Bill Gates menyindir kesiapan negara-negara yang kurang untuk menangani virus Corona. Padahal ia dan beberapa ahli kesehatan lainnya telah memperingatkan pandemi ini bisa terjadi kapan saja.
Gates sebelumnya telah memberi peringatan dalam pidato TED Talk-nya pada tahun 2015 yang berjudul 'The next outbreak? We're not ready'. Pendiri Microsoft ini juga mengutip studi yang diterbitkan oleh New England Journal of Medical.
Dengan peringatan tersebut, Gates berharap negara-negara akan lebih serius dalam berinvestasi dalam upaya pencegahan pandemi. Tapi Gates merasa bentuk investasinya masih sangat kurang.
"Kita tentu akan melihat ke belakang dan berharap kita telah berinvestasi lebih agar kita bisa memiliki semua diagnosa, obat-obatan dan vaksin," kata Gates dalam wawancara dengan BBC Breakfast yang dikutip detikINET dari The Hill, Rabu (15/4/2020).
"Kita melakukan CEPI, yang membantu beberapa platform vaksin tapi itu bahkan kurang dari 5% dari apa yang harus kita lakukan," sambungnya.
Gates mengatakan di bulan-bulan awal penyebaran virus Corona, negara-negara harusnya bisa melakukan persiapan yang lebih ekstensif. Misalnya dengan menyediakan tes serta meningkatkan kapasitas ICU di rumah sakit dan ventilator.
Pria berusia 64 tahun ini pun menyindir negara-negara yang tidak siap dalam menangani virus Corona. Ia mengatakan setelah pandemi ini selesai, hanya ada sedikit negara yang akan mendapatkan nilai A dalam caranya menangani COVID-19.
"Sekarang kita di sini, kita tidak mensimulasikan ini, kita tidak berlatih. Jadi, baik dalam kebijakan kesehatan dan kebijakan ekonomi, kami berada di wilayah yang belum dipetakan," ucapnya.
Sebelumnya Gates juga meminta pemimpin dunia untuk berkolaborasi melawan virus Corona. Ia meminta negara-negara untuk melakukan tiga hal utama untuk menangani penyebaran virus corona yaitu menyiapkan APD dan alat diagnosa, mendanai pengembangan vaksin dan memikirkan mekanisme produksi dan distribusi vaksin.
8 Obat MERS Dijajal untuk Atasi COVID-19
MERS dan COVID-19 adalah sama-sama virus Corona. Adalah masuk akal jika obat MERS dicobakan juga untuk melawan pandemi saat ini.
Hal ini dihimpun Clinical Trials Arena, website pemberitaan khusus untuk proses riset dan pengembangan obat yang berbasis di London, Inggris. Mereka menghimpun data aneka belasan calon obat dan vaksin untuk COVID-19 yang sedang dikembangkan.
Diharapkan, pada akhir April uji klinis untuk calon vaksin Corona ini sudah bisa dilakukan. Seperti dilihat detikInet, Rabu (15/4/2020) inilah daftar obat MERS yang sedang diujikan untuk mengobati COVID-19:
1. Vaksin MERS CoV
Novavax pernah membuat kandidat vaksin untuk penyakit virus corona MERS pada 2013. Mereka sekarang dikucuri duit USD 4 juta oleh Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) untuk melanjutkan vaksin ini supaya bisa menjadi menjadi obat virus Corona. Uji coba hewan dan manusia ditargetkan pada 2020.
Baca juga: Kabar Baik! 25 Calon Obat Virus Corona Lagi Disiapkan
2. INO-4700
Inovio juga membuat obat lain untuk corona berupa vaksin INO-4700. Mereka menggandeng GeneOne Life Science. Sebelumnya obat ini dipakai untuk MERS-CoV dan membangkitkan imunitas pada 94% pasien pada uji klinik Juli 2019. MERS dan COVID-19 memang sama-sama keluarga virus Corona. Inovio dapat kucuran duit USD 5 juta dari Bill and Mellinda Gates foundation.
3. Remdesivir
Gilead Sciences mengusulkan obat Remdesivir yang sebelumnya untuk Ebola. Sekarang obat ini sedang uji fase III di negara-negara Asia yang kena virus Corona. 761 Pasien di Wuhan dicobakan obat ini dan hasilnya keluar beberapa pekan lagi.
Laporan dari The New England Journal of Medicine (NEJM), Remdesivir juga dicobakan untuk pasien di Amerika dan University of Nebraska Medical Center memakainya untuk pasien dari kapal pesiar Diamond Princess cruise.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar