Libur akhir pekan di Wonosobo dimanfaatkan 135 wisatawan untuk bermain River Tubing di Sungai Kaliputih. Mereka bahkan berlomba adu cepat ke garis finish.
Jika biasanya hanya tubing biasa, kali ini wisatawan adu cepat menyusuri sungai sejauh 3 kilometer. Dengan menggunakan ban dalam, wisatawan dibagi tiga orang per tim. Mereka diminta untuk mengumpulkan bendara yang sudah dipasang di beberapa titik.
Dengan banyaknya jeram, menambah keseruan lomba tubing di Sungai Kaliputih tersebut. Muhammad Sholeh, salah satu peserta lomba tubing ini mengaku tertantang untuk menyusuri Sungai Kaliputih dengan cepat.
Meskipun, ia mengaku di tengah jalan terganggu dengan jeram dan bebatuan yang ada di sungai.
"Ini kan bukan tubing biasa jadi lebih seru. Apalagi kita harus kerjasama dengan teman satu tim, ini sekaligus menguji kekompakan," tuturnya, Minggu (7/4/2019).
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo One Andang Wardoyo mengatakan, lomba tubing ini diikuti 135 peserta dari berbagai kota. Ia berharap, nantinya bisa menjadi cikal bakal olahraga tubing.
"Pesertanya ada yang dari Jepara, Cilacap, Banjarnegara dan Wonosobo. Jadi para peserta diadu kecepatan, ketangkasan dan kekompakannya," ujarnya.
Selain itu, lomba ini juga menjadi salah satu upaya untuk menggenjot periwisata di Wonosobo wilayah barat. Sebab, selama ini pariwisata di Wonosobo masih terpusat di wilayah utara.
"Selama ini yang paling dikenal adalah Dieng yang berada di wilayah utara. Padahal di wilayah lain juga punya potensi, seperti di wilayah barat. Ada wisata minat khusus seperti tubing," kata dia.
Di Jerman, Tabung Gas Raksasa Diubah Jadi Galeri Seni
Jerman terkenal akan industrinya yang maju pesat. Saat teknologi makin berkembang, teknologi lama seperti tabung gas raksasa ini pun diubah jadi galeri seni.
Tak ada yang meragukan kemajuan teknologi di Jerman. Kemajuan teknologi di Negeri Bavaria melahirkan kota-kota industri baru seperti Oberhausen di daerah Lembah Ruhr. Tapi itu dulu.
Seiring kemajuan teknologi pula, industri dengan alat berat kini mulai ditinggalkan. Akibatnya, banyak pabrik-pabrik tua yang terbengkalai. Daripada mangkrak dan dihancurkan, ada beberapa bangunan yang dialihfungsikan untuk pariwisata. Salah satunya adalah Gasometer Oberhausen.
detikcom bersama rombongan Famtrip Singapore Airlines berkunjung ke Gasometer Oberhausen pada akhir Maret lalu. Singapore Airlines memang punya rute penerbangan ke Jerman, tepatnya ke Kota Dusseldorf, yang hanya berjarak kurang dari 1 jam dari Oberhausen.
Sesampainya di Gasometer Oberhausen, kami sudah disambut oleh Thomas Macoczeck, pemandu yang akan menemani kami berkeliling. Kepada detikcom, Thomas bercerita banyak tentang sejarah bangunan setinggi 170 meter dan berdiameter 67,6 meter ini.
"Gasometer ini adalah tempat penyimpanan gas. Dulunya digunakan untuk industri pembuatan baja. Bangunan ini dibangun pada 1927 dan mulai digunakan tahun 1929," terang Thomas kepada detikcom, Sabtu (23/3) lalu.
Saat Perang Dunia Kedua, bangunan yang mampu menampung 347 ribu meter kubik gas ini, mengalami kerusakan gara-gara bom. Hingga pada 1949, bangunan itu selesai direkonstruksi. Namun pada akhirnya, industri baja di Oberhausen pun tutup karena minimnya permintaan.