Rabu, 04 Desember 2019

Kisah Orang Terkaya RI dan Para Pengungsi Suriah

Salah satu orang terkaya Indonesia, Dato Sri Tahir pada Rabu (2/10) siang waktu setempat mengunjungi kamp pengungsi Suriah di Azraq, Yordania. Kedatangan CEO Mayapada Group ke tempat pengungsian ini untuk melihat langsung kondisi para pengungsi asal Suriah yang tinggal di hunian sementara di Yordania.

Setibanya di kamp pengungsian, Tahir mengecek beberapa ruang kelas yang digunakan anak para pengungsi asal Suriah untuk belajar setiap harinya. Ruang kelasnya pun sederhana karena hanya berbentuk bangunan semi permanen.

Tahir juga sempat bermain bola dengan anak pengungsi Suriah. Dalan tiga tahun terakhir, ia juga sudah memberikan bantuan Rp 84 miliar kepada para pengungsi. Berikut berita selengkapnya.

Setelah puas berkeliling kamp, Tahir mengajak sejumlah rombongan untuk bermain bola dengan anak-anak yang ada di kamp pengungsian. Terik matahari kala itu tepat di atas kepala, panasnya juga jangan ditanya. Namun, ia tertarik untuk ikut bermain bersama anak-anak tersebut bersama putranya dan cucu perempuannya.

"Main bola tadi. Nggak kuat juga," katanya di kamp pengungsian Suriah di Azraq, Yordania, Rabu (2/10) siang.

Orang terkaya nomor empat di Indonesia dengan harta US$ 4,5 miliar atau Rp 63 triliun (kurs Rp 14.000) tak segan untuk berlari di hampir setiap sudut lapangan untuk ikut menghibur anak-anak para pengungsi Suriah.

Tak sampai habis permainan tersebut, ia pun menyingkir ke lapangan dan tak berapa lama memberikan sejumlah uang kepada salah satu anak yang ikut bermain bola.

"Seru, seru. Sebagai grandfather, sebagai kakek kita main," ujarnya.

Sebagai informasi, kamp pengungsian Azraq dibuka pada April 2014 lalu dengan kapasitas 50 ribu orang. Luasnya mencapai 14,7 kilometer (km) persegi. Entah berapa ratus hunian yang ada di hamparan gurun pasir ini.

Jumlah pengungsi yang ada di Azraq sebanyak 35.767 orang Suriah di mana 22% di antaranya berusia di bawah 5 tahun. Sedangkan dari juah tersebut, sebanyak 1.040 pengungsi memiliki keterbatasan fisik.

Salah satu orang terkaya Indonesia, Dato Sri Tahir mengaku sudah menyumbangkan hartanya senilai US$ 6 juta (Rp 84 miliar) selama tiga tahun belakangan kepada pengungsi Suriah di Yordania. CEO Mayapada Group tersebut pun datang lagi ke kamp pengungsian Suriah di Azraq, Yordania pada Rabu siang (2/10) waktu setempat.

"Suriah sendiri 2-3 tahun kasih US$ 5-6 juta," kata Tahir di lokasi, Azraq, Yordania, Rabu (2/10/2019).

Selain pengungsi Suriah, Tahir juga menaruh perhatian yang lebih terhadap Palestina lewat United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA). Pasalnya, hanya ada dua negara yang masih menyatakan dukungannya kepada Palestina.

"Tujuan utama UNRWA Indonesia standing konsisten mendukung Palestina. Palestina tinggal tiga negara, pertama Palestina, Jordan, dan Indoensia," ujarnya.

Pihaknya juga menyerahkan bantuan Rp 5 miliar kepada UNRWA sebagai langkah mendukung Palestina.

"Kita datang UNRWA Rp 5 miliar," tuturnya.

CEO Mayapada Group Dato Sri Tahir bercerita bahwa ia pernah mengajak pengusaha beberapa kali ke kamp pengungsian Suriah di Azraq, Yordania. Namun, tak ada tindakan nyata dari pengusaha yang namanya tak disebutkan itu.

"Saya tiga kali bawa pengusaha rata-rata pengusaha bilang kasihan-kasihan terus. Kenapa ya kok bisa gitu," kata Tahir di Azraq, Yordanian Rabu (2/10/2019).

Ia berpesan kepada pengusaha agat peka terhadap sekitar. Perlu ada tindakan nyata dari pengusaha untul terlibat dalam akso kemanusiaan ini.

"Saya pikir apa susahnya kan you berlebihan. Saya orang Indonesia pertama dari 260 juta yang tanda tangan giving pledge, commit 50% harta serahkan untuk social activity," tuturnya.

