Minggu, 26 April 2020

Produsen Disinfektan Minta Konsumen Jangan Ikuti Usul Trump

Produsen disinfektan langsung bereaksi terhadap usul Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang ingin tahu apa bisa disinfektan disuntikkan ke dalam tubuh untuk melawan virus Corona. Para pakar langsung menanggapi bahwa saran tersebut tidak bagus.
Reckit Beckinser, produsen disinfektan Dettol, Lysol dan Harpic pun mengeluarkan peringatan. Mereka rupanya mengamati bahwa di media sosial, banyak pembahasan soal suntikan disinfektan setelah Trump melontarkan pernyataan tersebut.

"Terkait spekulasi terkini dan aktivitas media sosial, kami telah ditanyai apakah disinfektan cocok untuk diinvestigasi atau digunakan sebagai perawatan untuk coronavirus," sebut Reckit Beckinser yang dikutip detikINET dari Business Insider.

"Kami harus jelas bahwa produk disinfektan kami dalam situasi apapun tidak bisa dimasukkan ke tubuh manusia melalui injeksi, ditelan atau rute lainnya," tambah mereka.

"Seperti semua produk, produk disinfektan dan kebersihan kami seharusnya hanya digunakan seperti tujuannya dan sesuai dengan panduan pemakaian. Mohon dibaca label dan peringatan keamanannya," pungkas Reckit Beckinser.

Seperti diberitakan, Trump penasaran apakah disinfektan yang ampuh membunuh Corona bisa dimasukkan ke dalam tubuh.

"Saya lihat disinfektan menghancurkannya dalam satu menit. Dan apakah ada cara kita bisa melakukan sesuatu seperti itu dengan menyuntikkannya ke dalam?" tanya Donald Trump dalam keterangan pers di Washington soal respons pandemi Corona.

Media sosial pun langsung ramai merespons perkataan kontroversial itu. Eugene Gu, dokter terkenal di AS menyatakan memang disinfektan membunuh virus, tapi lain ceritanya kalau dimasukkan dalam tubuh.

"Clorox, Tide Pods dan Lysol (produk disinfektan-red) memang akan membunuh virus Corona. Tidak ada pertanyaan soal itu," tulisnya di Twitter.

"Tapi jika Anda terinfeksi, maka virus Corona berada di dalam tubuh. Jika Anda menggunakan disinfektan itu untuk membunuh virus Corona di dalam sel, maka Anda akan terbunuh bersama virus Corona itu," sambungnya.

Rumor Kim Jong Un Meninggal Ramaikan Trending Topic Twitter

 Minggu pagi jagat Twitter meramaikan rumor soal pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Benarkah dia meninggal dunia?

Beredar kabar pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un meninggal dunia karena masalah jantung. Namun laporan tersebut masih belum terkonfirmasi oleh otoritas Korea Utara.

Media-media asing yang memberitakan antara lain New York Post, lalu Hong Kong Satellite Television (HKSTV) serta Business Times. Namun, semua baru berupa klaim dengan sumber yang dikatakan valid. Jadinya masih belum jelas benar duduk perkaranya. Yang jelas memang Kim Jong Un dalam pekan terakhir memang diberitakan sakit.

Meski belum ada kepastian, hal itu tidak menghalangi jagat Twitter dibombardir aneka tweet seputar Kim Jong Un. Dipantau detikINET pagi ini, Minggu (26/4/2020) #KIMJONGUNDEAD memuncaki trending topic dengan 465 ribu tweet.

Semua orang mempertanyakan kebenaran kabar ini dan tidak mau langsung percaya. Namun banyak juga netizen yang justru malah senang kalau Kim Jong Un benar-benar meninggal dunia.

Sabtu, 25 April 2020

Hati-Hati! Seks Oral Juga Punya Risiko, Ini 3 di Antaranya

Bagi sebagian pasangan, seks oral mungkin menjadi aktivitas yang menyenangkan. Namun praktik ini mengandung sejumlah risiko serius.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyebut antara tahun 2006 hingga 2008 hampir separuh dari orang dewasa di AS telah melakukan seks oral.

CDC mengatakan, bagi sebagian besar orang Amerika seks oral sudah menjadi hal yang sangat umum. Untuk memahami bagaimana seks oral fellatio mempengaruhi tubuh, kenali risikonya dalam paparan berikut ini dikutip dari WebMD.

1. Memicu kanker tenggorokan
Seorang pejabat dari American Cancer Society memperingatkan bahwa aktivitas seksual semacam ini dapat meningkatkan risiko tertular human papillomavirus (HPV) di antara wanita. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa jenis HPV dapat menyebabkan kanker orofaring dan amandel.

