Selasa, 28 April 2020

Cara Penyebaran Virus Corona COVID-19 Menurut WHO

Badan Kesehatan Dunia WHO dalam Report of the WHO-China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), memberi penjelasan terkait penyebaran dan berbagai info lain terkait virus ini. Benarkah virus corona atau COVID-19 bisa menyebar lewat udara?
Dalam salah satu bagian laporan berjudul route of transmission, WHO menyebutkan hingga kini belum ditemukan kasus penyebaran virus corona atau COVID-19 melalui udara. Selain itu menurut WHO, cara penyebaran virus corona COVID-19 melalui udara bukan faktor terbesar penularan penyakit berdasarkan bukti yang ada.

WHO menyarankan prosedur perlindungan menghadapi penyebaran virus corona atau COVID-19 secara aerosol. Prosedur ini diterapkan di fasilitas kesehatan yang menangani kasus virus corona atau COVID-19. Aerosol merujuk pada partikel padat atau cair dalam udara atau gas lain. Partikel ini melayang sebelum mendarat di permukaan sasaran.

"Cara penyebaran virus corona COVID-19 adalah melalui tetesan air liur (droplets) atau muntah (fomites), dalam kontak dekat tanpa pelindung. Transmisi virus corona atau COVID-19 terjadi antara yang telah terinfeksi dengan orang tanpa patogen penyakit," tulis WHO dalam laporannya.

Penyebaran virus corona COVID-19 lewat dudukan toilet, pegangan pintu kamar mandi, dan wastafel (fecal shedding) terjadi pada beberapa pasien. Namun penyebaran virus corona atau COVID-19 atau COVID-19 dengan fecal shedding, hingga kini bukan menjadi upaya tranmisi utama.

Selain penyebaran, dalam laporannya WHO juga menulis cara pencegahan virus corona COVID-19. Pencegahan yang paling penting adalah sering cuci tangan dan menutup mulut serta hidung saat bersin atau batuk.

"Cuci tangan dan menutup mulut serta hidung saat batuk atau bersin, harus dilakukan sesering mungkin untuk menghadapi virus corona COVID-19," tulis WHO dalam laporannya.

Langkah pencegahan lain adalah membiasakan jaga jarak dengan anggota masyarakat lain. Dengan jarak satu meter, risiko tertular virus corona COVID-19 bisa ditekan. Selain itu tiap anggota masyarakat harus siap menolong lansia yang lebih mudah terkena infeksi virus corona atau COVID-19.

Pesan WHO lainnya adalah, masyarakat harus paham COVID-19 bukan penyakit main-main. Penyakit ini bisa berakibat fatal namun bisa dicegah dan pasiennya bisa sembuh. Karena itu, masyarakat jangan panik, harus merespon dengan baik, dan mengikuti tiap saran pencegahan virus corona COVID-19. Masyarakat juga harus memastikan kebenaran info virus corona COVID-19 sehingga tidak termakan hoaks.

WHO Uji Cobakan 4 Alternatif Obat Corona, Indonesia Ikut Serta

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menguji coba empat alternatif pengobatan untuk pasien virus corona COVID-19. Dalam uji coba tersebut lebih dari 45 negara ikut bergabung dan salah satunya adalah Indonesia.
Empat obat yang tengah diuji sebagai obat alternatif corona yaitu remdesivir, gabungan lopinavir atau ritonavir, gabungan lopinavir atau ritonavir ditambah interferon (beta-1b), dan chloroquine (klorokuin). Riset tersebut dimaksud untuk mendapatkan bukti klinis yang kuat dan valid terhadap efektivitas obat dan keamanan pasien virus corona COVID-19.

Selain itu, keikutsertaan berbagai negara juga bertujuan untuk mempersingkat waktu yang diperlukan agar segera mendapat obat alternatif yang secara resmi bisa segera diberikan pada pasien virus corona COVID-19.

Untuk memastikan pelaksanaan uji coba obat tersebut berjalan dengan baik di Indonesia dan dilakukan sesuai standar, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan dipastikan secara langsung terlibat dalam pelaksanaan riset yang dinamakan Solidarity Trial WHO.

