Senin, 06 April 2020

Pangandaran Bakal Tutup Objek Wisata Andai COVID-19 Makin Parah

Pemerintah Kabupaten Pangandaran masih membuka objek wisata pantai di tengah ancaman penyebaran wabah COVID-19. Faktor ekonomi menjadi pertimbangan.
Virus Corona gentayangan di Indonesia tanpa mengenal atas laut. Hingga saat ini, Pantai Pangandaran belum mengunci areanya.

Tapi, andai Virus Corona COVID-19 semakin menggila, bukan tak mungkin destinasi wisata yang ada di sana terpaksa ditutup.

"Tapi, kebijakan tetap membuka objek wisata ini bersifat fleksibel. Artinya, seandainya besok atau lusa lusa, ekskalasi penyebaran semakin parah, tentu segera kami lockdown," kata Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata.

Pantauan detikcom, Selasa (17/3/2020) suasana kawasan wisata Pantai Pangandaran relatif sepi dari biasanya. Pantai barat yang biasanya menjadi titik keramaian tampak lengang. Puluhan perahu pesiar berbaris rapi di pinggir pantai. Kalaupun ada aktivitas adalah para nelayan yang sedang menjaring ikan.

"Dampaknya mulai terasa, biasanya kalau weekday seperti hari ini, yang kami andalkan adalah kunjungan wisatawan rombongan, yang study tour, gathering atau lainnya. Sekarang tidak ada, sepi," kata Iyan (34) penyedia jasa perahu wisata.

Iyan mengatakan banyak agenda kegiatan kunjungan wisata yang sudah terjadwal mendadak dibatalkan atau ditangguhkan.

"Acara motor Harley-Davidson lalu acara Vespa di Batukaras, semua ditunda," katanya.

Imas, pemilik warung nasi juga mengutarakan keluhan serupa. Ia hanya bisa pasrah dan berharap musibah virus Corona segera berlalu.

"Jadi bingung. Mana barang-barang makanan di pasar harganya mulai naik, terus mau menghadapi bulan ramadan. Bingung, pasrah sajalah," kata Imas.

Sebelumnya, Pemkab Pangandaran mengimbau pemilik hotel untuk melengkapi diri dengan alat pemantau suhu tubuh. Jika ditemukan pasien yang sakit atau demam, pihak hotel diwajibkan melapor ke Dinas Kesehatan atau Puskesmas terdekat.

"Kita lakukan pemeriksaan kondisi kesehatan pengunjung hotel. Pihak pengelola hotel harus melengkapi diri dengan alat pemantau suhu," kata Bupati Jeje.

Ketika Kawasan Prostitusi Ternama Tokyo Jadi Kota Hantu

 Nama Kabuki-cho di Shinjuku identik sebagai red light district Tokyo. Hanya saja, akibat COVID-19, kawasan hiburan malam ternama itu sepi.
Fenomena tak biasa itu pun dilihat dan dipotret langsung oleh salah satu warganet dengan akun Twitter @GOLDMAN4160. Dilihat detikcom, Selasa (17/3/2020), dalam unggahannya itu, dia menampilkan sisi lain Kabuki-cho di malam hari yang sepi dan kosong melompong.

"Suasana di Kabuki-cho akibat koronavirus. Ini sekitar pukul 02.30 pagi, tapi mungkin ini pertama kalinya tempat ini begitu sepi. Padahal Kabuki-cho dikenal sebagai kota yang tak pernah tidur," tulis @GOLDMAN4160 dalam cuitannya (9/3).


ゼルダ
@GOLDMAN4160
歌舞伎町一番街コロナの影響なのか人いないってレベルじゃないですね。現在時刻2時30分ですが、眠らない街歌舞伎町と言われていたのにこんな人いないの初めてかもしれません。

Lihat gambar di TwitterLihat gambar di Twitter
67,4 rb
00.36 - 9 Mar 2020
Info dan privasi Iklan Twitter
19,7 rb orang memperbincangkan tentang ini

Tak sedikit warganet yang merasa takjub sekaligus heran dengan sepinya suasana di Kabuki-cho saat itu. Ada yang menyebutnya kiamat, sampai menyinggung zombie.

"Ini adalah sesuatu yang tidak pernah saya lihat di Kabuki-cho," ujar warganet.

"Sepertinya zombie bisa muncul kapan saja," ujar warganet lain.

Terkait COVID-19, Pemerintah Jepang memang mengimbau warganya untuk menghindari keramaian. Imbauan itu pun begitu jelas terlihat di Kabuki-cho, Tokyo yang tak seperti biasanya.

