Selasa, 09 Maret 2021

Benarkah Pakai Masker Dobel Lebih Terlindung dari Virus Corona?

 Jakarta - Menggunakan masker dobel hanya menawarkan sedikit manfaat dalam mencegah penyebaran droplet yang mengandung virus Corona. Demikian sebuah studi lewat pemodelan menggunakan komputer super.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS pada Februari lalu merekomendasikan penggunaan masker dobel. Dalam perubahan terbaru rekomendasi penutup wajah yang dirilisnya, CDC menyarankan untuk menggunakan masker kain di atas masker sekali pakai.


Namun tampaknya, menurut hasil penelitian yang dilakukan di Jepang, manfaat serupa sudah bisa diperoleh hanya dengan menggunakan satu masker, dengan catatan penggunaannya benar.


Studi ini dilakukan oleh Riken Research Institute dan Universitas Kobe menggunakan Fugaku, komputer super tercepat di dunia yang dikembangkan bersama dengan Fujitsu Ltd.


Komputer super ini sebelumnya telah digunakan untuk mendemonstrasikan jenis masker apa yang bekerja paling baik, dan memodelkan manfaat ventilasi dalam mencegah penyebaran virus.


"Sementara banyak yang memperbarui rekomendasi penggunaan masker kain dan masker non kain secara dobel, tidak ada perbedaan besar jika dibandingkan dengan menggunakan masker non kain yang dipasang dengan benar," kata penelitian tersebut, dikutip dari Bloomberg.


Berdasarkan simulasi komputer, mengenakan satu masker sekali pakai yang dipasang dengan rapat, mencegah penyebaran partikel yang dapat membawa virus sebesar 85%. Sedangkan jika memakai dua masker, persentasenya naik menjadi 89%. Satu masker topeng yang dipasang dengan benar dan diganti secara teratur, menangkap 81% droplet, sedangkan satu masker yang dipasang longgar hanya menangkap 69%.


Meski demikian, penelitian tersebut memberi catatan bahwa pemasangan masker yang ketat sehingga tak ada celah pada masker sangat penting untuk mencegah penyebaran droplet. Panduan CDC mencatat, tujuannya digunakannya masker kedua adalah agar merekatkan tepian masker pertama ke wajah agar pas. Studi ini juga menyebutkan, mengenakan dua masker sekali pakai (non kain) tidak disarankan.

https://trimay98.com/movies/playtime/


aplikasi Canva yang sukses besar


Ada berkah di balik pandemi COVID-19, salah satunya adalah aplikasi Canva yang sukses besar dan semakin populer penggunaannya. Hasilnya pendiri dan juga CEO Melanie Perkins telah dinobatkan sebagai wanita terkaya ranking tiga di Australia.

Tak hanya itu, Perkins juga jadi miliarder (dalam dolar AS) termuda di Negeri Kanguru. Startup Canva yang ia kendalikan saat ini bernilai USD 8,77 miliar usai mendapatkan pendanaan terkini senilai USD 87 juta dari beberapa investor termasuk Blackbird Ventures dan Sequoia Capital.


Pada bulan Oktober 2019, kekayaan Perkins diestimasi USD 1,3 miliar. Nah saat ini, hartanya diestimasi melonjak sampai USD 2,5 miliar atau di kisaran Rp 35 triliun.


Dihimpun detikINET dari berbagai sumber, Sabtu (6/3/2021) Perkins memulai Canva pada tahun 2013 dengan misi membuat platform desain tersedia bagi semua. Baik itu desain kartu nama, presentasi ataupun logo. Ia mendirikannya bersama sang tunangan, Cliff Obrecht.


Perkins masih remaja 19 tahun ketika ide platform desain terbersit di benaknya, kala ia dan Cliff mahasiswa di Perth. Waktu itu, ia merasa program desain dari Microsoft atau Adobe susah digunakan.


"Orang harus menghabiskan seluruh semester mempelajari di mana tombol-tombolnya dan hal itu rasanya sungguh konyol," kata Perkins, dikutip detikINET dari CNBC.


"Saya pikir di masa depan, semua itu akan menjadi online dan kolaboratif serta jauh lebih sederhana ketimbang tool yang berat itu," tambah dia.


Tahun 2010, Perkins diundang ke San Francisco oleh investor Bill Tai untuk mempresentasikan idenya tentang Canva. Bill puas dan menghubungkannya dengan beberapa orang penting.


