Sabtu, 07 Desember 2019

Pakai Jersey Persija, Anies Gowes Keliling Monas Peringati Hari Kesehatan

Pemprov DKI Jakarta menggelar peringatan Hari Kesehatan Nasional sekaligus Hari AIDS Sedunia. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan turut menghadiri acara itu.

Pantauan detikcom, sekitar 250 peserta fun bike telah berkumpul di halaman Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta sejak pukul 05.45 WIB. Mereka akan menggowes sepeda mengelilingi Monumen Nasional (Monas).

Para peserta fun bike ialah tenaga kesehatan se-DKI. Mereka serempak mengenakan kaos berwarna orange.

Anies tiba di Balai Kota pukul 06.15 WIB. Ia terlihat mengenakan kaos Persija Jakarta. Anies juga didampingi istrinya, Fery Farhati.

Begitu tiba, belasan orang berswafoto dengan Anies. Setelahnya, Anies membuka acara fun bike secara simbolis dengan mengayunkan bendera.

"Siap? Yuk tepuk tangan semua. 1... 2... 3...," ujar Anies.

Para peserta pun berangkat dengan rute keliling Monumen Nasional (Monas), yakni Jalan Medan Merdeka Selatan-Jalan Medan Merdeka Timur - Jalan Medan Merdeka Utara - Jalan Medan Merdeka Barat - Jalan Kebon Sirih - Jalan Medan Merdeka Selatan. Beberapa saat kemudian, Anies dan istrinya menyusul.

Pemprov DKI memperingati Hari Kesehatan Nasional dengan tema 'Generasi Sehat, Indonesia Unggul' dan Hari AIDS Sedunia dengan tema "Bersama Masyarakat Meraih Sukses'.

Selain fun bike, rangkaian acara lainya yakni pemecahan rekor MURI senam Tobelo massal oleh 1500 tenaga kesehatan serta launching sejumlah inovasi kesehatan.

Ketua Fraksi PDIP DKI Tantang Gubernur Anies Bersepeda Setiap Hari

Pemerintah Provinsi DKI sedang menggencarkan pembangunan jalur sepeda di Jakarta. 63 Km jalur sepeda ditargetkan kelar tahun ini. Namun Fraksi PDIP DPRD DKI pesimis dengan efektivitas jalur sepeda untuk mengurangi polusi dan macet, sembari menantang Gubernur Anies Baswedan untuk bersepeda setiap hari.

"Jakarta kan panas, beda dengan Belanda yang cuacanya dingin, bersepeda enak buat menghangatkan badan, menjadi sehat. Kalau Jakarta, tidak mungkin rasanya, saya sangat pesimis soal jalur sepeda," kata Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Gembong Warsono kepada wartawan, Jumat (6/12/2019).

Gembong baru akan menjadi optimis bila Gubernur Anies Baswedan memberikan teladan kepada jajarannya dan warga Jakarta dengan cara bersepeda ke Balai Kota Jakarta setiap harinya.

"Tapi saya akan optimis kalau Pak Gubernur setiap hari naik sepeda. Dengan begitu orang akan berpikir bahwa akupun juga mau kalau Pak Gubernur naik sepeda," kata Gembong.

Anies kerap kali memang bersepeda. Namun demikian, Gembong tidak yakin dengan itu. "Itu kan cuma ecek-ecek naik sepedanya. Sekarang bukan eranya pencitraan, sekarang eranya mewujudkan janji politik supaya Jakarta menjadi lebih baik," kata Gembong.

Bagi dia, jalur sepeda adalah prioritas terakhir dalam pembangunan jalanan Jakarta. Yang paling penting adalah pembangunan transportasi massal yang terintegrasi. Yang kedua adalah pembangunan jalur pejalan kaki. Ketiga, barulah jalur sepeda.

"Kalau hari ini sudah bicara trotoar untuk pejalan kaki tapi angkutan umum belum tersedia dengan baik, yang mau jalan kaki siapa? Trotoarisasi berdampak penyempitan jalan, penyempitan jalan akan menimbulkan kemacetan," kritiknya.

Eks Staf Ahok Kritik Anggaran Lab Fisika-Kimia di SMK Pariwisata Rp 106 M

 Fraksi PDI Perjuangan DKI Jakarta menemukan anggaran Dinas Pendidikan yang berada di lingkup Komisi E yang dinilai kurang tepat. Ada anggaran pembangunan Laboratorium Fisika dan Kimia untuk pembangunan unit baru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pariwisata 74.

