Jumat, 10 Januari 2020

Archipelago Resmikan Hotel Baru Nan Nyaman di Medan

Archipelago International meresmikan hotel midscale terbaru mereka di Medan. Hotel kelas menengah ini siap melayani traveler yang liburan ke Medan.

Harper Wahid Hasyim adalah hotel terbaru di bawah pengelolaan manajemen Archipelago Internasional di Medan, Sumatera Utara. Hotel ini merupakan properti ke-146 yang dimiliki oleh jaringan hotel tersebut di berbagai lokasi.

Acara peresmian hotel ini berlangsung dengan khidmat pada Senin (22/7). Acara tersebut dihadiri oleh Asisten Umum Setda Kota Medan Renward Parapat mewakili Wali Kota Medan Dzulmi Eldin yang berhalangan, owner hotel Budi Suryo, President and CEO Archipelago International John Flood, dan Vice President Business Development Archipelago Internasional Meet Norbert Vas.

Proses pemotongan tumpeng oleh para stakeholder secara bersamaan pun menandai bahwa Hotel Harper Wahid Hasyim Medan sudah diresmikan buat traveler. Kota Medan dipilih karena pasarnya masih sangat potensial.

"Kenapa Medan? karena kota ini membutuhkan luxury hotel, tapi dengan konsep dan harga yang kompetitif. Long short story, lahan yang tersedia terlalu sempit untuk dibangun luxury hotel. Akhirnya pilihan terbaik yaitu Hotel Harper," kata Vice President Business Development Archipelago Internasional, Meet Norbert Vas di Ruang Meeting Ulin I, Hotel Harper Wahid Hasyim Medan, Senin (22/7/2019) lalu.

Brand Hotel Harper sendiri memposisikan diri berada di tengah, di atas hotel budget bintang 3, namun di bawah hotel bintang 5. Hotel 89 kamar ini akan jadi hotel kedua di bawah brand Harper yang beroperasi di Sumatera, setelah Harper Palembang.

Lokasi hotel ini juga terhitung strategis karena tak sampai 10 menit jalan kaki, traveler sudah bisa berwisata kuliner di Ucok Durian atau berkunjung ke destinasi seru seperti Upside Down World hingga Rahmat Internasional Wildlife Museum and Gallery. Cocok banget buat liburan sekeluarga.

"Kami berharap okupansi di hotel ini selalu 100 persen. Setiap hari kami bekerja agar target itu terpenuhi. Okupansi 2 hotel kami di Medan cukup bagus, rata-rata mencapai 85%. Kami berharap Hotel Harper Wahid Hasyim akan jadi leader di market ini. Kami sangan percaya diri," ungkap John Flood, President and CEO Archipelago International.

Harper Wahid Hasyim Medan memiliki 3 tipe kamar, yaitu Superior, Deluxe dan Suite. Selama masa pembukaan hotel, berlaku opening rate seharga Rp 555 ribu untuk kamar superior buat traveler.

Sedangkan untuk kamar deluxe, mulai dari Rp 705 ribu dan untuk kamar Suite mulai dari Rp 1,2 juta per malam. Sementara untuk meeting, harganya mulai Rp 200 ribu per pax.

Mengapa Jepang Disebut 'Negeri Matahari Terbit'?

Tiap negara di dunia punya julukan masing-masing. Misalnya Jepang terkenal dengan nama 'Negeri Matahari Terbit', mengapa disebut seperti itu?

Jepang sudah jadi impian traveler dunia, apalagi traveler Indonesia. Jepang memiliki banyak atraksi wisata dari bentang alam yang indah, budaya yang khas, kuliner sampai sebagai surga belanja.

Negeri Matahari Terbit, sudah melekat bagi Jepang. Julukan negaranya, yang rasanya semua orang tahu. Tapi tunggu, apakah kamu tahu kalau ada sejarah panjang mengenai julukan itu?

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Rabu (24/7/2019) pada masa-masa sebelum tahun Masehi, kekaisaran China lebih maju, lebih berkuasa dan lebih hebat dibanding kekaisaran Jepang. Saat itu, Jepang disebut dengan nama Wa yang artinya kerdil.

Meski begitu, orang-orang China pun kala itu menyebut Jepang sebagai tempat matahari terbit. Sebab posisi Jepang berada di timur China, sehingga matahari terbit lebih dulu terlihat dari sana.

Ada sejarah panjang antara China dan Jepang di awal-awal tahun Masehi. China sebagai negara maju saat itu, menjadi 'kiblat' orang-orang Jepang dalam segala hal. Singkat katanya, Jepang belajar dari China.

Di sekitar abad 6 Masehi, Pangeran Shotoku menyerap banyak pengaruh China dalam kehidupan Jepang seperti sistem administrasi dan lainnya. Bisa dibilang, Pangeran Shotoku sangat nge-fans dengan China.

Bahkan dia tahu, kalau sebenarnya orang-orang China menyebut Jepang dengan sebutan tempat matahari terbit. Barulah dia kemudian mengganti Jepang yang semula dikenal dengan nama Wa, menjadi Nihon atau juga disebut Nippon yang memiliki arti 'asal muasal matahari'.

