Rabu, 15 April 2020

Viral Ilmuwan Pembuat Virus Corona Ditangkap, Hoax or Not?

Pada 6 April silam, sebuah video penangkapan Profesor dari Harvard University Dr Charles Lieber ramai dibicarakan. Video dari laporan berita WCVB tersebut kemudian disebar di media sosial dan dilengkapi dengan keterangan pengunggahnya yakni 'pembuat virus corona ditangkap'.

Dalam video itu dijelaskan bahwa ilmuwan itu ditangkap karena memiliki afiliasi dengan China. Tapi apakah benar Lieber ditangkap karena menjadi biang kerok pandemi Corona?

Faktanya tidak, Lieber ditangkap karena berbohong mengenai keterlibatannya dengan China's Thousand Talents Plan dan Wuhan University of Technology. Dia juga tidak mengungkapkan soal gelontoran dana jutaan dolar dari pemerintah China untuk penelitian pihak asing.

Lebih lanjut, dari banyaknya pemberitaan, tidak ada yang menyebut mengenai virus Corona terkait kasus penangkapan Dr Lieber. Sehingga bisa disimpulkan berita tersebut adalah salah, sebagaimana ditulis Rappler.

Sebelumnya, sejumlah ilmuwan sepakat bahwa SARS-CoV-2 tidaklah sebuah virus yang diciptakan di laboraturium. Penelitian ini kemudian dijelaskan dalam jurnal 'The proximal origin of SARS-CoV-2'.

"Analisis kami dengan jelas menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 bukan merupakan hasil ciptaan di laboratorium atau virus yang dimanipulasi secara sengaja," kata penulis.

Kabar Baik! 25 Calon Obat Virus Corona Lagi Disiapkan

Para dokter dan ilmuwan terus berpacu dengan waktu menyiapkan vaksin atau obat virus Corona. Ada belasan calon obat dari seluruh dunia, semoga cepat selesai.

Hal ini dihimpun Clinical Trials Arena. Ini adalah website pemberitaan khusus untuk proses riset dan pengembangan obat yang berbasis di London, Inggris.

Mereka menghimpun data aneka belasan calon obat dan vaksin untuk COVID-19 yang sedang dikembangkan. Diharapkan, pada akhir April uji klinis untuk calon vaksin ini sudah bisa dilakukan.

Seperti dilihat detikInet, Selasa (14/4/2020) inilah daftar calon obat dan vaksin COVID-19:
1. Chloroquine
Chloroquin atau Kloroquin adalah obat malaria yang sekarang dipakai juga untuk melawan virus corona. Food and Drug Administration (FDA) Amerika sudah mengizinkan penggunaan darurat kloroquin untuk mengobati COVID-19.

2. Favilavir
National Medical Products Administration di China sudah mengizinkan penggunaan Favilavir untuk mengobati virus Corona. Sudah ada uji klinik dengan 70 pasien di Shenzen, China dan menunjukkan efek positif.

3. Vaksin Fusogenix DNA
Entos Pharmaceuticals sedang mengembangkan vaksin Fusogenix DNA. Entos sedang mengembangkan protein yang diambil dari SARS-CoV-2 untuk menstimulasi imunitas tubuh untuk mencegah infeksi COVID-19.

4. ChAdOx1 nCoV-19
Universitas Oxford mengembangkan vaksin ChAdOx1 nCoV-19 lewat lembaga Jenner Institute yang dimilikinya. Uji klinik akan dilakukan di wilayah Thames Valley dengan 510 relawan.

5. Gimsilumab
Roivant Sciences mengembangkan obat antibodi Gimsilumab. Obat ini diharapkan mengurangi kerusakan paru-paru dan tingkat kematian pada pasien COVID-19.

6. AdCOVID
Altimmune berkolaborasi dengan University of Alabama at Birmingham (UAB) mengembangkan vaksin AdCOVID yang dimasukan lewat hidung. Uji coba pada hewan ditargetkan kuartal ketiga 2020.

7. TJM2
I-Mab Biopharma mengembangkan antibodi TJM2, untuk mengatasi badai cytokine pada pasien virus Corona. Pengembangan obat akan dilanjutkan usai dapat perizinan dari FDA Amerika.

