Rabu, 15 April 2020

Bill Gates Sindir Negara yang Tidak Siap Tangani Virus Corona

 Bill Gates menyindir kesiapan negara-negara yang kurang untuk menangani virus Corona. Padahal ia dan beberapa ahli kesehatan lainnya telah memperingatkan pandemi ini bisa terjadi kapan saja.
Gates sebelumnya telah memberi peringatan dalam pidato TED Talk-nya pada tahun 2015 yang berjudul 'The next outbreak? We're not ready'. Pendiri Microsoft ini juga mengutip studi yang diterbitkan oleh New England Journal of Medical.

Dengan peringatan tersebut, Gates berharap negara-negara akan lebih serius dalam berinvestasi dalam upaya pencegahan pandemi. Tapi Gates merasa bentuk investasinya masih sangat kurang.

"Kita tentu akan melihat ke belakang dan berharap kita telah berinvestasi lebih agar kita bisa memiliki semua diagnosa, obat-obatan dan vaksin," kata Gates dalam wawancara dengan BBC Breakfast yang dikutip detikINET dari The Hill, Rabu (15/4/2020).

"Kita melakukan CEPI, yang membantu beberapa platform vaksin tapi itu bahkan kurang dari 5% dari apa yang harus kita lakukan," sambungnya.

Gates mengatakan di bulan-bulan awal penyebaran virus Corona, negara-negara harusnya bisa melakukan persiapan yang lebih ekstensif. Misalnya dengan menyediakan tes serta meningkatkan kapasitas ICU di rumah sakit dan ventilator.

Pria berusia 64 tahun ini pun menyindir negara-negara yang tidak siap dalam menangani virus Corona. Ia mengatakan setelah pandemi ini selesai, hanya ada sedikit negara yang akan mendapatkan nilai A dalam caranya menangani COVID-19.

"Sekarang kita di sini, kita tidak mensimulasikan ini, kita tidak berlatih. Jadi, baik dalam kebijakan kesehatan dan kebijakan ekonomi, kami berada di wilayah yang belum dipetakan," ucapnya.

Sebelumnya Gates juga meminta pemimpin dunia untuk berkolaborasi melawan virus Corona. Ia meminta negara-negara untuk melakukan tiga hal utama untuk menangani penyebaran virus corona yaitu menyiapkan APD dan alat diagnosa, mendanai pengembangan vaksin dan memikirkan mekanisme produksi dan distribusi vaksin.

8 Obat MERS Dijajal untuk Atasi COVID-19

 MERS dan COVID-19 adalah sama-sama virus Corona. Adalah masuk akal jika obat MERS dicobakan juga untuk melawan pandemi saat ini.

Hal ini dihimpun Clinical Trials Arena, website pemberitaan khusus untuk proses riset dan pengembangan obat yang berbasis di London, Inggris. Mereka menghimpun data aneka belasan calon obat dan vaksin untuk COVID-19 yang sedang dikembangkan.

Diharapkan, pada akhir April uji klinis untuk calon vaksin Corona ini sudah bisa dilakukan. Seperti dilihat detikInet, Rabu (15/4/2020) inilah daftar obat MERS yang sedang diujikan untuk mengobati COVID-19:

1. Vaksin MERS CoV
Novavax pernah membuat kandidat vaksin untuk penyakit virus corona MERS pada 2013. Mereka sekarang dikucuri duit USD 4 juta oleh Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) untuk melanjutkan vaksin ini supaya bisa menjadi menjadi obat virus Corona. Uji coba hewan dan manusia ditargetkan pada 2020.
Baca juga: Kabar Baik! 25 Calon Obat Virus Corona Lagi Disiapkan

2. INO-4700
Inovio juga membuat obat lain untuk corona berupa vaksin INO-4700. Mereka menggandeng GeneOne Life Science. Sebelumnya obat ini dipakai untuk MERS-CoV dan membangkitkan imunitas pada 94% pasien pada uji klinik Juli 2019. MERS dan COVID-19 memang sama-sama keluarga virus Corona. Inovio dapat kucuran duit USD 5 juta dari Bill and Mellinda Gates foundation.

3. Remdesivir
Gilead Sciences mengusulkan obat Remdesivir yang sebelumnya untuk Ebola. Sekarang obat ini sedang uji fase III di negara-negara Asia yang kena virus Corona. 761 Pasien di Wuhan dicobakan obat ini dan hasilnya keluar beberapa pekan lagi.

Laporan dari The New England Journal of Medicine (NEJM), Remdesivir juga dicobakan untuk pasien di Amerika dan University of Nebraska Medical Center memakainya untuk pasien dari kapal pesiar Diamond Princess cruise.

Kabar Baik! 25 Calon Obat Virus Corona Lagi Disiapkan (2)

11. OYA1
OyaGen merancang OYA1 untuk obat virus Corona. Awalnya ini obat kanker, namun kurang berhasil, malahan lebih cocok untuk melawan virus Corona. OYA1 masih dalam penelitian mendalam dari OyaGen.