Namun, rupanya Dinasti Sui yang berkuasa di China ketika itu, tidak menyukai nama tersebut. Apalagi ketika Pangeran Shotoku mengirim surat Kaisar Yang dengan tulisan 'Anak dari Surga yang muncul di tempat matahari terbit'.

Mitos Petilasan Raja Brawijaya di Jalur Baru Gunung Lawu

Menjelang bulan Agustus peringatan HUT RI banyak traveler yang pendakian ke puncak gunung. Salah satu gunung yang menjadi tujuan para pendaki yakni Gunung Lawu.

Dari wilayah Magetan, selain melalui Cemoro Sewu, untuk menuju puncak Gunung lawu yang berada antara kabupaten Magetan dan Karanganyar dan Ngawi, memiliki jalur pendakian baru yakni jalur via Singolangu. Jalur Singolangu ini diyakini sebagai jalur klasik atau kuno, petilasan raja Brawijaya.

"Jalur klasik Singolangu ini konon petilasan raja Brawijaya. Jadi merupakan jalur klasik atau kuno yang baru di buka kembali," ujarnya.

Nedi menuturkan, jalur Singolangu menyuguhkan pemandangan yang lebih indah. Karena pendaki bisa langsung melihat keindahan Telaga Sarangan dan hamparan Kota Magetan dari sisi timur.

Pendaki juga bisa melihat beberapa petilasan sepert batu lapak yang dipercaya sebaga petilasan Raja Brawijaya, serta ada beberapa peninggalan Belanda yang berkaitan dengan jalur pendakian di Singolangu.

"Pendaki bisa melihat pemandangan indahnya telaga sarangan dan hamparan kota Magetan. Beberapa petilasan raja Brawijaya serta peninggalan Belanda juga ada. Dari pos satu kita disuguhi camping ground dengan hutan yang masih alami. Setelah itu di pos dua ada batu lapak. Kita juga akan disuguhi sunrise yang indah," paparnya.

Data yang dihimpun detikcom, Rabu (24/7/2019) jalur via Singolangu ini merupakan terbaru dari lima jalur menuju puncak gunung Lawu yang memiliki ketinggian 3170 mdpl. Untuk jalur lama di wilayah Magetan yakni via Cemoro Sewu perbatasan dengan jalur Cemoro Kandang di wilayah Karanganyar Jawa Tengah. Di Karanganyar juga ada jalur via Candi Cetho dan terakhir melalui jalur Jogorogo, Ngawi.

Selama ini, jalur Singolangu dikelola dengan anggaran bersumber dari swadaya pemuda Dusun Singolangu. Harapannya jalur tersebut mampu menumbuhkan perekonomian dan mengurangi pengangguran dengan potensi wisata baru di sepanjang jalur.

Archipelago Resmikan Hotel Baru Nan Nyaman di Medan

Archipelago International meresmikan hotel midscale terbaru mereka di Medan. Hotel kelas menengah ini siap melayani traveler yang liburan ke Medan.

Harper Wahid Hasyim adalah hotel terbaru di bawah pengelolaan manajemen Archipelago Internasional di Medan, Sumatera Utara. Hotel ini merupakan properti ke-146 yang dimiliki oleh jaringan hotel tersebut di berbagai lokasi.

Acara peresmian hotel ini berlangsung dengan khidmat pada Senin (22/7). Acara tersebut dihadiri oleh Asisten Umum Setda Kota Medan Renward Parapat mewakili Wali Kota Medan Dzulmi Eldin yang berhalangan, owner hotel Budi Suryo, President and CEO Archipelago International John Flood, dan Vice President Business Development Archipelago Internasional Meet Norbert Vas.

Proses pemotongan tumpeng oleh para stakeholder secara bersamaan pun menandai bahwa Hotel Harper Wahid Hasyim Medan sudah diresmikan buat traveler. Kota Medan dipilih karena pasarnya masih sangat potensial.

"Kenapa Medan? karena kota ini membutuhkan luxury hotel, tapi dengan konsep dan harga yang kompetitif. Long short story, lahan yang tersedia terlalu sempit untuk dibangun luxury hotel. Akhirnya pilihan terbaik yaitu Hotel Harper," kata Vice President Business Development Archipelago Internasional, Meet Norbert Vas di Ruang Meeting Ulin I, Hotel Harper Wahid Hasyim Medan, Senin (22/7/2019) lalu.

Brand Hotel Harper sendiri memposisikan diri berada di tengah, di atas hotel budget bintang 3, namun di bawah hotel bintang 5. Hotel 89 kamar ini akan jadi hotel kedua di bawah brand Harper yang beroperasi di Sumatera, setelah Harper Palembang.

Lokasi hotel ini juga terhitung strategis karena tak sampai 10 menit jalan kaki, traveler sudah bisa berwisata kuliner di Ucok Durian atau berkunjung ke destinasi seru seperti Upside Down World hingga Rahmat Internasional Wildlife Museum and Gallery. Cocok banget buat liburan sekeluarga.

"Kami berharap okupansi di hotel ini selalu 100 persen. Setiap hari kami bekerja agar target itu terpenuhi. Okupansi 2 hotel kami di Medan cukup bagus, rata-rata mencapai 85%. Kami berharap Hotel Harper Wahid Hasyim akan jadi leader di market ini. Kami sangan percaya diri," ungkap John Flood, President and CEO Archipelago International.