Senin, 04 Mei 2020

Prank Beri Makanan Sampah untuk 'Tertibkan' Waria, Kok Tega Ya?

 Ferdian Paleka, YouTuber dari Bandung jadi perbincangan dan mulai dicari netizen karena prank tidak terpujinya. Dalam video yang dibagikannya di saluran YouTube miliknya, ia membagikan dus makanan berisi sampah kepada sejumlah waria dan sekelompok bocah. Hal ini pun menuai kecaman dari banyak orang.
Psikolog dari Personal Growth, Diah Ayu melihat dalam kasus ini Ferdian tidak tampak merasa bersalah. Menurut Diah, persepsi dalam diri Ferdian dan dua temannya yang ada di dalam video tersebut menganggap hal ini benar, yakni untuk menertibkan para waria dan bocah yang masih berkeliaran saat bulan Ramadhan dan masa PSBB (pembatasan sosial berskala besar) ini.

"Tapi, menurut norma itu kan jelas salah, walaupun kita menegakkan itu untuk kebenaran pun itu caranya salah. Itu tindakan yang tidak terpuji dan harusnya sudah paham," tegas Diah pada detikcom, Senin (4/5/2020).

Diah memandang kasus ini terjadi karena masalah persepsi di dalam diri Ferdian. Ia menegaskan seharusnya YouTuber ini diberi pemahaman yang benar tentang perilaku mana yang benar dan tidak.

Diah merasa, rasa empati yang memang sudah tertanam di dalam diri setiap manusia kurang terlihat dalam kasus ini. Itulah pentingnya harus melatih bagaimana menumbuhkan rasa itu agar menjadi pribadi yang lebih baik.

"Jadi, di sini mungkin dari persepsi dia dan teman-temannya saja yang mungkin salah dalam memandang hal ini (prank)," ujarnya.

864 Meninggal dari 11.587 Kasus, Tingkat Kematian Corona RI 7,45 Persen

Pemerintah pada hari Senin (4/5/2020) mengumumkan total kasus positif virus Corona COVID-19 di Indonesia menjadi 11.587 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 864 di antaranya meninggal dunia sementara 1.954 orang lain dinyatakan sembuh.
"Kasus konfirmasi positif COVID-19 yang meninggal bertambah 19 orang sehingga menjadi 864 orang," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Senin (4/5/2020).

Dengan data tersebut artinya tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) virus Corona di Indonesia saat ini ada di angka 7,45 persen. Terjadi penurunan dari hari Minggu kemarin yang angkanya 7,55 persen.

Data yang dihimpun oleh Research Center Johns Hopkins University menunjukkan rata-rata CFR wabah Corona di dunia saat ini ada di angka 7,05 persen persen.

Amerika Serikat (AS) masih ada di urutan pertama sebagai negara dengan jumlah kasus Corona terbanyak yaitu 1.158.041 kasus. Berikutnya diikuti Spanyol sebanyak 217.466 kasus dan Italia 210.717 kasus.

Sebagai perbandingan AS memiliki CFR Corona 5,84 persen, Spanyol 11,61 persen, dan Italia 13,70 persen.

Percuma Punya Masker Mahal Tapi Pakainya Melorot ke Dagu

 Mengenakan masker kain direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pemerintah sebagai upaya mencegah penularan virus Corona. Sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), semua warga yang ke luar rumah, misalnya saat ke supermarket, diharuskan mengenakan masker.
Sayangnya banyak masyarakat yang hanya mengenakan masker untuk formalitas saja. Artinya mereka tidak memakai masker sesuai aturan yang dianjurkan yakni menutupi hidung dan mulut.

"Masker jenis apapun, kalau melorot dan hidungnya nggak ditutup berarti kan 100 persen percuma karena ada peluang masuk lewat hidung. Kalau misal mulut yang terbuka dalam artian sampai dagu, virus bisa masuk lewat dua-duanya (hidung dan mulut)," tutur peneliti nanoteknologi dari Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir saat dihubungi detikcom ditulis Senin (4/5/2020).

Apabila masker tidak dikenakan dengan benar, maka proteksi untuk menahan partikulat baik virus atau bakteri tak ada walaupun memakai masker bedah atau N95 sekalipun. Jika masker melorot hingga ke dagu, risiko penularan lewat mulut dan hidung sangat terbuka lebar.

"Kan ada juga sekarang yang pakai masker tapi udara masih bisa mengalir jadi itu perlu kita perbaiki. Mungkin karena adanya keterbatasan pemahaman masyarakat kita jadi banyak yang pakai masker begitu saja makanya itu yang perlu kita edukasi mengenai cara memakai masker yang benar jadi hidung dan mulut harus tertutup," jelasnya.

Masker kain pun secara umum harus membuat penggunanya sulit bernapas karena sifatnya harus menahan aliran udara dan menahan partikulat.

