Jumat, 17 April 2020

Update Corona di Indonesia 17 April: 5.923 Positif, 607 Sembuh, 520 Meninggal

Hingga Jumat (17/4/2020) tercatat jumlah kasus positif virus corona COVID-19 di Indonesia sebanyak 5.923. Jumlah pasieh sembuh 607 dan meninggal 520.
"Spesimen yang sudah diperiksa sudah lebih dari 42 ribu," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, Jumat (17/4/2020).

Kasus positif mengalami penambahan sebanyak 407 sehingga total secara akumulatif menjadi 5.923.

Jumlah pasien yang mendapat hasil negatif dalam 2 kali pemeriksaan dan dinyatakan sembuh bertambah 59 menjadi 607.

Pasien meninggal dunia meningkat 24 kasus menjadi 520.

Hati-hati, 5 Asupan Ini Ternyata Bisa Picu Diabetes Lho!

 Diabetes merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula (glukosa) dalam darah, hingga melampaui jumlah normal. Ini disebabkan karena adanya gangguan pada tubuh, sehingga tidak mampu memproses gula darah dengan baik dan akhirnya menumpuk.
Ada dua tipe diabetes, yaitu tipe 1 dan 2. Keduanya bisa muncul jika kondisi gula darah sudah tinggi secara kronis, atau disebut dengan prediabetes.

Untuk mencegah diabetes terjadi, harus mulai mengubah pola hidup dan makan yang sehat. Tapi ada beberapa asupan yang bisa memicu prediabetes menjadi diabetes lho.

Dikutip dari Health & Human Research, berikut 5 asupan yang bisa memicunya.

1. Jus buah
Buah seringkali dikenal sebagai makanan yang mengandung rasa manis alami. Tapi, ternyata jika kita mengkonsumsinya dalam bentuk jus bisa memicu munculnya diabetes lho.

Hal ini karena saat mengkonsumsi buah dalam bentuk jus, gula yang ada di buah akan terkonsentrasi semua di situ. Justru kandungan serat yang biasanya terdapat juga di buah, sama sekali tidak temukan. Hasilnya, jumlah gula dalam darah bisa meroket naik.

Selain itu, jus buah juga tidak membuat kenyang seperti halnya memakan buah utuh, karena serat dalam buah tidak masuk di dalamnya. Itu akan membuat seseorang terus merasa lapar, dan makan berlebih. Untuk mengatasinya, coba buat jus tanpa menggunakan pemanis tambahan lagi.

2. Nasi putih, roti, dan tepung
Tidak hanya makanan manis saja yang bisa memicu diabetes, tapi makanan yang bisa dipecah menjadi glukosa atau gula juga berpengaruh. Ini biasanya terdapat pada nasi putih, roti, dan tepung.

Karbohidrat diketahui mengandung glukosa atau gula, jika mengkonsumsinya terlalu banyak bisa memicu diabetes. Jika belum biasa meninggalkan karbohidrat, bisa menggantinya dengan gandum utuh yang lebih sedikit mengandung gula.

3. Produk susu penuh lemak
Diabetes juga berisiko membawa penyakit tambahan lainnya, seperti masalah jantung dan kolesterol. Kedua penyakit ini akan semakin mungkin muncul jika diabetes tidak dicegah.

Untuk mencegahnya, mulai kurangi asupan produk susu yang penuh lemak, seperti yogurt, krim, krim keju, mentega, dan es krim. Sebagai penggantinya, kamu bisa menggantinya dengan alpukat dan santan yang kadar lemak baik jauh lebih besar.

4. Goreng-gorengan
Makanan yang digoreng juga bisa memicu diabetes, terutama yang mengandung karbohidrat seperti kentang dan tepung. Dibandingkan ayam goreng, kentang yang digoreng justru lebih besar meningkatkan gula darah.

5. Daging merah dan olahan
Penelitian menunjukkan bahwa daging merah dan olahan, terutama natrium, bisa meningkatkan risiko diabetes dengan menyebabkan resistensi insulin. Nitrat yang ada di dalam daging olahan bisa berdampak negatif pada pankreas, yang membuat gula menjadi bahan bakar tubuh.

Efeknya, diabetes sangat mungkin terjadi. Untuk mencegahnya, hindari konsumsi olahan dan potongan daging tertentu, seperti sirloin. Ganti dengan protein yang jauh dari lemak, misalnya ayam tanpa kulit, kalkun, dan ikan.

