Jumat, 18 Juni 2021

Fenomena Gen Z Beralih ke HP Jadul Demi Kesehatan Mental

  Gen Z dikenal sebagai generasi yang tidak bisa lepas dari smartphone. Tapi sekarang justru banyak Gen Z yang meninggalkan smartphone dan beralih ke HP jadul alias feature phone untuk menjaga kesehatan mentalnya.

Seperti kisah Eden yang berusia 22 tahun. Kepada Huck Magazine ia mengatakan smartphone-nya sempat rusak pada awal tahun 2020. Karena kesal waktunya banyak dihabiskan di depan smartphone, ia memutuskan untuk tidak membeli smartphone baru selama sebulan.


"Dalam periode ini, saya memperhatikan peningkatan besar-besaran dalam suasana hati dan kebebasan saya untuk berpikir," kata Eden seperti dikutip dari Phone Arena, Rabu (19/5/2021).


Eden mengaku kesulitan menghubungi orang terdekatnya karena keputusannya ini. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli ponsel lagi, bukan smartphone canggih melainkan ponsel lama Nokia 130.


Eden mengatakan setelah smartphone-nya rusak ia merasa kesehatan mentalnya semakin membaik. Ia juga menyadari menggunakan feature phone seperti Nokia 130 membuatnya jadi lebih hemat karena hanya digunakan untuk mengirim SMS dan menelepon.


Selain Eden ada juga Jade yang ceritanya cukup unik. Perempuan berusia 23 tahun ini sudah lama berniat untuk beralih ke feature phone setelah membaca manga dari tahun 2000-an di mana semua karakternya menggunakan flip phone. Ia awalnya menggunakan ponsel Nokia tapi kemudian beralih ke Motorola Razr V3.


"Saya masih memiliki iPhone XR, tapi hanya digunakan jika benar-benar butuh. Saya sekarang sudah menjual iPhone-nya, jadi secara teknis saya sekarang 100% bebas smartphone," kata Jade.


Cerita serupa datang dari Mateo yang berusia 23 tahun. Sama seperti Gen Z lainnya, ia lebih sering menggunakan feature phone tapi tetap menyimpan smartphone untuk fungsi tertentu seperti WhatsApp dan membaca berita.


Mateo mengatakan setelah lebih sering menggunakan feature phone ketimbang smartphone, ia mengaku tidak lagi terdistraksi dan bisa berpikir dengan lebih tenang.


Gen Z dilaporkan memiliki rata-rata screen time sebanyak 29 jam dan 29 menit dalam seminggu. 48% Dari mereka juga mengaku sedih, cemas dan depresi saat menggunakan media sosial.


Associate Professor di Nottingham Trent University Dr. Daria Kuss mengatakan beralih dari smartphone ke feature phone memang bisa meningkatkan kesehatan mental pengguna.


"HP jadul memiliki fungsi yang lebih sedikit dibandingkan smartphone dan hanya akan melibatkan pengguna untuk periode waktu yang terbatas, terutama untuk tugas-tugas seperti membuat panggilan telepon dan menulis pesan sederhana," kata Kuss.


"Ini membebaskan banyak waktu untuk dihabiskan bersama keluarga dan teman, dan terlibat dalam aktivitas rekreasi, yang meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan," sambungnya.

https://cinemamovie28.com/movies/code-name-jackal/


WFH Bikin Cemas Setiap Lihat WhatsApp, Kamu Juga?


 Bagi sebagian orang, bekerja dari rumah (WFH) terasa menyenangkan karena tidak perlu ke mana-mana menerjang kemacetan. Tapi WFH juga memunculkan masalah kesehatan mental, salah satunya WhatsApp anxiety atau rasa cemas setiap kali melihat notifikasi WhatsApp.

Dikutip dari Huffington Post, Rabu (19/5/2021) beberapa orang menganggap interaksi kecil tapi teratur lewat chat bisa mengusir rasa bosan dan cemas karena isolasi. Tapi bagi orang lain, terus menerus mendapatkan pesan, akan memiliki efek berlawanan.


Notifikasi pesan terkait pekerjaan sudah jelas meminta segera direspons. Namun selain itu, bertebaran pula berita dan update informasi terkait COVID-19, belum lagi penyebaran hoax, semakin menambah perasaan cemas.


"Jika kalian menerima konten yang tidak diharapkan atau tidak diinginkan, hal itu membangkitkan rasa ketidakberdayaan yang sedang kita coba hindari," kata psikoterapis Lucy Beresford.


WhatsApp memang membuat komunikasi dengan siapa saja menjadi lebih cepat dan mudah, apalagi di masa pandemi seperti sekarang. Namun, dalam konteks pekerjaan, WhatsApp bisa menjadi momok menakutkan.