Ia berbicara mengenai alasannya terus membantu banyak orang yakni tulus karena didasarkan rasa kemanusiaan. Langlah ini juga sebetulnya bisa dilakukan banyak orang lainnya

"Sesuai ajaran orang tua di sini ada musibah, kita ada kemampuan datang ke sini, itu aja. Saya jalani hal yang sebetulnya dijalankan setiap orang jalankan misi kemanusiaan," ujarnya.

Kisah Mochtar Riady Kembangkan 4 Bank Besar di RI

Berjayanya empat bank swasta terbesar di Indonesia rupanya ada campur tangan Mochtar Riady, salah satu #CrazyRichSurabayan yang merupakan Bos Lippo Group. Sebut saja Bank BCA, Panin Bank, Bank CIMB Niaga, dan Bank UOB.

Mochtar Riady menyatakan keempat bank tersebut pernah dia tangani saat masih dirintis hingga menjadi cikal-bakal bank terbesar di Indonesia. Mulanya dia menceritakan saat memegang Bank Buana yang kini bertransformasi sebagai Bank UOB.

"Pertama-tama mungkin saya memperkenalkan diri saya bahwa saya pernah membangun Bank Buana dari kecil terus jadi besar. Lantas oleh karena ada perubahan zaman lagi saya tinggalkan," kata dia di Djakarta Theater, Jakarta Pusat," Kamis (28/11/2019).

Akhirnya dia berlabuh ke Panin Bank, dari bank kecil menjadi besar di masanya dan bertahan hingga kini. Tak lama, dia pergi ke BCA. Di tangannya, bank tersebut juga berhasil menjadi besar, di mana asetnya mengalami peningkatan.

"Dari satu cabang US$ 1 juta asetnya sampai waktu saya tinggalkan BCA pada tahun 1991 adalah kira-kira 1 triliun asetnya," sebut dia.

Setelah meninggalkan BCA, dia memegang Bank CIMB Niaga. Jadi totalnya ada 4 bank raksasa yang dulu pernah ada campur tangannya.

"Maka sekarang bank swasta 4 yang terbesar, yaitu BCA, Panin Bank, CIMB, sama Bank Bunana menjadi UOB. 4 bank swasta yang paling besar itu semua baby saya," tambahnya.

Orang Terkaya RI Hobi Bagi-bagi Duit, Kenapa?

Salah satu orang terkaya Indonesia, Dato' Sri Tahir dikenal sebagai seorang filantropi. Pria dengan kekayaan US$ 4,5 miliar ini tak berhenti membagikan sebagian hartanya kepada orang yang kurang beruntung.

CEO Mayapada Group ini buka-bukaan soal alasannya gemar berbagi kepada orang yang nasibnya kurang beruntung. Kedermawanannya kini tidak terlepas dari kehidupan masa kecilnya yang pas-pasan.

"Orang tua saya itu kan cuma kerjanya menyewakan becak. Jadi saya dari kecil itu lahir dan dibesarkan oleh setoran daripada abang becak. Itu kan cukup nggak mampu itu, khususnya pribadi itu minder ya sangat dalam sekolah sampai nikah kenal keluarga besar Mochtar Riady lebih minder lagi," ujar Tahir saat berbincang dengan detikcom di Hotel Fairmont, Amman, Yordania, (3/10/2019) lalu.

Kenangan masa kecilnya masih terus terbayang dan bisa dibilang menjadi memori yang pahit. Namun, kondisi tersebut dipilihnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi di kemudian hari. Hingga ini ia akhirnya menjadi salah satu orang terkaya Indonesia.

"Saya punya sikap yang positif saya anggap bahwa semua serangan itu saya terima memang pedih dan sangat menyakitkan tapi saya ada suatu motor yang menggerakkan saya bisa lebih maju lagi," tuturnya.

Kesuksesannya menjalankan sejumlah usaha tidak bisa dilepaskan dari Indonesia, tempat di mana ia menjalankan bisnisnya. Ini juga yang membuatnya merasa lebih beruntung dibandingkan mereka yang tinggal di daerah konflik.

"Kita bersyukur kita lahir di Indonesia, aman membuat kita bisa usaha lebih baik dan bisa hari ini mempunyai hasil. Jadi give it back, mengembalikan itu adalah sebuah konsekuensi sebuah logika bukan hal yang menyulitkan, bukan hal yang aneh, bukan hal yang perlu dibanggakan," katanya.

"It's so simple take it from society and give it back to society. Itu sebenarnya logika, simple aja," tambahnya.

Tahir justru heran dengan orang yang mendapatkan keuntungan dari Indonesia namun enggan berbagi kepada mereka yang kurang beruntung.

"Kalau ada orang yang untung dari Indonesia yang nggak mau keluarkan itu bagi saya yang justru nggak simple. Saya nggak tahu apa yang di benak pikiran dia itu saya nggak bisa ngerti," ujarnya.