Viral Curhatan Suami Saat Temani Istri Melahirkan di Tengah Pandemi Corona

Curhatan seorang suami bernama Erlangga Agusta tentang pengalaman sang istri yang melahirkan di tengah pandemi virus Corona, viral di media sosial. Kisah haru tersebut dibagikan olehnya melalui akun Twitter pribadi miliknya @AnggaAgusta, Minggu (3/5/2020).

"Gw mau sedikit sharing pengalaman saat istri melahirkan anak ke 3 kami tgl 29 April. Pengalaman kemarin bener-bener bikin kami stress dan kami merasakan sendiri betapa mengerikannya didiagnosa positif COVID. Apalagi dalam kondisi istri sudah siap untuk melahirkan," tulis Erlangga dalam tweetnya.

Kisah ini bermula pada Selasa (28/4/2020), ia menceritakan sebelum melakukan proses persalinan, sang istri harus melalui uji tes corona dengan cara rapid test. Ini dilakukan sebagai salah satu cara penanganan COVID-19 di rumah sakit.

"Karena dalam masa pandemi, RS punya policy untuk melakukan Rapid Test COVID untuk setiap pasien rawat inap di sana. Rapid Test hanya berlaku untuk pasien, untuk case ini hanya istri gw yg akan di Rapid Test," kata Erlangga.

Erlangga menjelaskan tak lama setelah dilakukannya rapid test, sang istri justru langsung dipindahkan ke ruang bersalin dan dokter pun memberi tahu hasil tes corona yang sebelumnya telah dilakukan.

"Dokter kemudian menginfokan hasil Rapid Test istri positif COVID. Gw dan istri kaya disamber petir," ucapnya.

Namun Erlangga merasa ada yang salah dengan hasil tes tersebut, karena meski sebelumnya pernah melakukan perjalanan ke luar negeri dan pulang ke Indonesia pada awal Maret, ia dan sekeluarga telah melakukan isolasi mandiri selama 14 hari di rumah. Bahkan Erlangga dan istri sudah hampir dua bulan lamanya tidak melakukan aktivitas di luar ruangan dan tetap berada di rumah sebelum PSBB diberlakukan.

"Ditambah lg kondisi kami baik2 saja tidak ada gejala sakit demam, batuk ataupun pilek. Tp dokter yakin bahwa istri positif COVID berdasar hasil Rapid Test," ujarnya.

Selama proses persalinan akan dilakukan, Erlangga meminta dokter untuk melakukan tes corona ulang kepada istrinya karena merasa tidak yakin dengan hasil tersebut. Dokter pun menyarankan untuk melakukan CT scan paru dan tes swab agar hasilnya bisa lebih akurat.

Hingga akhirnya, CT scan paru dilakukan dan hasilnya menunjukkan tidak adanya indikasi dari virus Corona. Erlangga pun semakin yakin bahwa istrinya bersih dari COVID-19, dan akan melaksanakan tes swab pada besok hari.

"Suster menginfokan ke istri hasil CT Scan Paru bersih dan bagus dan tidak ada indikasi COVID," jelasnya.

"Tgl 29 April pkl 07.30 sebelum dilakukan swab test dan operasi (caesar), gw minta dipertemukan dulu dengan dokter untuk konsultasi hasil CT Scan dan minta untuk dilakukan Rapid Test ulang. Karena sejujurnya gw masih ga yakin dengan hasil test kemarin," lanjutnya.

Hingga akhirnya pada pukul 09.00 WIB, operasi caesar yang dilakukan oleh dokter dari tim COVID-19 pun telah berhasil dilakukan. Namun karena hasil rapid test kedua dan tes swab dari sang istri belum keluar, maka bayinya harus dirawat di dalam ruangan neonatal intensive care unit (NICU) terlebih dahulu untuk sementara waktu.

"Puji Tuhan kondisi baby sehat. Tp karena hasil Rapid Test kedua dan swab belum keluar maka baby sementara akan ditaro di NICU. Jika hasil rapid kedua istri negatif maka baby bisa langsung masuk ruang bayi," kata Erlangga.

Kabar baik pun datang dari dokter, ia memberitahu kepada Erlangga bahwa hasil rapid test kedua istrinya adalah negatif COVID-19. Namun Erlangga tetap harus menunggu laporan dari uji swab yang sebelumnya dilakukan agar hasilnya bisa lebih akurat.

"Berhubung hasil Swab belum keluar, tim dokter sepakat untuk lakukan tindakan preventif untuk mengisolasi istri dan baby di tetap di NICU. Istri jg tidak boleh gabung dengan baby dan belum boleh berikan ASI ke babynya," ucapnya.

Pada hari Jumat (1/5/2020) kemarin, hasil tes swab pun keluar dan menunjukkan bahwa istri dari Erlangga dinyatakan negatif COVID-19.

"Tgl 1 Mei jam 9 pagi. Hasil swab test keluar dan Puji Tuhan hasilnya negatif. Istri bisa langsung gabung dengan baby dan bisa langsung kasih ASI. Kabar baiknya lainnya mereka bisa pulang bareng di hari itu," pungkasnya.