Malaysia Larang Penduduk ke Luar Negeri Selama 2 Minggu

Malaysia memberlakukan kebijakan baru dalam menghadapi wabah virus Corona. Perdana Menteri melarang warganya untuk meninggalkan negara selama dua minggu.

Dilansir dari Business Insider, Senin (16/3/2020) malam, Perdana Menteri Malaysia, Tan Sri Muhyiddin Yassin, mengumumkan untuk menutup perbatasan Malaysia selama 14 hari. Itu sebagai upaya menghadapi penyebaran virus Corona. Bukan lockdown, melainkan perintah kontrol gerakan akan membatasi orang Malaysia untuk keluar negeri dan mencegah orang asing masuk, kebijakan ini akan diterapkan mulai 18 Maret hingga 31 Maret 2020.

Warga Malaysia yang baru kembali dari luar negeri pun akan diberikan pemeriksaan kesehatan. Selain itu, warga itu harus menjalani karantina selama 14 hari.

Menurut The Star, sekitar 400.000 warga Malaysia melakukan perjalanan dari dan ke Singapura untuk bekerja dan belajar. Belum diketahui dengan jelas bagaimana kebijakan ini akan mempengaruhi aktivitas mereka.

Pertemuan massal untuk kegiatan keagamaan, olahraga, sosial dan budaya pun akan dilarang. Selama 14 hari, semua tempat ibadah dan bisnis serta kantor-kantor pemerintah dan swasta akan ditutup.

Sementara supermarket, pasar umum dan toko serba ada akan tetap dibuka. Kantor-kantor yang menyediakan layanan penting seperti air, listrik, telekomunikasi, kesehatan, kebakaran dan lain - lain juga tetap dibuka.

Perdana Menteri Malaysia menyebut perintah ini sebagai langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus mematikan ini. Walaupun mungkin nantinya warga Malaysia akan merasa kesulitan saat menjalani kehidupan sehari-hari.

"Tindakan tegas harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit dengan membatasi pergerakan masyarakat. Ini adalah satu-satunya cara kita untuk mencegah lebih banyak orang yang terinfeksi oleh wabah yang dapat menghancurkan kehidupan," kata Muhyiddin menurut New Straits Times.

Sekarang, Malaysia menjadi negara dengan jumlah infeksi virus Corona tertinggi di Asia Tenggara, yaitu 553 orang. Dari jumlah ini 125 orang dikonfirmasi pada hari Senin.

Namun, semua langkah-langkah yang diperintahkan oleh Perdana Menteri Malaysia bukanlah lockdown. Seorang ahli mengklarifikasi bahwa 'Perintah Kawalan Gerakan' bukanlah lockdown seperti yang dilakukan China, Italia dan berbagai negara lainnya.

Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Seri Dzulkefly Ahmad yang juga seorang Ketua Satuan Tugas Selangor COVID-19 menggambarkan gerakan ini sebagai jaga jarak sosial untuk meratakan kurva epidemi.

"Ini tidak seperti lockdown sama sekali. Lockdown adalah ketika Anda tidak bisa meninggalkan rumah, Anda tidak bisa keluar untuk membeli makanan," kata Dzulkefly.

Warga Malaysia juga memperingatkan untuk tidak mencampuradukkan kedua tindakan ini. Sampai saat ini, mereka masih sangat bebas bergerak di dalam batas negara.

Pangandaran Bakal Tutup Objek Wisata Andai COVID-19 Makin Parah

Pemerintah Kabupaten Pangandaran masih membuka objek wisata pantai di tengah ancaman penyebaran wabah COVID-19. Faktor ekonomi menjadi pertimbangan.
Virus Corona gentayangan di Indonesia tanpa mengenal atas laut. Hingga saat ini, Pantai Pangandaran belum mengunci areanya.

Tapi, andai Virus Corona COVID-19 semakin menggila, bukan tak mungkin destinasi wisata yang ada di sana terpaksa ditutup.

"Tapi, kebijakan tetap membuka objek wisata ini bersifat fleksibel. Artinya, seandainya besok atau lusa lusa, ekskalasi penyebaran semakin parah, tentu segera kami lockdown," kata Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata.

Pantauan detikcom, Selasa (17/3/2020) suasana kawasan wisata Pantai Pangandaran relatif sepi dari biasanya. Pantai barat yang biasanya menjadi titik keramaian tampak lengang. Puluhan perahu pesiar berbaris rapi di pinggir pantai. Kalaupun ada aktivitas adalah para nelayan yang sedang menjaring ikan.

"Dampaknya mulai terasa, biasanya kalau weekday seperti hari ini, yang kami andalkan adalah kunjungan wisatawan rombongan, yang study tour, gathering atau lainnya. Sekarang tidak ada, sepi," kata Iyan (34) penyedia jasa perahu wisata.