Berjayanya empat bank swasta terbesar di Indonesia rupanya ada campur tangan Mochtar Riady, salah satu #CrazyRichSurabayan yang merupakan Bos Lippo Group. Sebut saja Bank BCA, Panin Bank, Bank CIMB Niaga, dan Bank UOB.
Mochtar Riady menyatakan keempat bank tersebut pernah dia tangani saat masih dirintis hingga menjadi cikal-bakal bank terbesar di Indonesia. Mulanya dia menceritakan saat memegang Bank Buana yang kini bertransformasi sebagai Bank UOB.
"Pertama-tama mungkin saya memperkenalkan diri saya bahwa saya pernah membangun Bank Buana dari kecil terus jadi besar. Lantas oleh karena ada perubahan zaman lagi saya tinggalkan," kata dia di Djakarta Theater, Jakarta Pusat," Kamis (28/11/2019).
Akhirnya dia berlabuh ke Panin Bank, dari bank kecil menjadi besar di masanya dan bertahan hingga kini. Tak lama, dia pergi ke BCA. Di tangannya, bank tersebut juga berhasil menjadi besar, di mana asetnya mengalami peningkatan.
"Dari satu cabang US$ 1 juta asetnya sampai waktu saya tinggalkan BCA pada tahun 1991 adalah kira-kira 1 triliun asetnya," sebut dia.
Setelah meninggalkan BCA, dia memegang Bank CIMB Niaga. Jadi totalnya ada 4 bank raksasa yang dulu pernah ada campur tangannya.
"Maka sekarang bank swasta 4 yang terbesar, yaitu BCA, Panin Bank, CIMB, sama Bank Bunana menjadi UOB. 4 bank swasta yang paling besar itu semua baby saya," tambahnya.
Orang Terkaya RI Hobi Bagi-bagi Duit, Kenapa?
Salah satu orang terkaya Indonesia, Dato' Sri Tahir dikenal sebagai seorang filantropi. Pria dengan kekayaan US$ 4,5 miliar ini tak berhenti membagikan sebagian hartanya kepada orang yang kurang beruntung.
CEO Mayapada Group ini buka-bukaan soal alasannya gemar berbagi kepada orang yang nasibnya kurang beruntung. Kedermawanannya kini tidak terlepas dari kehidupan masa kecilnya yang pas-pasan.
"Orang tua saya itu kan cuma kerjanya menyewakan becak. Jadi saya dari kecil itu lahir dan dibesarkan oleh setoran daripada abang becak. Itu kan cukup nggak mampu itu, khususnya pribadi itu minder ya sangat dalam sekolah sampai nikah kenal keluarga besar Mochtar Riady lebih minder lagi," ujar Tahir saat berbincang dengan detikcom di Hotel Fairmont, Amman, Yordania, (3/10/2019) lalu.
Kenangan masa kecilnya masih terus terbayang dan bisa dibilang menjadi memori yang pahit. Namun, kondisi tersebut dipilihnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi di kemudian hari. Hingga ini ia akhirnya menjadi salah satu orang terkaya Indonesia.
"Saya punya sikap yang positif saya anggap bahwa semua serangan itu saya terima memang pedih dan sangat menyakitkan tapi saya ada suatu motor yang menggerakkan saya bisa lebih maju lagi," tuturnya.
Kesuksesannya menjalankan sejumlah usaha tidak bisa dilepaskan dari Indonesia, tempat di mana ia menjalankan bisnisnya. Ini juga yang membuatnya merasa lebih beruntung dibandingkan mereka yang tinggal di daerah konflik.
"Kita bersyukur kita lahir di Indonesia, aman membuat kita bisa usaha lebih baik dan bisa hari ini mempunyai hasil. Jadi give it back, mengembalikan itu adalah sebuah konsekuensi sebuah logika bukan hal yang menyulitkan, bukan hal yang aneh, bukan hal yang perlu dibanggakan," katanya.
"It's so simple take it from society and give it back to society. Itu sebenarnya logika, simple aja," tambahnya.
Tahir justru heran dengan orang yang mendapatkan keuntungan dari Indonesia namun enggan berbagi kepada mereka yang kurang beruntung.
"Kalau ada orang yang untung dari Indonesia yang nggak mau keluarkan itu bagi saya yang justru nggak simple. Saya nggak tahu apa yang di benak pikiran dia itu saya nggak bisa ngerti," ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar