Minggu, 03 Mei 2020

Hotel Ini Gelar Pesta Pernikahan Massal untuk Tenaga Medis Usai Corona

 Sebuah hotel Waldorf Astoria Shanghai menjadi venue pesta pernikahan massal tenaga medis di garda terdepan virus Corona. Seperti apa?
Pandemi virus Corona membuat sejumlah pesta pernikahan tertunda. Termasuk, rencana para tenaga kesehatan di Shanghai.

Wu Xianbing, 27 tahun, menunda pesta pernikahan dengan kekasihnya, Chen Mei, dengan lapang dada. Dia menilai kesempatan untuk membantu pasien bertahan hidup tak bisa nanti-nanti, namun resepsi pernikahan bisa dilakukan di kemudian hari.

Chen, seorang perawat di Rumah Sakit, yang berafiliasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Shanghai Jiao Tong, mendaftar sebagai tenaga medis darurat untuk membantu Wuhan, epicenter virus Corona.

Keputusan itu berimbas kepada rencana pernikahannya pada musim semi. Dia juga harus berpisah dengan kekasihnya selama tiga bulan. Bahkan, berkomunikasi lewat teks atau telepon bukanlah perkara gampang karena hanya bisa dilakukan setelah tugas betul-betul selesai dan telah meninggalkan rumah sakit.

"Kami tahu itu berat, namun namun itu merupakan hal yang tepat untuk dilakukan," kata Chen seperti dikutip China Daily.

Setelah berpisah tiga bulan, dia harus menambah 14 hari untuk karantina. dalam prosesnya dia dinyatakan negatif dan bisa kembali ke Shanghai pada pertengahan April 2020.

Seperti Chen dan Wu, sembilan pasangan lain, para perawat dari Rumah Sakit Renji, memutuskan untuk menunda pesta dan terjun sebagai garda terdepan saat pandemi virus Corona.

Setelah pandemi usai, rumah sakit menggelar pesta pernikahan massal pada 1 Mei. Keluarga dan teman dekat seluruh mempelai diundang untuk hadir kendati tetap menerapkan social distancing atau jaga jarak.

"Hampir tiga bulan lalu, para pengantin mengenakan kostum putih perawat, bukan gaun putih pernikahan. Kini, mereka kembali dengan selamat makanya sangat penting bagi kami untuk menggelar pernikahan," kata Xia Qiang, kepala Rumah Sakit Renji.

"Saya berharap mereka belajar untuk menghormati, mentoleransi, memahami, dan mendukung satu sama lain, setelah mereka melalui pengalaman khusus di awal pernikahan mereka," dia menambahkan.

Inisiatif rumah sakit itu direspons positif oleh manajemen hotel. Mereka memberikan diskon besar-besaran, termasuk untuk katering.

"Kami sangat bangga menawarkan tempat bersejarah dan layanan khusus agar momen spesial ini tak terlupakan dalam hidup para pahlawan medis," kata Richard Saul, manajer umum Waldorf Astoria Shanghai.

"Kami ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada para pahlawan yang telah melindungi dan menyelamatkan hidup orang-orang dengan upaya tanpa pamrih," dia menambahkan.

Saul mengatakan sejumlah penawaran khusus juga akan diberikan kepada pekerja medis untuk acara lain. Di antaranya, diskon untuk makanan dan minuman, serta masa inap dan fasilitas gratis di hotel untuk ulang tahun pertama mereka setelah bertugas melawan pandemi virus Corona.

Fort Canning Park Destinasi Singapura Bernuansa Jawa-Bali

Singapura jadi destinasi wisata favorit bagi warga Indonesia. Bahasa tidak menjadi kendala karena hampir sama serta transportasi umum yang mudah digunakan untuk berkeliling Singapura.
Singapura identik dengan wisata belanja barang-barang bermerk dengan harga yang lebih murah dari pada membeli di Indonesia, berfoto di patung Merlion atau mengunjungi Universal Studio Singapura di Pulau Sentosa.

Singapura tidak membuat saya bosan. Selalu ada tempat yang ingin saya kunjungi di Singapura. Bukan saja tempat yang sedang happening, namun tempat-tempat bersejarah atau sekedar mengunjungi taman kota.

Kunjungan saya kali ini ke Singapura yang mengeksplor Fort Canning Park. Destinasi ini bukan hanya taman di tengah kota yang digunakan untuk berolah raga ataupun piknik, namun juga terdapat tempat bersejarah bagi Singapura.

Sangat mudah untuk mencapai Fort Canning Park. Selain bus umum, MRT pun dapat menjangkau tempat ini dengan turun di beberapa stasiun, yang terdekat adalah stasiun Fort Canning. Sebaiknya sepagi mungkin mengunjungi tempat ini terlebih pada akhir pekan. Selain matahari belum terlalu tinggi, pengunjung pun belum terlalu banyak pada pagi hari sehingga puas berkeliling taman ini.

