Senin, 31 Mei 2021

Diam-diam RI Punya 4 Varian Lokal Virus Corona, 2 Sudah Akan Musnah

 Meski tidak termasuk variant of concern (VoC) yang diwaspadai secara khusus, ada beberapa varian virus Corona di Indonesia yang tidak ditemukan di tempat lain. Ilmuwan menyebutnya varian lokal.

"Kenapa saya sebut lokal, karena varian ini nggak ditemukan banyak di tempat lain," kata peneliti genomik molekuler dan anggota Konsorsium COVID-19 Genomics UK Riza Arief Putranto, dalam diskusi baru-baru ini.


Riza menyebut ada 4 varian 'lokal' yang ditemukan sejauh ini. Dua di antaranya memiliki kode B14662 dan B1470. Varian B1470 diperkirakan menyebar sejak April 2020 dengan prevalensi 16-40 persen.


"Dua varian lainnya sepertinya sebentar lagi musnah," jelasnya.


Menurut Riza, varian B14662 dam B1470 sebenarnya ditemukan juga di 15 negara. Namun jumlah kasusnya cenderung lebih sedikit.


"Di negara lain ditemukan sedikit sekali prevalensinya, di bawah 0,5 dan 0,1 persen, dan kenapa disebut lokal Indonesia ya karena munculnya di sini, secara karakteristiknya mutasinya juga tidak ditemukan di negara lain," paparnya.


Sejauh ini, organisasi kesehatan dunia menyebut ada 4 varian virus Corona yang dikategorikan variant of concern. Keempatnya adalah:


B117 (varian Inggris)

B1351 (varian Afrika Selatan)

B1617 (varian India)

P1 (varian Brazil)

Tiga di antara keempat varian yang diwaspadai tersebut sudah ditemukan di Indonesia. Berikut sebarannya.


Palembang, Sumatera Selatan: 1 kasus B117, 2 kasus B1617

Prabumulih, Sumatera Selatan: 1 kasus B1617

Panukali Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan: 1 kasus B1617

Tapin, Kalimantan Selatan: 1 kasus B117

Medan, Sumatera Utara: 1 kasus B117

Tanjung Balai, Sumatera Utara: 1 kasus B117

Karawang, Jawa Barat: 2 kasus B117

Denpasar, Bali: 1 kasus B117

Badung, Bali: 1 kasus B1351

DKI Jakarta: 2 kasus B1351, 1 kasus B1617

Gunung Mas, Kalimantan Tengah: 1 kasus B1617

Palangkaraya, Kalimantan Tengah: 2 kasus B1617

https://tendabiru21.net/movies/everlasting-love/


Update Corona RI 30 Mei: Tambah 6.115 Kasus Baru, Kasus Aktif 101.639


 Jumlah kasus virus Corona COVID-19 bertambah 6.115 kasus pada Minggu (30/5/2021). Total kasus positif sebanyak 1.816.041, sembuh 1.663.998, meninggal 50.404 kasus.

Kasus aktif tercatat sebanyak 101.639, jumlah spesimen yang diperiksa 71.017, dan suspek sebanyak 105.518 orang.


Detail penambahan kasus COVID-19 adalah sebagai berikut.


Kasus positif bertambah 6.115 menjadi 1.816.041

Pasien sembuh bertambah 4.024 menjadi 1.663.998

Pasien meninggal bertambah 142 menjadi 50.404

Sebelumnya, pada Sabtu (29/5/2021), tercatat total sebanyak 1.809.926 kasus positif virus Corona COVID-19, 1.659.974 pasien sembuh, dan 50.262 kasus meninggal dunia.


DKI-Jateng Terbanyak, Ini Sebaran 6.115 Kasus Baru COVID-19 RI 30 Mei


DKI Jakarta 1.064 kasus baru COVID-19, Minggu (30/5/2021). Total ada penambahan sebanyak 6.115 kasus baru di Indonesia, menjadi 1.816.041 kasus.

Jumlah kasus aktif meningkat 1.949 menjadi 101.639, dengan jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 71.017. Suspek yang diamati pada hari ini tercatat 105.518 orang.


Detail penambahan kasus COVID-19, Minggu (30/5/2021) adalah sebagai berikut.


Kasus positif bertambah 6.115 menjadi 1.816.041

Pasien sembuh bertambah 4.024 menjadi 1.663.998

Pasien meninggal bertambah 142 menjadi 50.404

Detail penambahan kasus COVID-19 adalah sebagai berikut.


