Sabtu, 19 Juni 2021

Catat! Ini Jenis Olahraga yang Sehat untuk Jantung

 Beberapa waktu lalu, gelandang Denmark Christian Eriksen dan pebulutangkis Indonesia Markis Kido dikabarkan kolaps karena serangan jantung. Kejadian ini memunculkan kekhawatiran di masyarakat kalau rajin berolahraga pun rentan terkena serangan jantung.

Lalu, bagaimana jenis olahraga yang sehat untuk jantung?


Kejadian kolapsnya para atlet ini jangan dijadikan sebagai alasan untuk takut berolahraga. Faktanya, orang yang rajin berolahraga justru punya risiko kecil terkena serangan jantung.


Hal yang perlu dipastikan adalah kondisi tubuh saat berolahraga. Apakah tubuh memiliki penyakit atau risiko bawaan yang dapat memicu terjadinya serangan jantung.


Selain itu, penting untuk mengetahui jenis olahraga yang sehat bagi jantung. Ahli jantung dari RS Siloam Lippo Karawaci dr Vito A Damay, SpJP(K) menjelaskan, olahraga yang baik untuk kesehatan jantung adalah olahraga dengan intensitas sedang.


dr Vito menyarankan olahraga dengan intensitas sedang ini kamu lakukan 30 menit setiap hari untuk mendapatkan benefit kesehatan jantung yang optimal. Menurutnya, olahraga yang baik untuk kesehatan jantung bisa dihitung 60-70 persen dari denyut nadi.


"Cara hitungnya, 220 dikurang usia saat ini, lalu dikalikan 60 atau 70 persen. Itulah heart rate yang bisa dicapai saat olahraga," ujar dr Vito dalam tayangan e-life detikcom, Jumat (18/6/2021).


Jika perhitungan ini dirasa sulit, ada cara lain yang lebih praktis dan bisa kamu terapkan. Saat berolahraga dengan intensitas sedang, cobalah untuk berbicara satu kalimat. Jika kamu tidak kewalahan, berarti olahraga yang kamu lakukan sudah tepat.


"Misalnya sambil jalan masih bisa nyanyi, itu artinya (olahraga) terlalu ringan. Kalau sambil lari ngomong satu kalimat aja nggak bisa saking terengah-engahnya, itu artinya terlalu berat," paparnya.

https://nonton08.com/movies/street-warriors-ii/


Salah Kaprah! Olahraga Bukan Penyebab Atlet Kena Serangan Jantung


 Menyusul kolapsnya gelandang Denmark Christian Eriksen di Euro 2020, legenda bulutangkis tanah air Markis Kido juga dikabarkan kolaps saat berlatih. Kido tidak tertolong, ia kemudian meninggal dunia.

Serentetan kejadian kolaps di lapangan yang dialami para olahragawan memunculkan anggapan bahwa atlet rentan terkena penyakit jantung. Ada pula pendapat, olahraga berat yang dilakukan para atlet memicu kerusakan dan penebalan otot jantung yang rentan membuat mereka kolaps.


Awas jangan salah kaprah. Menurut dokter jangtung, anggapan ini tidak tepat. Seseorang yang berolahraga justru memiliki risiko penyakit jantung yang kecil.


Ahli jantung dari RS Siloam Lippo Karawaci dr Vito A Damay, SpJP(K) menjelaskan, pola hidup sehat para atlet juga berpotensi meningkatkan kesehatan jantung.


Lalu kenapa ada atlet yang mengalami serangan jantung? Menurut dr Vito, seorang atlet bisa mengalami serangan jantung jika memang memiliki kelainan atau riwayat penyakit jantung yang tidak disadari sebelumnya.


"Kelelahan karena olahraga bisa menyebabkan penyakit jantung? Mungkin saja apabila seseorang itu memang sudah punya penyakit jantung sebelumnya," terangnya dalam unggahan Instagram @doktervito, dikutip atas izin yang bersangkutan, Rabu (16/6/2021).


"Masalahnya, kadang-kadang orang tidak tahu kalau dia punya penyakit jantung. Itulah pentingnya kita medical check up," lanjutnya.


Meski atlet cenderung memiliki risiko penyakit jantung yang kecil, intensitas latihan harus diperhatikan dengan bijak. Terlebih, jika sedang menjalani latihan intens untuk pertandingan tertentu, pengawasan oleh profesional amat diperlukan.


Dengan begitu, olahraga jelas tak perlu ditakuti karena bukan penyebab penyakit jantung. Namun baik untuk atlet atau awam, disarankan untuk medical check up rutin dan selalu mengecek heart rate atau detak jantung maksimal. Bagaimana caranya?


"Olahraga yang baik untuk kesehatan jantung adalah 60-70 persen dari detak jantung maksimal menurut usia. Amannya paling tinggi 85 persen. Cara hitungnya, 220- usia saat ini, lalu dikalikan (misalnya) 70 persen untuk mendapatkan kisaran target detak jantung intensitas sedang," terang dr Vito lebih lanjut pada detikcom.

https://nonton08.com/movies/code-name-dynastud/

Apa Sih Beda Corona Varian Alpha, Beta, dan Delta? Ini Penjelasannya

 Belakangan nama virus Corona varian Alpha, Beta, dan Delta ramai diperbincangkan. Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mempermudah sebutan berbagai variants of concern (VoC) dan menghilangkan stigma.

