Selasa, 12 Mei 2020

Selandia Baru Bersiap Longgarkan Lockdown Tahap Dua

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengumumkan linimasa (timeline) pencabutan penguncian wilayah (lockdown) seiring dengan melemahnya kasus baru virus corona. Beberapa batasan yang sebelumnya dilarang rencananya akan mulai dibuka kembali secara bertahap.

Ardern mengatakan mulai Kamis (14/5) restoran, mal, cafe, toko-toko, bioskop, dan taman bermain akan dibuka kembali. Selain itu, pemerintah juga mengizinkan warga berkumpul maksimal hingga 10 orang dan diizinkan bepergian ke daerah lain di Selandia Baru.

Pembukaan kali ini merupakan pelonggaran level dua dari sistem empat tingkat pembukaan lockdown di Selandia Baru.

Kendati aktivitas mulai diizinkan, Ardern menekankan akan tetap berhati-hati dalam membuat kebijakan. Perempuan berusia 39 tahun itu memperingatkan jika Selandia Baru belum dikatakan memenangkan 'perang' melawan corona.

"Upaya warga Selandia Baru telah membawa kami berada di kondisi saat ini di tengah sebagian besar negara berjuang menghadapi angka kematian akibat Covid," ujar Ardern dalam pidatonya, Senin (11/4) seperti mengutip AFP.

"Kami mungkin telah memenangkan beberapa pertempuran, tetapi kami belum memenangkan perang sehingga ada risiko yang tetap harus diwaspadai," ujarnya menambahkan.

Sementara itu sekolah baru mulai dibuka pada Senin (18/5) dan bar pada pekan depan, Kamis (21/5).

Selandia Baru melenggarkan lockdown secara efektif sejak dua pekan lalu seiring dengan menurunnya kasus baru virus corona. Pada tahap awal, pemesanan makanan untuk dibawa pulang (takeaway) dan beberapa tempat hiburan sudah kembali dibuka.

Tak hanya itu, warga yang berusia di atas 70 tahun juga sudah diizinkan keluar rumah setelah dikarantina selama lebih dari tujuh pekan.

Selandia Baru hingga saat ini mencatat hanya 1.497 kasus dengan total 21 kematian dan mayoritas pasien atau sekitar 1.386 orang dinyatakan sembuh. 

Anies Curhat Frustasi dengan Kemenkes Lewat Pewarta Australia

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengatakan sempat merasa frustasi dengan sikap Kementerian Kesehatan dalam penanganan virus corona.

Hal tersebut dia sampaikan dalam wawancara daring dengan jurnalis James Massola dari surat kabar Australia, The Sydney Morning Herald, pada 6 Mei lalu.

Seperti dikutip dari rekaman yang diunggah melalui akun Pemprov DKI Jakarta di Youtube, Senin (11/5), Anies mengatakan justru dia yang harus mendorong Kemenkes segera menetapkan kebijakan untuk menahan penyebaran virus corona.


"Kami lebih frustasi dengan Kementerian Kesehatan karena kami yang harus mendorong mereka untuk menerapkan kebijakan seperti membatasi pergerakan penduduk di kota," kata Anies.

Menurut Anies, perbedaan sikap antara dia dan pemerintah pusat dalam penanganan virus corona adalah soal perbedaan pandangan teknokrat dan bukan persoalan politik.

"Kami memutuskan lebih baik berterus terang kepada masyarakat mengenai apa yang terjadi dan tindakan yang kami perbuat supaya mereka merasa aman," ujar Anies.

"Sedangkan Kementerian Kesehatan berpikir sebaliknya. Berterus terang akan membuat panik. Ini bukan persoalan politik, tapi perbedaan antara sikap pemerintah Jakarta dan Kementerian Kesehatan," tambah Anies.

Dalam wawancara itu, Anies menyebut jika kasus Pneumonia Wuhan jumlahnya terus meningkat pada Januari dan Februari. Kemudian ia segera memutuskan agar seluruh jajarannya bersiap menghadapi virus corona.

"Dan ketika jumlahnya terus bertambah, saat itu kami tidak diizinkan untuk melaksanakan tes. Jadi, ketika ada kasus baru, kami mengirim sampel ke laboratorium nasional (pemerintah pusat)," kata Anies dalam wawancara itu.