Jika smartphone berbunyi pada malam hari, lalu kalian melihat ada pesan yang masuk dari rekan kerja atau grup WhatsApp kantor, kalian bisa merasa was-was dan memikirkan ada hal penting apa yang terjadi di kantor.

https://cinemamovie28.com/movies/zombie/

RI Diprediksi Kolaps, Pakar Kesehatan Sarankan 5 Hal Ini

 - COVID-19 di Indonesia diprediksi akan terus melonjak dalam beberapa pekan ke depan. Hal ini dapat terjadi apabila penanganannya tak segera diperbaiki secara tepat dan ketat.

Pada Kamis (17/6/2021), Indonesia melaporkan 12.624 kasus baru Corona. Ini merupakan angka tertinggi semenjak 7 Februari lalu, di mana terakhir kali Indonesia mencatatkan penambahan kasus di atas 10.000 kasus.

https://cinemamovie28.com/movies/z-o-m-b-i-e-s/


Menurut Eks Direktur WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama, pemerintah Indonesia harus segera bergerak cepat dalam mengatasi lonjakan kasus Corona ini. Jangan sampai prediksi Indonesia akan kolaps karena COVID-19 benar-benar terjadi.


"Kemarin ada 12.624 kasus baru COVID-19, padahal baru tanggal 17 dan Kementerian Kesehatan memperkirakan puncak kasus akan terjadi akhir Juni, sulit dibayangkan bagaimana suasana pada akhir bulan ini kalau kasus terus naik," kata Prof Tjandra melalui pesan singkat yang diterima detikcom, Jumat (18/6/2021).


Dijelaskan oleh Prof Tjandra, berikut sejumlah langkah yang harus dilakukan pemerintah dalam mengatasi lonjakan COVID-19.


1. Perketat pembatasan sosial

Prof Tjandra menegaskan pembatasan sosial merupakan suatu hal yang mutlak harus dilakukan saat ini. Menurutnya, program penanganan COVID-19 yang ada saat ini belum cukup untuk mengatasi lonjakan kasus, sehingga harus ada peningkatan pembatasan sosial secara nyata dan jelas.


"Pembatasan sosial dapat saja hanya amat terbatas, atau sedikit lebih luas, atau memang luas sampai kepada lockdown total," ujarnya.


2. Tingkatkan testing dan tracing

Prof Tjandra mengatakan testing dan tracing kasus Corona harus dilakukan secara maksimal dan juga merata di seluruh wilayah Indonesia.


"Kedua hal ini angka indikator targetnya jelas, hanya tinggal dipastikan pelaksanaannya di semua kabupaten-kota secara merata dengan komitmen yang jelas," ucapnya.


3. Perbaiki fasyankes

Dalam menghadapi lonjakan COVID-19, pemerintah perlu memperbaiki kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut Prof Tjandra, yang disiapkan itu bukan hanya tempat tidur di ruang isolasi dan ICU, atau alat dan obat-obatan, namun yang paling penting adalah sumber daya manusianya (SDM).


"SDM petugas kesehatan yang harus terjamin bekerja secara aman. Tidaklah tepat kalau hanya menambah ruang rawat tanpa diiringi penambahan petugas kesehatan," ungkapnya.


4. Pastikan data selalu akurat

Prof Tjandra juga mengingatkan untuk memastikan data yang tersedia harus akurat dan selalu update atau diperbarui. Pasalnya, data-data ini sangat dibutuhkan dalam membuat dan memutuskan kebijakan yang harus dilakukan dalam mengatasi COVID-19.


"Analisa data ini juga harus dilakukan dengan dasar ilmu pengetahuan yang baik dan bijak. Hal ini sangat diperlukan agar penentu kebijakan publik dapat membuat keputusan yang berbasis bukti ilmiah yang tetap, '"evidence-based decision making process'," jelasnya.


5. Percepat vaksinasi COVID-19

Terakhir, kata Prof Tjandra, pemerintah harus lebih menggencarkan vaksinasi COVID-19. Meski hasilnya tidak akan secara tepat dalam menurunkan angka kasus yang sedang tinggi di suatu wilayah, namun vaksinasi memiliki peran penting dalam pengendalian pandemi.


"Harus diingat juga bahwa untuk menentukan berapa jumlah orang yang harus divaksin agar tercapai kekebalan komunal (herd immunity) maka akan tergantung dari angka reproduksi penyakit dan juga efektifitas vaksin," kata Prof Tjandra.


"Kalau angka reproduksi meningkat, dan juga efektifitas vaksin menurun (misalnya karena varian baru) maka jumlah orang yang harus di vaksin perlu lebih banyak lagi untuk dapat memperoleh kekebalan komunal (herd immunity), jadi dalam situasi sekarang maka angkanya mungkin perlu dihitung ulang," tuturnya.

https://cinemamovie28.com/movies/the-odd-family-zombie-on-sale/