Sebelumnya varian Corona hanya disebut dengan kode yang berdasarkan sistem nomenklatur garis keturunan virus. Sebagai contoh ada varian B117, B1617, B1351, dan P1 yang statusnya merupakan VoC atau varian berbahaya.


Namun, seiring berjalannya waktu berbagai varian Corona juga mendapat julukan dari nama tempat atau negara yang pertama kali mengidentifikasi. Hal ini disebut bisa mengundang diskriminasi sehingga akhirnya diresmikan sebutan baru.


Di Indonesia diketahui sudah ada tiga VoC yang dilaporkan menyebar yaitu Alpha, Beta, dan Delta. Berikut penjelasan perbedaannya:


1. Alpha (B117)

Varian Alpha merupakan sebutan untuk virus Corona B117 yang pertama kali diidentifikasi di Inggris pada akhir tahun 2020 lalu.


Pada beberapa penelitian, varian Corona B117 ini disebut tidak membuat penyakit COVID-19 yang dialami menjadi semakin parah. Tetapi, banyak ahli yang percaya bahwa varian tersebut lebih mudah menyebar dari versi aslinya.


Ada beberapa vaksin yang kini diklaim mampu melawan varian B117. Vaksin Pfizer dan Moderna tampaknya bisa melindungi lebih baik terhadap B117.


Selain itu, vaksin Novavax, Johnson & Johnson, dan AstraZeneca juga disebut-sebut mampu melindungi dari serangan varian B117 tersebut dengan cukup baik.


2. Beta (B1351)

Varian Beta merupakan sebutan untuk virus Corona B1351 yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan pada bulan Oktober 2020. Varian baru Corona Afsel ini diketahui 50 persen lebih mudah ditularkan dibandingkan varian sebelumnya.


Para ahli memberikan perhatian khusus pada varian B1351 karena dianggap bisa menurunkan efektivitas vaksin. Berdasarkan hasil uji klinis, vaksin yang ada saat ini mungkin kurang efektif untuk melindungi dari strain tersebut.


3. Delta (B1617.2)

Varian Delta merupakan sebutan untuk virus Corona B1617 yang pertama kali diidentifikasi di India. Varian Delta memiliki mutasi yang membuatnya mudah menular, bahkan melebihi varian Alpha.


Varian Delta memiliki tiga jenis strain, yaitu B1617.1, B1617.2, dan B1617.3. Menurut WHO hanya B1617.2 yang menjadi VoC, sementara kedua jenis varian Delta lainnya memiliki tingkat penularan lebih rendah.


Beberapa studi melihat kemungkinan varian Delta bisa menyebabkan gejala yang lebih parah dan bisa menghindari sistem imun tubuh.

https://nonton08.com/movies/el-dia-del-presidente/


Catat! Ini Jenis Olahraga yang Sehat untuk Jantung


 Beberapa waktu lalu, gelandang Denmark Christian Eriksen dan pebulutangkis Indonesia Markis Kido dikabarkan kolaps karena serangan jantung. Kejadian ini memunculkan kekhawatiran di masyarakat kalau rajin berolahraga pun rentan terkena serangan jantung.

Lalu, bagaimana jenis olahraga yang sehat untuk jantung?


Kejadian kolapsnya para atlet ini jangan dijadikan sebagai alasan untuk takut berolahraga. Faktanya, orang yang rajin berolahraga justru punya risiko kecil terkena serangan jantung.


Hal yang perlu dipastikan adalah kondisi tubuh saat berolahraga. Apakah tubuh memiliki penyakit atau risiko bawaan yang dapat memicu terjadinya serangan jantung.


Selain itu, penting untuk mengetahui jenis olahraga yang sehat bagi jantung. Ahli jantung dari RS Siloam Lippo Karawaci dr Vito A Damay, SpJP(K) menjelaskan, olahraga yang baik untuk kesehatan jantung adalah olahraga dengan intensitas sedang.


dr Vito menyarankan olahraga dengan intensitas sedang ini kamu lakukan 30 menit setiap hari untuk mendapatkan benefit kesehatan jantung yang optimal. Menurutnya, olahraga yang baik untuk kesehatan jantung bisa dihitung 60-70 persen dari denyut nadi.


"Cara hitungnya, 220 dikurang usia saat ini, lalu dikalikan 60 atau 70 persen. Itulah heart rate yang bisa dicapai saat olahraga," ujar dr Vito dalam tayangan e-life detikcom, Jumat (18/6/2021).


Jika perhitungan ini dirasa sulit, ada cara lain yang lebih praktis dan bisa kamu terapkan. Saat berolahraga dengan intensitas sedang, cobalah untuk berbicara satu kalimat. Jika kamu tidak kewalahan, berarti olahraga yang kamu lakukan sudah tepat.


"Misalnya sambil jalan masih bisa nyanyi, itu artinya (olahraga) terlalu ringan. Kalau sambil lari ngomong satu kalimat aja nggak bisa saking terengah-engahnya, itu artinya terlalu berat," paparnya.

https://nonton08.com/movies/juventud-sin-freno/