8. Vaksin Coronavirus Medicago
Medicago mengembangkan antibodi melawan COVID-19. Mereka berkolaborasi dengan Infectious Disease Research Centre dari Laval University dan didanai Canadian Institutes for Health Research (CIHR).

9. AT-100
Airway Therapeutics mengembangkan protein AT-100 (rhSP-D) untuk mengobati virus Corona. Obat ini akan dievaluasi Respiratory Diseases Branch of the National Institutes of Health. AT-100 dilaporkan mengurangi infeksi paru-paru dengan menghasilkan imunitas terhadap penyakit pernafasan.

10. TZLS-501
Tiziana Life Sciences mengembangkan antibodi TZLS-501 untuk obat COVID-19. Obat ini mencegah kerusakan paru-paru. Belum diketahui kabar terkininya.

Bahaya Besar Herd Immunity Menurut Istri Bill Gates

Salah satu istilah yang belakangan ramai diperbincangkan di tengah pandemi corona adalah herd immunity. Melinda Gates, istri Bill Gates yang giat memperhatikan kesehatan dunia melalui yayasannya, Bill & Melinda Gates Foundation ikut menyinggungnya.
Pada dasarnya, herd immunity adalah kondisi saat sejumlah orang dalam populasi punya daya imun yang sangat baik sehingga tahan penyakit. Adanya herd immunity memungkinkan penyakit tidak menyebar lebih luas dan bisa ditahan.

Tapi apakah hal itu ide yang bagus melawan corona? Melinda menyatakan pada saat ini, masih jauh untuk mencapai level herd immunity corona dan juga sangat berbahaya jika memakai metode tersebut.

"Anda tidak mendapatkan herd immunity sampai persen besar populasi punya penyakitnya. Kita tahu soal itu dari semua penyakit yang diderita manusia pada masa lalu. Jadi tidak, kita masih jauh dari herd immunity," jawabnya, dikutip detikINET dari Business Insider.

"Dan Anda tidak bisa bergantung pada itu karena akan banyak orang meninggal jika Anda membiarkan eksperimen itu berjalan dan Anda membiarkan juga penyakit itu 'mengalir' ke masyarakat. Tentu kita bisa mendapat herd immunity dan kita juga akan memperoleh begitu banyak kematian," cetus Melinda.

Untuk saat ini, setidaknya sampai mendapatkan vaksin corona, Melinda menyarankan agar orang-orang mematuhi pencegahan yang terbukti efektif. Herd immunity tidak sebaiknya diharapkan untuk mengatasi pandemi COVID-19.

"Itulah mengapa penting mengingatkan orang bahwa yang kita punya saat ini adalah physical distancing, mencuci tangan dan memakai masker di publik. Kita harus menjalankan apa yang kita ketahui berhasil," pungkasnya.

Viral Ilmuwan Pembuat Virus Corona Ditangkap, Hoax or Not?

Pada 6 April silam, sebuah video penangkapan Profesor dari Harvard University Dr Charles Lieber ramai dibicarakan. Video dari laporan berita WCVB tersebut kemudian disebar di media sosial dan dilengkapi dengan keterangan pengunggahnya yakni 'pembuat virus corona ditangkap'.

Dalam video itu dijelaskan bahwa ilmuwan itu ditangkap karena memiliki afiliasi dengan China. Tapi apakah benar Lieber ditangkap karena menjadi biang kerok pandemi Corona?

Faktanya tidak, Lieber ditangkap karena berbohong mengenai keterlibatannya dengan China's Thousand Talents Plan dan Wuhan University of Technology. Dia juga tidak mengungkapkan soal gelontoran dana jutaan dolar dari pemerintah China untuk penelitian pihak asing.

Lebih lanjut, dari banyaknya pemberitaan, tidak ada yang menyebut mengenai virus Corona terkait kasus penangkapan Dr Lieber. Sehingga bisa disimpulkan berita tersebut adalah salah, sebagaimana ditulis Rappler.

Sebelumnya, sejumlah ilmuwan sepakat bahwa SARS-CoV-2 tidaklah sebuah virus yang diciptakan di laboraturium. Penelitian ini kemudian dijelaskan dalam jurnal 'The proximal origin of SARS-CoV-2'.

"Analisis kami dengan jelas menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 bukan merupakan hasil ciptaan di laboratorium atau virus yang dimanipulasi secara sengaja," kata penulis.