Sabtu, 19 Juni 2021

Catat! Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Isolasi Mandiri

  Tingkat keterisian rumah sakit yang merawat pasien COVID-19 semakin penuh. Tak jarang, sebagian pasien yang merasa tidak bergejala atau mengalami gejala ringan memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

Namun, ada beberapa kesalahan saat isolasi mandiri yang bisa memicu meluasnya penularan virus Corona. Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, dr Adria Rusli, SpP(K), mengatakan kesalahan yang sering dilakukan adalah kondisi tempat isolasi mandiri yang tidak memadai.


"Biasanya tidak bisa isolasi mandiri, memaksakan. Misalnya, rumahnya tidak ada ruang khusus buat sendiri, makan sama-sama, nonton TV bareng-bareng, itu yang paling sering terjadi," jelas dr Adria saat dihubungi detikcom dan ditulis Sabtu (19/6/2021).


dr Adria menjelaskan ada dua syarat agar pasien COVID-19 bisa melakukan isolasi mandiri di rumah, yaitu syarat medis dan sosial. Untuk syarat medis, salah satunya pasien COVID-19 tersebut harus dipastikan memiliki sistem imun yang baik.


"Syarat medis itu adalah dia keadaan imunnya bagus, kondisinya ringan atau tidak ada gejala, dan juga tidak ada komorbid," kata dr Adria.


"Syarat sosialnya adalah mampu untuk melakukan isolasi mandiri, misalnya dia kamarnya sendiri, kemudian di monitor keadaannya oleh fasyankes 1 (puskesmas) suhunya gimana, sesak atau tidak," lanjutnya.

https://nonton08.com/movies/salt-4/


Apa Sih Beda Corona Varian Alpha, Beta, dan Delta? Ini Penjelasannya


Belakangan nama virus Corona varian Alpha, Beta, dan Delta ramai diperbincangkan. Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mempermudah sebutan berbagai variants of concern (VoC) dan menghilangkan stigma.

Sebelumnya varian Corona hanya disebut dengan kode yang berdasarkan sistem nomenklatur garis keturunan virus. Sebagai contoh ada varian B117, B1617, B1351, dan P1 yang statusnya merupakan VoC atau varian berbahaya.


Namun, seiring berjalannya waktu berbagai varian Corona juga mendapat julukan dari nama tempat atau negara yang pertama kali mengidentifikasi. Hal ini disebut bisa mengundang diskriminasi sehingga akhirnya diresmikan sebutan baru.


Di Indonesia diketahui sudah ada tiga VoC yang dilaporkan menyebar yaitu Alpha, Beta, dan Delta. Berikut penjelasan perbedaannya:


1. Alpha (B117)

Varian Alpha merupakan sebutan untuk virus Corona B117 yang pertama kali diidentifikasi di Inggris pada akhir tahun 2020 lalu.


Pada beberapa penelitian, varian Corona B117 ini disebut tidak membuat penyakit COVID-19 yang dialami menjadi semakin parah. Tetapi, banyak ahli yang percaya bahwa varian tersebut lebih mudah menyebar dari versi aslinya.


Ada beberapa vaksin yang kini diklaim mampu melawan varian B117. Vaksin Pfizer dan Moderna tampaknya bisa melindungi lebih baik terhadap B117.


Selain itu, vaksin Novavax, Johnson & Johnson, dan AstraZeneca juga disebut-sebut mampu melindungi dari serangan varian B117 tersebut dengan cukup baik.


2. Beta (B1351)

Varian Beta merupakan sebutan untuk virus Corona B1351 yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan pada bulan Oktober 2020. Varian baru Corona Afsel ini diketahui 50 persen lebih mudah ditularkan dibandingkan varian sebelumnya.


Para ahli memberikan perhatian khusus pada varian B1351 karena dianggap bisa menurunkan efektivitas vaksin. Berdasarkan hasil uji klinis, vaksin yang ada saat ini mungkin kurang efektif untuk melindungi dari strain tersebut.


3. Delta (B1617.2)

Varian Delta merupakan sebutan untuk virus Corona B1617 yang pertama kali diidentifikasi di India. Varian Delta memiliki mutasi yang membuatnya mudah menular, bahkan melebihi varian Alpha.