Kamis, 16 April 2020

Pernah Dipakai untuk TB, Ilmuwan Uji Vaksin BCG pada Virus Corona

Bacillus Calmette-Guerin (BCG), sebuah vaksin yang dikembangkan ratusan tahun lalu untuk infeksi tuberkulosis (TBC) di Eropa saat ini sedang diuji terhadap virus Corona COVID-19.
Vaksin BGS hingga saat ini masih digunakan untuk mengatasi kondisi kesehatan lainnya, termasuk mencegah kematian dari berbagai infeksi serta secara signifikan mengurangi risiko infeksi pernapasan.

Dikutip dari New York Times, Ahli mengatakan vaksin BCG bisa 'melatih' sistem imun untuk mengenali dan merespons berbagai infeksi virus, bakteri, hingga parasit.

Ilmuwan di Melbourne, Australia, sudah memberikan vaksin BCG kepada ribuan tenaga medis, pada Senin (6/4/2020).

"Tidak ada yang mengatakan ini obat mujarab," kata Nigel Curtis, peneliti penyakit menular di University of Melbourne dan Murdoch Children's Research Institute.

Menurutnya, uji coba ini bertujuan untuk menyelamatkan tenaga kesehatan yang terinfeksi sehingga mereka dapat kembali bekerja secara lebih cepat.

Direktur Imunologi di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Denise Faustman, diketahui sedang mengumpulkan dana untuk memulai uji klinis vaksin kepada para pekerja kesehatan di Boston. Hasil awalnya dapat tersedia hanya dalam waktu empat bulan, katanya.

"Kami memiliki data yang sangat kuat dari uji klinis dengan manusia, bukan tikus. Bahwa vaksin ini melindungi Anda dari infeksi virus dan parasit. Aku ingin memulai sekarang," tuturnya.

Di Guinea-Bissau, Afria Barat, salah satu penelitian awal dari vaksin BCG ini sudah dilakukan terhadap 2.320 bayi tahun 2011. Hasilnya, dilaporkan tingkat kematian di antara bayi dengan berat lahir rendah berkurang secara dramatis setelah vaksinasi.

Studi lain, dilakukan selama 25 tahun terhadap lebih dari 150 ribu anak di 33 negara, melaporkan risiko anak-anak terkena infeksi saluran pernapasan 40% lebih rendah setelah mereka menerima vaksin BCG.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyimpulkan bahwa BCG memiliki 'efek di luar target' yang menguntungkan, dan merekomendasikan untuk melakukan lebih banyak uji coba vaksin terhadap infeksi lainnya.

Viral! Cerita Miris Dokter yang Lihat PDP Keluyuran Tak Isolasi Mandiri

Cuitan seorang dokter bernama dr Gia Pratama yang mengajak seorang pasien dalam pengawasan (PDP) untuk diisolasi di rumah sakit, viral di media sosial. Kisah ini ia bagikan melalui akun Twitter pribadi miliknya @GiaPratamaMD, Senin (6/4/2020).

"3 hari lalu saya menangani PDP, masih umur 20an, saya minta dia utk isolasi di rs, dia menolak keras, padahal masih ada satu ruangan lagi," tulis dr Gia pada postingannya di Twitter yang sudah di retweet lebih dari 2.600 kali hingga Rabu (8/4/2020).

"Saya jelasin abis2an tentang penularan. Tetap Ngotot bgt minta isolasi di rumah, Sampe tanda tangan perjanjian utk bener2 isolasi di rmh," lanjutnya.



dr. Gia Pratama
@GiaPratamaMD
3 hari lalu saya menangani PDP, masih umur 20an, saya minta dia utk isolasi di rs, dia menolak keras, padahal masih sisa satu ruangan lagi. 

Saya jelasin abis2an tentang penularan.

Tetap Ngotot bgt minta isolasi di rumah, Sampe tanda tangan perjanjian utk bener2 isolasi di rmh.

Lihat gambar di Twitter
2.455
19.31 - 6 Apr 2020
Info dan privasi Iklan Twitter
2.965 orang memperbincangkan tentang ini

Namun sayangnya, pasien itu tidak menepati janji untuk melakukan isolasi di rumah. dr Gia pun cukup mengecewakan hal itu, karena perilaku seperti ini jika dibiarkan bisa berdampak pada kelangsungan penyebaran virus Corona di Indonesia.

"Magrib tadi, pulang dari RS, saya melihat laki2 yang sama, sdg naik motor berdua sama seorang perempuan, ktawa ketiwi, tanpa masker sama sekali," ucap dr Gia.

"Rasanya kyk patah hati. Brp byk yg kyj gini. Isolasi diri hnya tinggal janji. Tibat2 pesimis corona bisa segera pergi dari negeri ini," tuturnya.