Dalam sebuah penelitian tahun 2007, para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang melakukan seks oral dengan enam atau lebih pasangan memiliki risiko 340 persen lebih tinggi mengidap kanker tenggorokan dibandingkan dengan mereka yang memiliki lebih sedikit pasangan. Pria juga berisiko mengalami infeksi HPV di tenggorokan.

2. Penyakit menular seksual
Beberapa penyakit menular seksual (PMS) dapat ditransfer dari satu orang ke orang lain melalui seks oral. Ini termasuk HIV, herpes, sifilis, gonore dan virus hepatitis.

Para ahli mengingatkan, memiliki banyak pasangan seks menambah risiko terinfeksi penyakit kelamin. Perlindungan penghalang, seperti kondom, dapat mengurangi risiko terkena PMS.

3. Memicu stres
Terapis seks Louanne Cole Weston, dari Fair Oaks, California mengatakan, seks oral bisa menyebabkan stres bagi sejumlah pasangan. Dia mengatakan beberapa orang cenderung berpikir berlebihan ketika mereka melakukan seks oral.

Dalam beberapa kasus, orang juga menjadi tidak percaya diri, takut jika mereka tak cukup baik dalam menyenangkan pasangan.

"Ada orang tidak akan mau menerimanya karena dia khawatir tentang reaksi pasangannya. Beberapa orang tidak bisa begitu saja melepaskan dan menerima kegiatan ini." kata Weston.

Jadi saat kamu melihat perubahan yang tidak biasa di tenggorokan atau mulut yang mungkin terkait dengan seks oral, segera cari bantuan dari profesional medis.

17 Dokter Indonesia Gugur Selama Pandemi Virus Corona, Ini Daftarnya

Gugurnya sejumlah tenaga medis selama pandemi virus corona COVID-19 jadi sorotan. Tercatat 17 dokter meninggal dunia sejak penyakit baru ini mewabah di Indonesia.
Di luar angka tersebut, masih banyak pejuang-pejuang di garda depan penanganan COVID-19 yang juga gugur meski tidak secara langsung terkait penyakit tersebut. Seperti dr Toni D Silitonga dari IDI Bandung Barat misalnya, yang meninggal karena serangan jantung.

Namun Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyebut, almarhum merupakan anggota Satgas Tim Penanggulangan Covid-19 IDI Bandung Barat.

"Beliau berpulang karena kelelahan dan adanya serangan jantung," tulis PB IDI dalam salah satu unggahan di Twitter.

Sebagian yang lain meninggal karena tertular COVID-19 saat berada di garda depan, menangani maupun berinteraksi langsung dengan pasien positif.

Salah satu faktor yang banyak disorot adalah minimnya APD (Alat Pelindung Diri) yang tersedia. Dalam sebuah foto yang viral di media sosial, seorang dokter yang diyakini sebagai almarhum dr Bernadette Albertine Francisca tengah menjalankan praktik dengan APD seadanya dari jas hujan plastik.

"Iya, itu beliau (dr Bernadette). Kemungkinan di RS Bhayangkara (foto diambil)," kata Humas Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Halik Malik.

Berikut ini daftar 17 dokter yang meninggal dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) maupun positif tertular COVID-19.

Prof. Dr. dr. Iwan Dwi Prahasto (Guru Besar Farmakologi FK UGM)
Prof. Dr. dr. Bambang Sutrisna (Guru Besar FKM UI)
dr. Bartholomeus Bayu Satrio (IDI Jakarta Barat)
dr. Exsenveny Lalopua, M.Kes (Dinkes Kota Bandung)
dr. Hadio Ali K, Sp.S (Perdossi DKI Jakarta, IDI Jaksel)
dr. Djoko Judodjoko, Sp.B (IDI Bogor)
dr. Adi Mirsa Putra, Sp.THT-KL (IDI Bekasi)
dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ (RSJ dr. Soeharto Herdjan, IDI Jaktim)
dr. Ucok Martin Sp. P (Dosen FK USU, IDI Medan)
dr. Efrizal Syamsudin, MM (RSUD Prabumulih, Sumatera Selatan, IDI Cabang Prabumulih)
dr. Ratih Purwarini, MSi (IDI Jakarta Timur)
Laksma (Purn) dr. Jeanne PMR Winaktu, SpBS di RSAL Mintohardjo. (IDI Jakpus)
Prof. Dr. dr. Nasrin Kodim, MPH (Guru besar Epidemiologi FKM UI)
dr. Bernadetta Tuwsnakotta Sp THT - Meninggal di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo (IDI Makassar)
Dr. dr. Lukman Shebubakar SpOT (K) - Meninggal di RS Persahabatan (IDI Jaksel)
dr Ketty di RS Medistra (IDI Tangsel)
dr. Heru S. - Meninggal di RSPP (FK UNDIP)