"Kemudian, laboratorium nasional akan menginformasikan apakah hasilnya positif atau negatif. Pada akhir Februari, kami bertanya-tanya, kenapa seluruh hasil tesnya negatif," lanjutnya.

Anies kemudian memutuskan untuk menyampaikan kepada publik dan mengatakan bahwa pihaknya telah memantau sejumlah kasus tersebut. Namun, saat itu Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyangkal ucapan Anies.

Jumlah Warga AS Meninggal Akibat Corona Capai 80 Ribu Orang

Jumlah kematian pasien virus corona (Covid-19) di Amerika Serikat mencapai 80.787 orang berdasarkan data statistik Worldometer per Senin (11/5).

Angka kematian itu meningkat ketika sebagian negara bagian AS terus melonggarkan serangkaian kebijakan pembatasan pergerakan dan membuka kembali kegiatan perekonomian.

Puluhan negara bagian di AS mulai melonggarkan kebijakan pembatasan sejak akhir April lalu setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pemulihan ekonomi dan pelonggaran kebijakan pembatasan secara bertahap.


Padahal, lonjakan kasus virus corona baru dan angka kematian masih ditemukan di Negeri Paman Sam.

Tanpa menyesuaikan dengan pedoman yang dianjurkan pemerintah federal, dikutip CNN, puluhan negara bagian itu mengklaim bahwa kebijakan pembukaan kembali wilayah mereka didasarkan oleh masukan dan data dari para ahli kesehatan dan medis.

Di sisi lainnya, sejumlah ahli dan pejabat kesehatan pemerintah federal memperingatkan tentang risiko lonjakan angka kematian jika pelonggaran kebijakan pembatasan dilakukan secara prematur.

Model penelitian Institute for Health Metrics and Evaluation the University of Washington (IHME) memprediksi lebih dari 137 ribu warga Amerika akan meninggal pada awal Agustus mendatang karena virus corona.

Direktur IHME, Dr. Christopher Murray, menuturkan lonjakan kematian itu sebagian besar disebabkan karena semakin banyak warga Amerika yang bebas bepergian di tengah pelonggaran pembatasan pergerakan secara bertahap.

"Lonjakan infeksi corona kemungkinan terus meningkat jika tidak ada pemeriksaan, pelacakan kontak, dan penerapan isolasi terhadap pasien positif dengan cepat dan perluasan penggunaan masker di tempat publik," kata Murray melalui pernyataan.

Berdasarkan data statistik Worldometer per hari ini, AS tercatat memiliki 1.367.638 kasus corona. Angka itu masih menjadikan AS sebagai negara dengan kasus virus corona tertinggi di dunia.

Selandia Baru Bersiap Longgarkan Lockdown Tahap Dua

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengumumkan linimasa (timeline) pencabutan penguncian wilayah (lockdown) seiring dengan melemahnya kasus baru virus corona. Beberapa batasan yang sebelumnya dilarang rencananya akan mulai dibuka kembali secara bertahap.

Ardern mengatakan mulai Kamis (14/5) restoran, mal, cafe, toko-toko, bioskop, dan taman bermain akan dibuka kembali. Selain itu, pemerintah juga mengizinkan warga berkumpul maksimal hingga 10 orang dan diizinkan bepergian ke daerah lain di Selandia Baru.

Pembukaan kali ini merupakan pelonggaran level dua dari sistem empat tingkat pembukaan lockdown di Selandia Baru.

Kendati aktivitas mulai diizinkan, Ardern menekankan akan tetap berhati-hati dalam membuat kebijakan. Perempuan berusia 39 tahun itu memperingatkan jika Selandia Baru belum dikatakan memenangkan 'perang' melawan corona.

"Upaya warga Selandia Baru telah membawa kami berada di kondisi saat ini di tengah sebagian besar negara berjuang menghadapi angka kematian akibat Covid," ujar Ardern dalam pidatonya, Senin (11/4) seperti mengutip AFP.

"Kami mungkin telah memenangkan beberapa pertempuran, tetapi kami belum memenangkan perang sehingga ada risiko yang tetap harus diwaspadai," ujarnya menambahkan.