Rabu, 10 Maret 2021

Gaet WhatsApp, Kemenkes Buat Chatbot Pendaftaran Vaksinasi COVID-19

 Kementerian Kesehatan menjalin kerja sama dengan platform chatting, WhatsApp dalam rangka penyebaran informasi vaksinasi COVID-19. Salah satu hasil dari kerja sama ini, yaitu dibukanya chatbot resmi Kemenkes untuk pendaftaran vaksinasi COVID-19.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan drg. Oscar Primadi mengatakan untuk mendukung tercapainya target vaksinasi nasional, diperlukan penyebaran informasi yang efektif kepada seluruh masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, Kemenkes menggandeng WhatsApp yang merupakan anak perusahaan dari pengelola media sosial terbesar Facebook untuk menjadi platform penyebaran informasi COVID-19.


"Berkenaan dengan dukungan pemberian informasi vaksinasi ini, Facebook sebagai entitas pengelolaan media sosial besar di dunia menawarkan kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, untuk memberikan pembebasan biaya pesan terstruktur yang dikirim oleh Kemenkes kepada seluruh sasaran penerima vaksin," ujar Oscar dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (9/3/2021).


Oscar menegaskan dalam berjalannya kerja sama penyebaran informasi ini, Facebook menjamin perlindungan privasi pengguna sesuai peraturan yang berlaku. Adapun informasi yang dikirimkan selaras dengan sistem informasi satu data vaksinasi COVID-19.

https://kamumovie28.com/movies/madame-aema-2016/


"Dan dalam implementasinya tentu memperhatikan dan menjamin perlindungan data pribadi yang sesuai dengan kaidah dan peraturan perundang-undangan," tegas Oscar.


Chatbot resmi Kemenkes dibuat untuk mempermudah masyarakat melakukan registrasi, validasi, dan pendataan vaksinasi COVID-19. Melalui chatbot ini juga, penerima vaksin dapat mengetahui informasi lanjutan pemberian vaksin untuk mereka.


"Chatbot vaksinasi Kementerian Kesehatan (RI) adalah yang pertama di dunia, dan ini merupakan cara yang paling tepat bagi orang-orang untuk mendaftar dan mengatur vaksinasi mereka. Ini merupakan program pendaftaran program vaksinasi yang penting di masa pandemi. Menjadi acuan bagi negara lain yang kini juga membuat chatbot serupa," ungkap Vice president Public Policy and Communication WhatsApp Victoria Grand.


"Dan kami mengumumkan hari ini WhatsApp akan menghapus seluruh biaya untuk semua notifikasi vaksinasi untuk mendukung target vaksinasi pemerintah Indonesia," imbuh Victoria.


Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia Ruben Hattari menambahkan, untuk mendukung jalannya kerja sama penyebaran informasi vaksinasi COVID-19, pihaknya memberikan pembebasan biaya untuk beriklan di WhatsApp kepada Kemenkes.


"Kami menyalurkan kredit untuk beriklan di platform kami, untuk memastikan sosialisasi dan program sosialisasi untuk chatbot ini bisa berjalan dengan sempurna," ungkap Ruben.


Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan pemberdayaan internet of things (IoT) akan memperkuat Kementerian Kesehatan dalam menjalankan berbagai tugasnya untuk masyarakat. Ia turut mengapresiasi Facebook dan WhatsApp yang mendukung pemerintah dalam upaya penanganan COVID-19, khususnya dalam menyebarkan informasi positif dan akurat kepada masyarakat.


"Mudah-mudahan ini akan memberikan dampak positif kepada kita semua supaya kita semua bisa melakukan akselerasi yang lebih cepat lagi terutama dalam mengatasi pandemi yang sekarang sedang berjalan. Apa yang teman-teman nanti akan lakukan dari WhatsApp dan Facebook akan sangat membantu diseminasi pesan-pesan yang positif kepada masyarakat," urai Dante.

https://kamumovie28.com/movies/my-love-my-bride-2/

Di Indonesia, 63,5 Persen Pasien Corona yang Sembuh Alami Long COVID

 - Infeksi COVID-19 menyebabkan dampak yang berbeda bagi setiap pasiennya. Ada yang hanya mengalami gejala ringan, tanpa gejala, tapi tak sedikit juga yang mengeluhkan gejalanya tak kunjung membaik selama berbulan-bulan.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Persahabatan dengan menyurvei 463 orang pada bulan Desember 2020 hingga Januari 2021, menemukan cukup banyak pasien Corona yang mengalami long COVID-19.


"Hasil awal penelitian kami menunjukkan bahwa sebanyak 63,5 persen dari seluruh populasi yang kita survei ternyata memiliki gejala yang menetap atau long COVID." kata dr Agus Dwi Susanto, SpP, spesialis paru sekaligus Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, saat berbincang dengan ABC Indonesia.


Penelitian yang dilakukan oleh dr Agus bersama rekannya menemukan dari persentase tersebut, gejalanya cukup bervariasi dari kelelahan, sakit kepala, sesak napas, sampai mual-muntah. Kondisi ini tentu berpengaruh pada aktivitas sehari-hari pasien.


"Jadi ... infeksinya mungkin sudah sembuh, tapi secara fungsional, kapabilitasnya, mereka belum sembuh," terangnya.


Sejauh ini, penelitian terkait perbedaan gejala umum dan long COVID, serta lama gejala bisa bertahan masih sangat terbatas. Studi saat ini masih berfokus pada pasien COVID-19 yang memiliki gejala parah.


Bisakah kembali normal?

Long COVID sendiri menjadi masalah baru yang juga terjadi di seluruh dunia akibat pandemi. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi banyak pihak.


dr Agus sendiri optimis pasien long COVID bisa kembali normal, meski mungkin butuh waktu dan penyembuhan yang tidak sebentar. Seperti yang dialami pasiennya yang kala itu nilai fungsi parunya hanya sekitar 48 persen pasca sembuh.


Namun setelah menjalani pengobatan selama dua bulan, CT scan dan spirometri menunjukkan nilai kapasitas parunya bisa mencapai 78,9 persen, mendekati nilai normal 80 persen.


"Saya enggak jamin total, tapi saya punya record seperti itu. Dan menurut penelitian lain, sekitar 20 persen tidak bisa dikembalikan kondisinya sementara 80 persen lainnya bisa. Tapi sayangnya memang kita belum punya data di Indonesia," pungkasnya.

https://kamumovie28.com/movies/my-love-my-bride/


Gaet WhatsApp, Kemenkes Buat Chatbot Pendaftaran Vaksinasi COVID-19


Kementerian Kesehatan menjalin kerja sama dengan platform chatting, WhatsApp dalam rangka penyebaran informasi vaksinasi COVID-19. Salah satu hasil dari kerja sama ini, yaitu dibukanya chatbot resmi Kemenkes untuk pendaftaran vaksinasi COVID-19.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan drg. Oscar Primadi mengatakan untuk mendukung tercapainya target vaksinasi nasional, diperlukan penyebaran informasi yang efektif kepada seluruh masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, Kemenkes menggandeng WhatsApp yang merupakan anak perusahaan dari pengelola media sosial terbesar Facebook untuk menjadi platform penyebaran informasi COVID-19.


"Berkenaan dengan dukungan pemberian informasi vaksinasi ini, Facebook sebagai entitas pengelolaan media sosial besar di dunia menawarkan kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, untuk memberikan pembebasan biaya pesan terstruktur yang dikirim oleh Kemenkes kepada seluruh sasaran penerima vaksin," ujar Oscar dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (9/3/2021).

https://kamumovie28.com/movies/operation-chromite/