan Wakil Menteri Kesehatan dr Dante Saksono bertepatan dengan setahunnya pandemi Corona di Indonesia.

Menurutnya, varian Corona B117 ditemukan pada Senin malam (1/3/2021). Belakangan, info berbeda disampaikan Prof Amin Subandrio Kepala Lembaga Molekuler (LBM) Eijkman, Corona B117 disebut sudah ditemukan beberapa pekan lalu.


"Kasusnya sebenarnya kasus impor yang datang di Indonesia, dan datangnya bukan tadi malam. Datangnya beberapa minggu yang lalu. Karena berbagai prosedur baru terdeteksi ada dua kasus," kata Prof Amin dalam diskusi online di kanal YouTube medcomid, Selasa (2/3/2021).


Adanya mutasi Corona B117 juga dikonfirmasi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dengan menyebutkan kasus tersebut berasal dari Arab Saudi. Seberapa bahaya sebenarnya varian Corona B117 ini?


Menurut Guru Besar Biologi Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Chairul A Nidom, temuan 2 kasus B117 disebut belum diinput ke bank yang mengumpulkan data-data whole genome sequencing (WGS) GISAID per 2 Maret 2021. Pasalnya, para pakar khususnya ahli virologi perlu ikut melihat apakah varian yang ditemukan karakternya sama persis dengan B117.


"Karena virus COVID-19 tidak ditentukan oleh satu bagian yang mutasi," jelas Prof Nidom kepada detikcom.


Apakah ada dampaknya bagi vaksin Corona?

Prof Nidom tak mengesampingkan hal tersebut. Ia pun mendesak agar vaksin-vaksin Corona yang akan digunakan perlu diuji pada varian Corona B117.


"Ada kemungkinan vaksin COVID-19 tidak sesuai lagi dan perlu direvisi. Tapi sebelumnya vaksin-vaksin yang digunakan di Indonesia perlu diuji dengan virus B117," sebutnya.


Di sisi lain ia juga mewanti-wanti masyarakat yang memiliki komorbid. Pasalnya, varian Corona B117 ini diyakini lebih cepat menular.


"Karena kecepatan penularan sangat tinggi, penyakit COVID-19 ini yang berpengaruh terhadap kefatalan ditentukan oleh komornid, maka masyarakat perlu mengontrol komorbidnya," lanjut Prof Nidom.


Waspada mutasi Corona hybrid

Nidom menyarankan agar testing, tracing dan treatment ditingkatkan. Termasuk mendeteksi lebih banyak kasus Corona B117 yang kemungkinan sudah menyebar hingga varian-varian Corona lain yang memiliki lebih dari dua mutasi atau mutasi Corona hybrid.


"Tingkatkan 3T untuk mendeteksi penyebaran virus COVID-19 terutama B117 atau varian-varian lain termasuk yang melakukan koalisi (hibrida)," tutupnya.

https://cinemamovie28.com/movies/the-model/


3 Penyakit Ini Paling Bikin Tekor BPJS Kesehatan


 Pasien dengan penyakit katastropik diproyeksikan sebagai prioritas dalam penanganan BPJS Kesehatan. Pasalnya, penyakit seperti jantung koroner, gagal ginjal, dan kanker disebut mengkonsumsi dana paling besar.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof Ali Ghufron Mukti. Dirut baru yang akan menjabat pada periode 2021-2026 dan baru saja dilantik Presiden Joko Widodo pada 22 Februari 2021 ini menilai, penyakit katastropik tak hanya perlu diprioritaskan dalam hal penanganan, tapi juga promosi pencegahan.


Selain untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, juga menekan pengeluaran BPJS Kesehatan yang paling banyak teralokasi untuk pengobatan 3 jenis penyakit katastropik tersebut.


"Itu (penyakit katastropik) konsumsi dana BPJS besar. Tentu menjadi perhatian kita. Tapi kami ingin, promosi prevensi atau pencegahan, kemudian menjaga diri untuk sehat tidak jatuh sakit, itu yang utama. Kami akan tentu menekankan itu," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (3/3/2021).


Prof Ghufron menyebut, penyakit jantung koroner, gagal ginjal, dan kanker sejauh ini menjadi prioritas BPJS Kesehatan. Akan tetapi, hal ini masih perlu dikaji kembali untuk melihat metode penanganan dan pencegahan yang tepat lantaran pengobatannya memakan biaya yang besar.


"Tentu kita akan melihat, memetakan secara keseluruhan. Nanti kita lihat mana dan seperti apa kira-kita bottleneck penyakit yang prioritas. 3 penyakit itu penyakit yang paling mengkonsumsi dana BPJS," imbuhnya.


Ia menyebut, defisit BPJS Kesehatan hingga kini masih terjadi, tercatat mencapai Rp 7 triliun.

https://cinemamovie28.com/movies/the-hitmans-wifes-bodyguard/