"Indonesia siap berpartisipasi aktif pada riset 4 alternatif terapi Covid-19 dalam Solidarity Trial WHO," kata Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan, dr Siswanto, MHP, DTM, dikutip dari rilis Kementerian Kesehatan pada Selasa (31/3/2020).

Senin, 27 April 2020

Cara Bikin Masker Kain yang Disarankan Dokter untuk Cegah Corona

Bagi kamu yang kesulitan mencari masker, tidak ada salahnya membuat sendiri dengan menggunakan kain. Masker kini memang banyak dicari karena dianggap bisa membantu mencegah penularan virus corona COVID-19.
Bagaimana cara membuat masker kain yang benar?

Dokter spesialis anestesi, Chen Xiaoting, membagikan tips pada dasarnya dengan menjahit tiga lapis bahan kain tanpa tenunan atau rajutan (nonwoven). Ini mengikuti prinsip masker bedah umum yang lapisan pertamanya dibuat dari bahan bersifat kedap air, lapisan tengah kain nonwoven sebagai penyaring, dan lapisan terakhir kain putih yang juga nonwoven.

"Masker bedah umum menggunakan kain mikrofiber meltblown nonwoven. Struktur kapilernya yang unik membuat kain ini menjadi bahan yang bagus untuk penyaringan," kata Chen seperti dikutip dari Mothership, Rabu (1/4/2020).

Bila tak ada kain yang nonwoven maka bagian luar dan paling dalam bisa menggunakan kain apa saja. Hanya pastikan bagian tengahnya menggunakan kain nonwoven seperti misalnya tisu basah, tisu toilet, pembalut bersih, hingga popok bersih. Chen sendiri menggunakan tisu basah yang dikeringkan untuk maskernya.

Cari penjahit yang terampil untuk membuat masker dari tiga lapis kain tersebut. Chen memberi contoh maskernya punya bukaan di tengah untuk menyelipkan lapisan tengah yang berfungsi sebagai penyaring.

Bila masker kain sudah jadi jangan lupa jangan malas dicuci. Selain itu Chen mengingatkan bahwa masker bukan satu-satunya cara efektif mencegah penularan virus. Orang-orang tetap harus menjaga jarak dan rajin cuci tangan.

Tak Punya APD, Dokter di India Tangani Pasien Corona Pakai Jas Hujan Robek

Kekurangan alat pelindung diri (APD) di India membuat beberapa dokter di sana terpaksa harus memakai jas hujan dan helm sepeda motor saat berjuang melawan pandemi corona. India dilaporkan memiliki sistem kesehatan masyarakat yang lemah bersamaan dengan melonjaknya kasus virus corona COVID-19 di sana.
Mengutip Daily Star, Perdana Menteri India,NarendraModi, mengatakan India sedang berusaha mendapatkanAPD dalam jumlah besar dari Korea Selatan dan China untuk memenuhiminimnya ketersediaanAPD di sana. Lebih dari dua belas dokter berjuang melawanpandemi corona yang sejauh ini telah menginfeksi 1.251 orang dan membunuh 32 orang di sana mengatakan kepada Reuters soal kekhawatiran mereka bekerja tanpaAPD lengkap.

Sementara itu di Uttar Pradesh, negara bagian terpadat di India, sekitar 4.700 ambulans yang melayani rumah sakit pemerintah mogok dan menuntut peralatan keselamatan dan asuransi kesehatan yang tepat. "Kami tidak akan mempertaruhkan nyawa kami kecuali permintaan kami dipenuhi," kata Hanuman Pandey, Presiden Asosiasi Pekerja Ambulans, mengatakan kepada Reuters, dikutip pada Rabu (1/4/2020).

dr Sandeep Garg dari Rumah Sakit ESI mengatakan ia telah menggunakan helm sepeda motor untuk melindunginya saat sedang bekerja karena ia tidak memiliki masker N95. "Saya memakai helm, helmnya ada di depan sehingga menutupi wajah saya, menambahkan lapisan lain di atas masker bedah," kata Garg.

"Semua orang takut," kata dokter. "Tidak ada yang mau bekerja tanpa perlindungan," lanjutnya.