"Padahal untuk SMK Pariwisata, tidak diperlukan sama sekali laboratorium Kimia dan Fisika", kata anggota Komisi E DPRD DKI F-PDIP, Ima Mahdiah, kepada wartawan lewat keterangan persnya, Jumat (6/12/2019).

Mantan staf Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini sempat menanyakan hal tersebut saat rapat pembahasan RAPBD dengan Dinas Pendidikan di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (5/12) kemarin. Ima mengatakan PDIP DKI Jakarta terus melakukan penyisiran anggaran pasca ditandatanganinya MoU KUA dan PPAS antara eksekutif dengan legislatif pekan lalu.

Menurut Irma, jawaban dari Dinas Pendidikan kurang masuk akal karena yaitu pembuatan laboratorium untuk sains terapan. Setelah diselidiki, ditemukan anggaran untuk sains terapan juga di program lainnya.

"Fraksi PDI Perjuangan sepakat untuk memperluas jumlah pembangunan unit sekolah baru, namun dengan anggaran yang masuk akal dan tidak terkesan dibuat dengan tidak cermat dan copy-paste," ucap Ima.

Ima menjelaskan hal ini bisa ditemukan karena setelah dilakukan penyisiran, ditemukan bahwa anggaran pembuatan sekolah baru khusus untuk SMK Pariwisata 74 jumlah anggarannya mencapai Rp106.157.668.120,00 jauh lebih tinggi dari pembangunan sekolah lainnya.

Ima menangkap kesan bahwa anggaran yang dibuat bersifat copy-paste, tidak berdasarkan kebutuhan yang dibutuhkan masing-masing kegiatan, dalam hal ini terkait dengan pembangunan sekolah baru.

Selain itu, masih banyak permasalahan-permasalahan lainnya, diantaranya masalah rehabilitasi sekolah, masih ditemukan banyak anggaran renovasi sekolah nilainya sama dengan anggaran rehab ulang gedung sekolah, jelas ini harus dikaji ulang agar anggaran Dinas Pendidikan bisa menjadi jauh lebih berkualitas. Terkait dengan hal ini, Dinas Pendidikan sepakat untuk memperbaiki anggaran rehabilitasi sekolah dan akan menghilangkan anggaran pembangunan laboratorium Fisika dan Kimia tersebut.

PDIP Pantun 'Daripada Rangkai Kata', PKS Pamer Karya Anies di DKI

Fraksi PKS tidak sepakat dengan pantun dari PDIP yang meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan fokus bekerja daripada sibuk merangkai kata. Bagi PKS, Anies sudah memberi karya bagi Jakarta.

"Bagaimana membangun transportasi integrasi. Itu kerja beliau sebagai gubernur. Pedestrian, jalur sepeda. Jadi masyarakat familiar gunakan semua transportasi. Orang pejalan kaki dihormati betul. Bangun pedestrian yang nyaman di Jalan Thamrin, di Jalan Sudirman. Itu contoh kerja Pak Anies, jadi bukan hanya pandai merangkai kata, tapi juga membuktikan, membuat karya untuk Jakarta," ucap Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta Mohammad Arifin, saat dihubungi, Selasa (4/12/2019).

Arifin membandingkan kerja Anies dengan gubernur sebelumnya, khususnya saat era Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang didukung oleh PDIP. Salah satu yang dibandingkan soal predikat WTP yang diraih DKI di masa Anies.

"Anies ini prestasi sudah banyak dalam mengelola Jakarta. Contohnya soal penggunaan anggaran, dua tahun berturut-turut BPK audit, dua tahun wajar tanpa pengecualian. Itu bukti beliau bekerja dengan baik. Zaman Jokowi, Ahok kan nggak ada," kata Arifin.

PKS sebenarnya tidak heran dengan kritikan-kritikan PDIP kepada Anies. Bagi PKS, PDIP bukan pendukung Anies sebagai gubernur sehingga akan terus mengkritik Anies.

"Wajar lah (PDIP mengkritik), kita hormati, kita memaklumi sebagai bagian dari demokrasi. Kita ingin, meski kita beda pandangan politik, beda dukungan kepada gubernur. Tapi menilai gubernur secara objektif, tidak apriori. Kita harap begitu," kata Arifin.