Pasangan muda itu berhasil memukau investor dengan ide Canva dan sudah punya tim sendiri. Tahun 2012, jajaran pimpinan ditambah oleh satu co founder lain, Cameron Adams.


Pada pendanaan tahap perdana, perusahaan menerima USD 1,5 juta. Pada tahun 2013, meluncurlah Canva untuk publik. Seiring berjalannya waktu, Canva berhasil menarik minat banyak pengguna karena mudah dipakai dan berkualitas, sampai sekarang.


Apakah detikers juga pengguna Canva?

https://trimay98.com/movies/paradox-3/


Ribuan Aplikasi Android dan iOS Ekspos Data Pengguna dari Cloud

 Jakarta - Ribuan aplikasi Android dan iOS ketahuan membocorkan data penting pengguna. Hal ini karena pengembang aplikasi menggunakan layanan cloud publik yang tidak diamankan dengan baik.

Perusahaan keamanan mobile Zimperium belum lama ini meneliti 1,3 juta aplikasi Android dan iOS untuk mendeteksi kesalahan konfigurasi cloud yang rawan mengekspos data pengguna.


Dari hasil penelitian ini ditemukan hampir 84.000 aplikasi Android dan 47.000 aplikasi iOS menggunakan layanan cloud publik, seperti Amazon Web Services, Google Cloud atau Microsoft Azure, ketimbang menggunakan servernya sendiri.


Dari ratusan ribu aplikasi tersebut, peneliti menemukan 14% dari total aplikasi (11.877 aplikasi Android dan 6.608 aplikasi iOS) mengekspos informasi pribadi, password hingga informasi kesehatan pengguna.


"Ini adalah tren yang mengkhawatirkan," kata CEO Zimperium Shridhar Mittal, seperti dikutip dari Wired, Sabtu (6/3/2021).

https://trimay98.com/movies/paradox-2/


"Banyak dari aplikasi ini memiliki penyimpanan cloud yang tidak dikonfigurasi dengan benar oleh developer atau siapapun yang mengaturnya dan, karena itu, data bisa dilihat oleh siapa saja. Dan sebagian besar dari kita memiliki aplikasi-aplikasi itu sekarang," imbuhnya.


Peneliti Zimperium mencoba menghubungi sejumlah developer aplikasi yang cloud-nya terekspos, tapi mereka mengatakan hanya menerima sedikit respons dan banyak aplikasi yang masih membocorkan data.


Mittal mengatakan Zimperium juga tidak bisa menghubungi puluhan ribu developer aplikasi. Ini adalah alasan mengapa Zimperium tidak merilis nama-nama aplikasi yang terdampak dalam laporannya.


Aplikasi yang ketahuan mengekspos data pengguna bervariasi, ada yang hanya memiliki ribuan pengguna hingga jutaan. Salah satu aplikasi yang terdampak adalah aplikasi dompet digital dari perusahaan Fortune 500 yang mengekspos informasi sesi pengguna dan data keuangan.


Ada juga aplikasi transportasi di sebuah kota besar yang mengekspos data pembayaran. Bahkan peneliti menemukan aplikasi kesehatan yang membocorkan hasil tes dan foto profil pengguna.


Karena temuan ini melibatkan hampir 20.000 aplikasi, Zimperium tidak mencoba mencari tahu apakah hacker pernah menemukan dan menyalahgunakan celah ini. Beberapa kelompok hacker diketahui sering mencari kesalahan konfigurasi di cloud publik.


Mittal menjabarkan bahwa, selain data sensitif pengguna, Zimperium menemukan kredensial jaringan, data konfigurasi sistem, dan kunci arsitektur server di beberapa aplikasi yang bisa digunakan hacker untuk mengakses sistem organisasi dengan lebih dalam.


Tidak hanya itu, peneliti menemukan beberapa kesalahan konfigurasi memungkinkan pihak tidak bertanggung jawab untuk mengubah atau menimpa data yang berpotensi menimbulkan penipuan dan gangguan lainnya.


Meski penyedia layanan cloud sudah memiliki tools untuk mendeteksi kesalahan konfigurasi, tanggung jawab utama untuk mengamankan data pengguna jatuh di tangan developer. Sayangnya kebanyakan pengguna tidak menyadari bahwa data mereka bisa terekspos oleh aplikasi yang mereka percayai.


Mittal berharap laporan ini bisa membantu lebih banyak developer aplikasi agar lebih memperhatikan infrastruktur mereka dan mengatur konfigurasi cloud dengan lebih hati-hati.

https://trimay98.com/movies/paradox/