Varian Delta memiliki tiga jenis strain, yaitu B1617.1, B1617.2, dan B1617.3. Menurut WHO hanya B1617.2 yang menjadi VoC, sementara kedua jenis varian Delta lainnya memiliki tingkat penularan lebih rendah.


Beberapa studi melihat kemungkinan varian Delta bisa menyebabkan gejala yang lebih parah dan bisa menghindari sistem imun tubuh.

https://nonton08.com/movies/salt-3/

Waspada! Kondisi yang Tak Disadari Picu Serangan Jantung Saat Olahraga

 Kasus kolaps yang terjadi di para atlet belakangan ini memicu rasa was-was. Tak sedikit yang akhirnya khawatir apakah olahraga malah bisa berbahaya bagi tubuh hingga memicu serangan jantung.

Ahli jantung dr Vito A Damay dari RS Siloam Lippo Karawaci menegaskan olahraga tak berbahaya selama seseorang tahu batasan dan risiko kesehatan masing-masing. Maka dari itu, perlu rutin check up untuk mengetahui risiko tersebut.

https://nonton08.com/movies/three-women/


"Olahraga itu sendiri tidak menyebabkan serangan jantung, olahraga itu bagus, di usia muda apalagi sudah mesti olahraga," tegas dr Vito dalam bincang bersama e-Life detikcom Jumat (18/6/2021).


Bila ada kasus serangan jantung saat olahraga hingga berisiko fatal, menurut dr Vito, hal tersebut sudah jelas didasari pada beberapa kondisi atau riwayat kesehatan masing-masing. Sayangnya, hal ini sering tak disadari atau malah diabaikan.


"Satu nih ada pasien dia sudah pernah kena serangan jantung, tapi dia nggak mau dilakukan pemasangan ring misalnya, lalu dia bilang saya mau coba deh dok dengan pola hidup sehat saja semoga penyakit di tubuh saya hilang," cerita dr Vito.


"Itu nggak bisa, sudah terlambat, sekarang karena penyakitnya sudah terjadi, nah terus karena dia tidak mau, akhirnya sudahlah, dia olahraga sendiri, kebetulan kena serangan jantung," tuturnya menjelaskan risiko yang dihadapi.


dr Vito mengibaratkan tubuh dan kinerja organ vital jantung seperti mesin yang harus dikontrol terlebih ketika mengalami kerusakan. "Sudah terlanjur, sudah karatan, dipakai jalan-jalan, keluar rumah, ya pasti mogok lah mesinnya," sambungnya.


"Nah itu yang pertama kenapa orang olahraga lagi sepeda lagi lari kena serangan jantung," ungkapnya.

Sudah jalani pola hidup sehat, masih berisiko terkena serangan jantung?

dr Vito mewanti-wanti orang yang memiliki pola hidup sehat, masih memiliki risiko terkena serangan jantung. Biasanya, kasus tersebut terjadi karena seseorang kerap tak sadar selama ini mengidap kolesterol tinggi, hingga kemungkinan sudah muncul plak pada dinding arteri.


Terlebih, jika mereka memiliki riwayat genetik kolesterol. Cara mengatasinya tak semudah mengatur pola makan hingga diet, maka masih ada risiko terkena serangan jantung.


Bahaya mengintai pengidap penyakit jantung bawaan

"Nah terutama orang-orang yang punya penyakit jantung bawaan, kadang-kadang mereka nggak sadar kalau sudah punya penyakit jantung padahal dia sudah ada bawaan sebelumnya," beber dr Vito.


"Ada penyakit jantung juga yang disebabkan karena infeksi, misalnya miokarditis, itu juga kadang-kadang dia nggak tau punya penyakit tersebut."


Kesimpulannya, penting untuk selalu memeriksakan diri ke dokter demi mengetahui risiko pada serangan jantung. Banyak kondisi yang akhirnya berakhir fatal tanpa menyadari berapa besar risiko yang selama ini dihadapi.


Jika sudah mengetahui risiko masing-masing, lebih mudah untuk memilih jenis olahraga yang aman untuk dilakukan sehari-hari. Sementara, olahraga yang baik untuk kesehatan jantung ditegaskan dr Vito berada di intensitas moderate, atau sedang.

https://nonton08.com/movies/beloved-married-woman/