India berhasil mencatatkan sejarah dengan melakukan vaksinasi Corona pada lebih dari satu juta penduduk dalam sehari. Negara ini memperluas upaya vaksinasi bagi kelompok tenaga kesehatan dan lansia di atas 60 serta mereka yang berusia di atas 45 tahun dengan komorbid.
Dikutip dari NDTV, otoritas India melonggarkan aturan bagi rumah sakit swasta untuk memvaksinasi sehingga makin banyak warganya yang bisa menerima vaksin COVID-19. Data per Kamis (4/3/2021), tercatat ada 1.093.000 orang yang divaksin dalam satu haru.
Secara total India sudah memvaksinasi 17,7 juta orang sejak memulai vaksinasi COVID-19 pada 16 Januari, jumlah yang besar untuk 1,5 bulan pelaksanaannya. Dengan pencapaian ini apa India mendekati herd immunity?
Studi yang dilakukan di beberapa kota India menunjukkan hampir setengah populasi di sana memiliki antibodi COVID-19. Tak sedikit peneliti yang memprediksi herd immunity atau kekebalan kelompok bisa tercapai di sana.
India merupakan salah satu negara dengan penduduk terbanyak di dunia. India memiliki penduduk sebanyak 1,3 miliar. Jika perhitungan herd immunity berarti memvaksinasi 70 persen penduduk, maka India harus menyuntik sekitar 950 juta warganya.
Saat ini baru 17,7 juta orang yang sudah divaksin Corona di India. Dengan target tersebut, masih butuh beberapa waktu lagi untuk mencapai kekebalan kelompok.
Organiasi Kesehatan Dunia (WHO) juga pernah menyinggung soal kekebalan kelompok yang mungkin sudah terbentuk di beberapa wilayah di India. Kepala ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan, menyarankan agar orang-orang jangan lengah kemudian melonggarkan protokol kesehatan. Meski herd immunity bisa segera tercapai, tetap ada kelompok berisiko yang rentan terhadap COVID-19.
"Kalau kita melihat di tempat tertentu, kota padat penduduk, memang ada kantong-kantong populasi yang 50-60 persen sudah terpapar oleh virus dan memiliki antibodi. Tapi bukan berarti seluruh kota, seluruh daerah, atau seluruh negara tersebut memiliki herd immunity," katanya.
https://movieon28.com/movies/the-way-back/
Ngeri! WHO Sebut Pandemi Corona Lebih Traumatis daripada Perang Dunia II
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pandemi COVID-19 dianggap menyebabkan trauma massal dalam skala yang lebih besar daripada Perang Dunia II. Dampaknya juga akan berlangsung selama bertahun-tahun yang akan datang.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom mengingatkan bukan tidak mungkin dampak dari pandemi Corona akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.
"Hampir seluruh dunia terpengaruh, setiap individu di permukaan dunia benar-benar terpengaruh. Dan itu berarti trauma massal, yang melebihi proporsi, bahkan lebih besar dari yang dialami dunia setelah Perang Dunia Kedua," ungkapnya dikutip dari CNBC International, Sabtu (6/3/2021).
Trauma massal akibat pandemi akan memengaruhi suatu komunitas selama bertahun-tahun yang akan datang. Tedros mengatakan, pandemi sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan mental manusia.
Pernyataan WHO ini adalah respons atas pertanyaan apakah negara-negara harus lebih mempertimbangkan dampak pandemi terhadap ekonomi dan kesehatan mental ke depannya. Tedros menekankan, kesehatan mental harus diutamakan.
"Jawabannya pasti, ya," kata Maria Van Kerkhove, Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis WHO, menambahkan pernyataan Tedros.
"Ada ragam dampak yang ditimbulkan pada individu, apakah Anda kehilangan orang yang dicintai, atau anggota keluarga atau teman terkena virus ini. Entah Anda kehilangan pekerjaan, anak-anak tidak bersekolah, orang terpaksa tinggal di rumah dalam situasi yang sulit," lanjutnya.
Dunia saat ini masih dalam fase akut dari pandemi terutama saat virus menyerang sebuah komunitas, dan menewaskan puluhan ribu orang setiap minggunya. Bagaimanapun, dampak kesehatan mental akan menjadi masalah besar dalam jangka panjang.