Jumat, 07 Februari 2020

Seru! Adu Cepat River Tubing di Wonosobo

Libur akhir pekan di Wonosobo dimanfaatkan 135 wisatawan untuk bermain River Tubing di Sungai Kaliputih. Mereka bahkan berlomba adu cepat ke garis finish.

Jika biasanya hanya tubing biasa, kali ini wisatawan adu cepat menyusuri sungai sejauh 3 kilometer. Dengan menggunakan ban dalam, wisatawan dibagi tiga orang per tim. Mereka diminta untuk mengumpulkan bendara yang sudah dipasang di beberapa titik.

Dengan banyaknya jeram, menambah keseruan lomba tubing di Sungai Kaliputih tersebut. Muhammad Sholeh, salah satu peserta lomba tubing ini mengaku tertantang untuk menyusuri Sungai Kaliputih dengan cepat.

Meskipun, ia mengaku di tengah jalan terganggu dengan jeram dan bebatuan yang ada di sungai.

"Ini kan bukan tubing biasa jadi lebih seru. Apalagi kita harus kerjasama dengan teman satu tim, ini sekaligus menguji kekompakan," tuturnya, Minggu (7/4/2019).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo One Andang Wardoyo mengatakan, lomba tubing ini diikuti 135 peserta dari berbagai kota. Ia berharap, nantinya bisa menjadi cikal bakal olahraga tubing.

"Pesertanya ada yang dari Jepara, Cilacap, Banjarnegara dan Wonosobo. Jadi para peserta diadu kecepatan, ketangkasan dan kekompakannya," ujarnya.

Selain itu, lomba ini juga menjadi salah satu upaya untuk menggenjot periwisata di Wonosobo wilayah barat. Sebab, selama ini pariwisata di Wonosobo masih terpusat di wilayah utara.

"Selama ini yang paling dikenal adalah Dieng yang berada di wilayah utara. Padahal di wilayah lain juga punya potensi, seperti di wilayah barat. Ada wisata minat khusus seperti tubing," kata dia.

Di Jerman, Tabung Gas Raksasa Diubah Jadi Galeri Seni

Jerman terkenal akan industrinya yang maju pesat. Saat teknologi makin berkembang, teknologi lama seperti tabung gas raksasa ini pun diubah jadi galeri seni.

Tak ada yang meragukan kemajuan teknologi di Jerman. Kemajuan teknologi di Negeri Bavaria melahirkan kota-kota industri baru seperti Oberhausen di daerah Lembah Ruhr. Tapi itu dulu.

Seiring kemajuan teknologi pula, industri dengan alat berat kini mulai ditinggalkan. Akibatnya, banyak pabrik-pabrik tua yang terbengkalai. Daripada mangkrak dan dihancurkan, ada beberapa bangunan yang dialihfungsikan untuk pariwisata. Salah satunya adalah Gasometer Oberhausen.

detikcom bersama rombongan Famtrip Singapore Airlines berkunjung ke Gasometer Oberhausen pada akhir Maret lalu. Singapore Airlines memang punya rute penerbangan ke Jerman, tepatnya ke Kota Dusseldorf, yang hanya berjarak kurang dari 1 jam dari Oberhausen.

Sesampainya di Gasometer Oberhausen, kami sudah disambut oleh Thomas Macoczeck, pemandu yang akan menemani kami berkeliling. Kepada detikcom, Thomas bercerita banyak tentang sejarah bangunan setinggi 170 meter dan berdiameter 67,6 meter ini.

"Gasometer ini adalah tempat penyimpanan gas. Dulunya digunakan untuk industri pembuatan baja. Bangunan ini dibangun pada 1927 dan mulai digunakan tahun 1929," terang Thomas kepada detikcom, Sabtu (23/3) lalu.

Saat Perang Dunia Kedua, bangunan yang mampu menampung 347 ribu meter kubik gas ini, mengalami kerusakan gara-gara bom. Hingga pada 1949, bangunan itu selesai direkonstruksi. Namun pada akhirnya, industri baja di Oberhausen pun tutup karena minimnya permintaan.