DKI 1.064

Jateng 1.007

Riau 726

Jawa Barat 639

Kepulauan Riau 294

Aceh 270

Sumatera Barat 269

Bangka Belitung 245

Jawa Timur 217

DIY 176

Kalimantan Timur 140

Kalimantan Barat 133

Sumatera Selatan 122

Kalimantan Tengah 111

Jambi 90

Lampung 89

NTB 76

Kalimantan Selatan 74

Sumatera Utara 72

Bengkulu 70

Sulawesi Selatan 61

Banten 46

Bali 42

NTT 25

Maluku Utara 16

Sulawesi Tengah 14

Gorontalo 11

Sulawesi Tenggara 7

Sulawesi Utara 4

Kalimantan Utara 3

Papua Barat 2

Sulawesi Barat 0

Maluku 0

Papua 0

https://tendabiru21.net/movies/i-do/

Terpopuler: Makna 'Heart Rate 180' di Balik Meninggalnya Pesepeda Road Bike

 Uji coba JLNT (Jalan Layan Non Tol) Kampung Melayu - Tanah Abang untuk road bike pekan lalu memakan korban. Seorang pesepeda 62 tahun kolaps dan meninggal dunia, Minggu (23/5/2021).

Dugaan mengalami serangan jantung mencuat terkait adanya riwayat operasi jantung sebelumnya. Selain itu, data Garmin menunjukkan denyut jantung yang relatif tinggi, mengindikasikan intensitas gowes yang melelahkan.

https://tendabiru21.net/movies/working-class/


Beberapa fakta seputar risiko meninggal saat bersepeda maupun olahraga pada umumnya terangkum sebagai berikut.


1. Diduga serangan jantung

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan DKI Jakarta Rudy Saptari ketika itu menyinggung dugaan bahwa pesepeda tersebut kelelahan. Ini ditunjukkan oleh rekaman denyut jantung atau hart rate di perangkat yang digunakan.


"Dari dokter diduga kecapaian karena dilihat dari Garmin-nya itu yang di pencetan sepeda itu detak jantung almarhum tinggi, 180. Kalau kita orang normal 75 kan, 100 aja udah deg-degan beliau 180 mungkin kecapekan kemudian ada riwayat jantung," jelas Rudy, Minggu (23/5/2021).


Adanya riwayat pemasangan ring jantung memperkuat dugaan serangan jantung.


2. Denyut jantung 180

Denyut jantung merupakan indikator penting yang menunjukkan intensitas berolahraga. Olahraga untuk kebugaran umumnya dilakukan pada training zone yakni 50-70 persen dari denyut maksimal. Denyut maksimal atau Heart Rate (HR) maximum dihitung dengan rumus 220 dikurangi usia (dalam tahun).


"Heart rate maksimal itu adalah 220 dikurangi usia. Kalau orang ini usianya 60 tahun, berarti 220 dikurangi 60. Maka 160 itu 100 persennya dia," terang dr Michael saat diwawancara detikcom, Minggu (23/5/2021).


"Kalau untuk tujuan kesehatan, maksimalnya berapa denyutnya? 220 Dikurangi usia. Nah, training zone-nya untuk mencapai tingkat kesehatan yang lebih baik itu 50-70 persen saja," jelas dr Michael.


Dokter jantung menyebut kolaps saat olahraga tidak selalu karena heart rate tinggi. Selengkapnya di halaman berikut.


3. Kolaps saat olahraga tak selalu karena heart rate tinggi

Sementara itu, dokter jantung dari RS Siloam Lippo Karawaci dr Vito A Damay menjelaskan bahwa denyut jantung akan meningkat ketika seseorang beraktivitas. Namun sampai batas tertentu, denyut jantung tinggi tidak selalu menjadi penyebab serangan jantung.


"Bukan karena kelelahan atau karena kelebihan heart rate. Sebenarnya intinya adalah seorang yang dalam kondisi baik atau sehat dia boleh saja sih berlatih sampai 70 persen dari perhitungan heart rate aman," kata dr Vito, sembari menekankan perhitungan heart rate tetap perlu diperhatikan.


Menurut dr Vito, penyebab utama kolaps saat olahraga biasanya adalah kondisi jantung yang tidak diketahui sebelumnya. Karenanya, ia mengingatkan pentingnya check up rutin.


dr Vito menjelaskan memasang ring jantung justru memperbaiki sirkulasi darah jantung. Pasien dengan riwayat memasang ring jantung dalam kondisi stabil boleh-boleh saja berolahraga seperti biasa termasuk gowes.

https://tendabiru21.net/movies/the-seven-angels/