Jumat, 18 Juni 2021

Penasaran Cara Mendapatkan Vaksin COVID Gratis? Ya Memang Gratis Kok

 Seiring vaksinasi untuk tenaga kesehatan, petugas publik, dan lansia di seluruh wilayah RI, pemerintah mulai memberikan vaksin untuk usia 18 tahun ke atas. Terkait pertanyaan publik seputar cara mendapatkan vaksin COVID gratis, Kementerian Kesehatan menegaskan, pemberian vaksin termasuk dalam program gotong royong memang sama sekali tidak boleh dikenakan biaya.

"Vaksin ini harus diberikan secara gratis baik dari pemerintah maupun vaksinasi Gotong Royong. Kalau kemudian nanti sudah ditegaskan betul-betul tidak ada pembebanan atau apa pun, termasuk pengurangan benefit dari pekerja akibat proses vaksinasi, ini sudah suatu ketegasan," terang juru bicara vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi dalam diskusi daring, Rabu (16/6/2021).


Menurutnya, kini vaksinasi untuk 18 tahun ke atas memang baru dilakukan di DKI Jakarta dan sekitarnya. Sesuai rencana, vaksinasi untuk 18 tahun ke atas di wilayah-wilayah lainnya akan berlangsung per Juli 2021.


"Sekarang perluasan vaksinasi di semua provinsi pada usia di atas 50 tahun, kemudian di Juli akan kita lakukan perluasan sampai dengan di atas 18 tahun sesuai rencana," lanjut dr Nadia.


Bagaimana cara mendapatkan vaksin covid gratis?


Dalam sejumlah informasi beredar di media sosial, disebutkan bahwa vaksinasi untuk usia 18 tahun ke atas di sejumlah titik DKI Jakarta hanya memerlukan berkas KTP atau E-KTP.


Namun jika ingin mendaftar via aplikasi, bisa menggunakan aplikasi JAKI. Berikut langkah-langkahnya, mengacu pada laman resmi Twitter Jakarta Smart City (@JSCLab) untuk 18 tahun ke atas:


Mengunduh aplikasi JAKI di smartphone masing-masing

Klik banner 'Daftar vaksinasi' pada halaman utama

Isi nama lengkap dan NIK

Isi data yang diminta secara lengkap

Pilih jadwal dan tempat vaksinasi yang diinginkan

Lakukan pre-screening terlebih dahulu

Tahap pendaftaran vaksin selesai.

Namun jika ingin mendapatkan vaksin COVID-19 di DKI Jakarta tanpa mengunduh aplikasi, berikut cara mendapatkan vaksin COVID gratis melalui website corona.jakarta.go.id:


Akses website corona.jakarta.go.id

Klik 'vaksinasi' yang terdapat di menu website

Kemudian klik 'daftar vaksinasi' dan akan muncul kolom pengisian data.

Masukkan nomor NIK dan nama lengkap untuk pengecekan jadwal vaksinasi. Setelah itu pilih Periksa.

Jika tertera tulisan belum terdaftar, silakan klik daftar.

Kemudian isi dan lengkapi data diri mulai tanggal lahir, alamat tinggal, pilihan lokasi vaksin, sampai dengan kategori.

Setelah selesai, maka jadwal vaksinasi dapat dilihat, dan jangan lupa isi data pre-screening untuk membantu kelancaran di tempat vaksinasi.

https://cinemamovie28.com/movies/the-couples-of-boulogne/


Kapan Waktu Paling Baik untuk Berjemur? Ini Jawaban Dokter


Sampai sekarang, masih banyak yang cekcok soal waktu paling tepat untuk berjemur. Ada yang bilang paling bagus setelah pukul 10 pagi, ada juga yang bilang paling bagus pukul 8 pagi. Padahal alih-alih dapat manfaat sinar matahari, salah pilih waktu berjemur malah bisa berdampak buruk.

Dokter spesialis kulit dan staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNPAD/RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr R.M. Rendy Ariezal Effendi, SpDV, menjelaskan berjemur bisa membantu tubuh mendapatkan vitamin D yang baik untuk daya tahan tubuh.


"Kalau tujuannya untuk mendapatkan vitamin D, anjuran berjemur di atas jam 10 bisa saja dilakukan. Tapi dari sisi kesehatan kulit, ada risikonya," kata dr Rendy pada detikcom.


Paparan matahari di atas pukul 10 pagi memang paling efektif memberikan ultraviolet B (UVB) untuk meningkatkan vitamin D dalam tubuh. Namun, UV Index (UVI) pada sinar matahari di waktu tersebut sudah amat tinggi, sehingga bisa menimbulkan kerusakan, terlebih jika kulit tidak diproteksi dengan sunblock lebih dulu.