Sehari Bersama Gajah-Gajah Way Kambas

Traveler yang penasaran dengan kehidupan gajah-gajah di Taman Nasional Way Kambas bisa langsung mampir ke sini. Seru banget bisa lebih dekat dengan mereka.

Dari Bakauheni, sekarang jangan masuk Tol, lewat lintas timur saja. Plus minus 2 jam akan sampai di Way Kambas. Ada apa di sana? Ada banyak Gajah, tapi banyak cerita lainnya ternyata.

Akhirnya bersama Adji Soegiatno Andi Dinata Suyoto Bimantoro Antonius Sulistya W Bayu Ramadhan Sulomo M Oktavina Damayanti Zainal Abidin Larry Siahaan Moh Solihin Rizki Swastantomo Bintang Liar dan om Anjar dan pak Haji Susila, setelah 4 jam terimbang ambing di Selat sunda bisa merapat di bakauheni jam 10-an malam

Melanjutkan sekitar 44 menit melipir ke Labuan Maringgai, ambil Udang Vaname dan ikan lainnya buat bebakaran. Setelah rehat sejenak lanjut ke Way Kambas sejaman lagi

Akhirnya sampai kita ke ttik kumpul bersama Guide kita, pak Palgunari. Walau sudah jam 1 malam rombongan ini tetap semangat.

Setelah di briefing akhirnya kita mulai perjalanan sekitar 12 km menuju penginapan di dalam Taman National Way Kambas. Ingat masuk ke sini harus didampingi karena kita jalan sekitar 9 km di hutan tanpa penduduk.

Sampailah di penginapan, langsung bertemu dan melihat Rusa Liar dan gajah-gajah terlatih yang sedang rehat.

Jam 6 pagi, kita sudah mulai beraktivitas untuk melihat gajah-gajah terlatih yang konon katanya sekarang berjumlah 62 ekor. Setiap ekor gajah dihandle oleh 1 pawang.

Baru tahu kalau gajah bisa berumur sampai dengan 60 tahunan. Gajah bereproduksi umur 20 tahunan, dan mengandung selama 24 bulan.

Mulai lah dengan aktivitas lari pagi, foto ala takut-takut, foto bersama gajah terlatih sambil bermain (nama gajahnya Rahmi), menunggang gajah, mandiin gajah (ini cuma satu orang aja yang berani dan nama gajahnya Aris), serta main sama bayi-bayi gajah (nunik namanya).

Lanjut foto-foto pakai seragam di savana, dimana masih banyak satwa liar. Jam 10-an pagi, finish trip kita. Kita lanjut balik ke Jakarta via Bandar Lampung untuk nyicip durian, pempek, otak-otak dan bakso.

Akhirnya jam 2 malam semua personel telah tiba di rumah masing-masing.

Seru! Adu Cepat River Tubing di Wonosobo

Libur akhir pekan di Wonosobo dimanfaatkan 135 wisatawan untuk bermain River Tubing di Sungai Kaliputih. Mereka bahkan berlomba adu cepat ke garis finish.

Jika biasanya hanya tubing biasa, kali ini wisatawan adu cepat menyusuri sungai sejauh 3 kilometer. Dengan menggunakan ban dalam, wisatawan dibagi tiga orang per tim. Mereka diminta untuk mengumpulkan bendara yang sudah dipasang di beberapa titik.

Dengan banyaknya jeram, menambah keseruan lomba tubing di Sungai Kaliputih tersebut. Muhammad Sholeh, salah satu peserta lomba tubing ini mengaku tertantang untuk menyusuri Sungai Kaliputih dengan cepat.

Meskipun, ia mengaku di tengah jalan terganggu dengan jeram dan bebatuan yang ada di sungai.

"Ini kan bukan tubing biasa jadi lebih seru. Apalagi kita harus kerjasama dengan teman satu tim, ini sekaligus menguji kekompakan," tuturnya, Minggu (7/4/2019).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo One Andang Wardoyo mengatakan, lomba tubing ini diikuti 135 peserta dari berbagai kota. Ia berharap, nantinya bisa menjadi cikal bakal olahraga tubing.

"Pesertanya ada yang dari Jepara, Cilacap, Banjarnegara dan Wonosobo. Jadi para peserta diadu kecepatan, ketangkasan dan kekompakannya," ujarnya.