Fort Canning sendiri telah berganti nama beberapa kali. Dikenal juga dengan nama Forbidden Hill, karena konon menurut hikayat di atas bukit ini berdiri kerajaan Singapura kuno dengan rajanya yang bernama Sang Nila Utama yang berasal dari Palembang (Indonesia). Nama lain dari Fort Canning yang juga terkenal adalah Government Hill, karena pada masa pemerintahan Sir Stamford Raffles, pusat pemerintahan berada di bukit ini.

Memasuki Bulan Mei, Ada Ritual Tak Biasa di Inggris

Tanggal 1 Mei dirayakan dengan cara yang berbeda-beda di berbagai negara. Di Inggris, hari pertama bulan Mei ini disebut sebagai May Day yang menandai hari pertama musim semi.
Pada saat itu bunga akan bermekaran dan buah juga mulai matang. Oleh sebab itu, May Day juga dipercaya sebagai perayaan kesuburan yang sering melibatkan ritual seks di dalamnya.

Ritual yang kerap diasosiasikan dengan budaya Pagan ini juga identik dengan kembang api, memakan kue oat, menari tarian morris mengelilingi tiang dan memahkotai May Queen atau Ratu Mei.

Ratu Mei adalah perempuan muda yang didandani sebagai wujud penghormatan pada dewi Flora. Bagi traveler yang sempat menonton film Midsommar, traveler dapat membayangkan perayaan May Day ini mirip di film tersebut.

Lalu, sebenarnya sejak kapan ya ritual ini dilakukan di Inggris?

Dilansir dari Culture Trip, perayaan May Day ini telah berkembang di Inggris sejak abad ke-14. Akan tetapi pada abad ke-17, ritual tersebut sempat dipermasalahkan.

Hal ini terjadi usai Perang Saudara di Inggris, dimana Raja Charles I digulingkan oleh Oliver Cromwell dan pendukung Puritannya. Sejak saat itu, segala bentuk ritual dan perayaan kuno termasuk Natal dianggap tidak bermoral. Apalagi May Day yang identik dengan ritual seks dianggap sebagai hal yang negatif.

Ritual May Day akhirnya dilarang dilakukan sampai tahta Kerajaan Inggris diambil alih Raja Charles II pada 1660.

Di masa Raja Charles II, ritual tersebut ditambahkan dengan kehadiran tokoh Jack in the Green atau Green Man (Pria Hijau). Sesuai dengan namanya, sosok ini dibungkus dedaunan hijau yang menjadi perwujudan laki-laki dari alam. Namun ada pula yang mengatakan bahwa Pria Hijau ini adalah pengawal bagi Ratu Mei.

Setelah sempat berjaya kembali, eksistensi May Day kembali jatuh di akhir era Victoria karena perayaannya dinodai dengan melibatkan acara minum-minum dan lelucon kotor. Akan tetapi argumen lain mengatakan, perayaan ini ditinggalkan karena orang-orang di desa banyak yang pindah ke pusat kota untuk mencari pekerjaan.

Di era modern seperti saat ini, May Day di Inggris dirayakan dengan berkumpul di Hastings selama 3 hari untuk menari, minum, dan berbagi kegembiraan selama liburan. Sementara itu di London, orang-orang merayakan May Day di peternakan kota dan museum, termasuk Museum Geffrye London Timur dan Stepney City Farm.

Saat ini, dunia internasional lebih mengenal May Day sebagai Hari Buruh Internasional yang juga diperingati di Indonesia. Hari Buruh Internasional ini mulanya dilakukan untuk mengenang peristiwa Haymarket di Chicago. Pada 4 Mei 1886, bom meledak di tengah aksi demonstrasi buruh yang dilakukan di Haymarket Square. Demonstrasi itu mendukung mengenai durasi 8 jam kerja dan hak-hak buruh lainnya.

Hotel Ini Gelar Pesta Pernikahan Massal untuk Tenaga Medis Usai Corona

 Sebuah hotel Waldorf Astoria Shanghai menjadi venue pesta pernikahan massal tenaga medis di garda terdepan virus Corona. Seperti apa?
Pandemi virus Corona membuat sejumlah pesta pernikahan tertunda. Termasuk, rencana para tenaga kesehatan di Shanghai.

Wu Xianbing, 27 tahun, menunda pesta pernikahan dengan kekasihnya, Chen Mei, dengan lapang dada. Dia menilai kesempatan untuk membantu pasien bertahan hidup tak bisa nanti-nanti, namun resepsi pernikahan bisa dilakukan di kemudian hari.

Chen, seorang perawat di Rumah Sakit, yang berafiliasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Shanghai Jiao Tong, mendaftar sebagai tenaga medis darurat untuk membantu Wuhan, epicenter virus Corona.

Keputusan itu berimbas kepada rencana pernikahannya pada musim semi. Dia juga harus berpisah dengan kekasihnya selama tiga bulan. Bahkan, berkomunikasi lewat teks atau telepon bukanlah perkara gampang karena hanya bisa dilakukan setelah tugas betul-betul selesai dan telah meninggalkan rumah sakit.

"Kami tahu itu berat, namun namun itu merupakan hal yang tepat untuk dilakukan," kata Chen seperti dikutip China Daily.