"Risikonya antara lain bisa flek atau tanning kalau tanpa pelindung seperti sunblock," jelas dr Rendy.

https://cinemamovie28.com/movies/sexy-boom/

Rabu, 16 Juni 2021

Separuhnya dari Jabar-DKI, Ini Sebaran 9.944 Kasus Baru COVID-19 RI 16 Juni

 Indonesia mencatat penambahan 9.944 kasus baru COVID-19, Rabu (16/6/2021). Total kasus positif saat ini sebanyak 1.937.652.

Provinsi Jawa Barat mencatat penambahan kasus terbanyak dengan jumlah 2.599 kasus. Di bawahnya, terdapat DKI Jakarta dengan 2.376 kasus dan Jawa Tengah dengan 1.251 kasus.


Berikut detail perkembangan virus Corona di RI per Rabu (16/6/2021):


Kasus positif bertambah 9.944 menjadi 1.937.652

Pasien sembuh bertambah 6.229 menjadi 1.763.870

Pasien meninggal bertambah 196 menjadi 53.476

Tercatat sebanyak 92.682 spesimen diperiksa hari ini di seluruh Indonesia, sedangkan jumlah suspek sebanyak 110.660.


Sebaran 9.944 kasus baru COVID-19 di Indonesia pada Rabu (16/6/2021):


Jawa Barat: 2.599 kasus

DKI Jakarta: 2.376 kasus

Jawa Tengah: 1.251 kasus

Jawa Timur: 702 kasus

DI Yogyakarta: 534 kasus

Kepulauan Riau: 351 kasus

Riau: 326 kasus

Sumatera Barat: 214 kasus

Banten: 157 kasus

Kalimantan Timur: 145 kasus

Sumatera Selatan: 138 kasus

Sumatera Utara: 136 kasus

Aceh: 133 kasus

Jambi: 124 kasus

Kalimantan Barat: 121 kasus

Kalimantan Tengah: 94 kasus

Bangka Belitung: 91 kasus

Bali: 67 kasus

Lampung: 62 kasus

Kalimantan Selatan: 57 kasus

Bengkulu: 49 kasus

Nusa Tenggara Timur: 47 kasus

Maluku: 43 kasus

Sulawesi Selatan: 32 kasus

Papua Barat: 30 kasus

Kalimantan Utara: 17 kasus

Sulawesi Tengah: 16 kasus

Sulawesi Tenggara: 11 kasus

Maluku Utara: 8 kasus

Nusa Tenggara Barat: 5 kasus

Papua: 4 kasus

Gorontalo: 2 kasus

Sulawesi Barat: 2 kasus

Sulawesi Utara: 0 kasus

https://nonton08.com/movies/born-a-champion/


Ngotot Ingin Uji Klinis Fase 3, Vaksin Nusantara 'Nggak Butuh' Anggaran Negara


 Vaksin Nusantara besutan eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto ditetapkan dalam Mou Nota Kesepahaman bersama Kemenkes, BPOM, dan TNI AD hanya sebagai riset saja. Artinya, tak akan digunakan untuk vaksinasi Corona program pemerintah maupun mandiri.

Namun, Terawan kini mendesak political will dari pemerintah untuk menyetujui vaksin COVID-19 berbasis dendritik tersebut. Ia juga menyebut tak butuh anggaran negara untuk menyokong pengembangan vaksin Nusantara.


"Kalau masalah anggaran jujur saya tidak perlu anggaran karena saya lihat komisi VII aja Sudah pada mau urunan," kata dia dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI Rabu (16/6/2021).


"Saya nggak butuh anggaran dari negara yang saya butuhkan adalah good political will. Apa yang mau dilakukan, wong nggak keluar anggaran kok masa mau dihalangi untuk apa," tanya Terawan.


Terawan juga mengklaim vaksin Nusantara aman digunakan bahkan bisa mengatasi munculnya varian baru Corona. Penetapan MoU sebelumnya dinilai Terawan menghalangi kemerdekaan riset dan ia mendesak Komisi VII bisa membantu para peneliti melanjutkan uji vaksin Nusantara ke tahap ketiga.


"(Penerapan MoU) agak menggelitik di hati saya dari sanubari saya," jelas Terawan.


"Kecuali vaksin ini menimbulkan kematian, penderitaan, dan sebagainya. Saya sendiri sudah merasakan dan anak istri saya, artinya saya sudah siap melakukannya dan saya sudah tau yakin," sambungnya.


"Kalau pak Adrian ikut kan itu saya anggap orang lain tapi istri itu kan bagian dari hidup saya, anak bagian dari hidup saya, itu menurut saya sebuah hal keyakinan vaksin itu aman," lanjut Terawan.


Terawan pun menjelaskan imunitas pasca divaksin Corona Nusantara selama tiga bulan terpantau masih tinggi. Ia juga meyakini hal tersebut bertahan dalam enam bulan ke depan, sekaligus optimis bisa mengakhiri pandemi COVID-19.


"Sekali lagi kami butuh dukungan bolehlah untuk uji klinis karena itu bagian dari kemerdekaan riset, kalau itu saja dilarang, ya izin, saya tidak tahu harus berkata apa," tutupnya.

https://nonton08.com/movies/american-fighter/