12. BPI-002
BeyondSpring menciptakan agen molekul BPI-002 yang bisa mengaktifkan CD4+ helper T cells, CD8+ cytotoxic T cells dan imunitas tubuh. Agen molekul ini mesti dikombinasikan dengan vaksin. BeyondSpring sudah mendaftarkan paten di Amerika untuk BPI-002.

13. Vaksin hidung Altimmune
Perusahaan biofarmasi AS, Altimmune mengembangkan vaksi intranasal untuk COVID-19. Desain dan sintesa dosis sudah selesai, selanjutnya mau masuk tahap uji coba dengan hewan.

14. INO-4800
Inovio Pharmaceuticals dan Beijing Advaccine Biotechnology berkolaborasi mengembangkan vaksin INO-4800. Vaksin ini mendapat suntikan dana USD 9 juta dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Inovio merupakan perusahaan yang juga disokong oleh Bill and Mellinda Gates Foundation.

Pada 3 Maret, mereka sudah mulai tahap uji pra-klinik. 3.000 dosis disiapkan untuk Amerika, China dan Korea Selatan, produksi massal juga disiapkan. Uji coba manusia akan dilakukan April 2020, hasilnya bisa diketahui September 2020. Inovio menargetkan produksi 1 juta vaksin di akhir 2020.

15. NP-120
Algernon Pharmaceuticals menyiapkan NP-120 (Ifenprodil) sebagai obat COVID-19. Ifenprodil dijual dengan nama Cerocal dan sudah berhasil diujicoba pada tikus.

16. APN01
University of British Columbia dan APEIRON Biologics mengembangkan APN01 yang lagi diuji di China sebagai fase awal pembuatan obat COVID-19. Obat ini untuk mengurangi virus di tubuh pasien. Riset awal akan dilanjutkan dengan uji coba pada banyak pasien.

17. Vaksin mRNA-1273
Moderna dan Vaccine Research Center dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) bekerja sama membuat vaksin yang menghancurkan Spike (S) protein pada coronavirus.

Pabrik Moderna di Massachusetts sudah membuat vaksin pertama untuk uji manusia oleh NIAID. Uji coba dilakukan 16 Maret kepada 45 orang di Seattle, selama sebulan.

18. VaksinAvian Coronavirus Infectious Bronchitis Virus (IBV)
The MIGAL Research Institute dari Israel mengembangkan vaksin IBV untuk virus corona pada unggas. Vaksin ini sudah dimodifikasi untuk melawan COVID-19. Mereka lagi cari rekanan untuk memproduksi vaksi dalam 8 minggu ke depan dan menunggu izin kelayakan untuk uji coba.

19. TNX-1800
Tonix Pharmaceuticals dan LSM Southern Research mengembangkan vaksin TNX-1800. Vaksin ini memodifikasi virus campak pada kuda yang bisa mempengaruhi protein pada virus Corona. Vaksin ini masih dalam tahap evaluasi dari Southern Research.

20. Brilacidin
Innovation Pharmaceuticals mengumumkan akan mencoba obat Brilacidin untuk melawan virus Corona. Obat ini awalnya untuk mucositis oral pada pasien kanker. Mereka bekerja sama dengan sebuah universitas dan 12 laboratorium di Amerika untuk uji coba sejak minggu ketiga Maret.

21. Vaksin Recombinant
Clover Biopharmaceuticals mengembangkan vaksin recombinant subunit dengan teknologi Trimer-Tag. Vaksin dikembangkan dari S protein (S-Trimer) pada virus Corona. Pada 10 Februari mereka sudah membuat kultur sel mamalia. Vaksin yang dimurnikan baru akan siap 8 minggu lau untuk pra uji klinik.

22. Vaksin coronavirus Vaxart
Vakart mengembangkan vaksin Corona oral menggunakan platform VAAST. Mereka masih akan uji coba pra klinik.

23. CytoDyn-leronlimab
CytoDyn meneliti leronlimab (PRO 140) untuk obat virus Corona. Obat ini aslinya lagi disiapkan untuk HIV dan sudah dapat izin FDA Amerika.

24. Vaksin Linear DNA
Applied DNA Sciences melalui LineaRx dan Takis Biotech berkongsi pada 7 Februari 2020 untuk mengembangkan vaksin linear DNA untuk melawan virus Corona. Mereka memakai Polymerase Chain Reaction (PCR)-based DNA menggunakan gen mahkota (spike) pada virus Corona dan masih harus menjalani uji coba pada hewan.

25. BXT-25
BIOXYTRAN mengajukan obat BX-25. Ini obat penyakit pernafasan akut yang dicobakan untuk melawan COVID-19. BX-25 5.000 kali lebih kecil dari sel darah dan membantu membawa oksigen ke seluruh tubuh supaya pasien corona bisa sembuh.