Sabtu, 23 Mei 2020

Korban Meninggal Jadi 32, Ini Cara Penanganan Jenazah Pasien Corona

Sejak masuk ke Indonesia, jumlah kasus virus corona COVID-19 kian bertambah. Pada Jumat (20/3/2020) kemarin, pemerintah mengumumkan sudah ada 369 kasus, 15 sembuh, 32 pasien di antaranya meninggal dunia.
Dalam menangani jenazah pasien yang terinfeksi virus corona, ada prosedur yang harus dilakukan dengan ketat. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan virus dari jenazah tersebut.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Berikut adalah langkah-langkahnya yang dikutip dari Pedoman Kesiapsiagaan nCoV di Indonesia.

Petugas kesehatan harus menjalankan kewaspadaan standar ketika menangani pasien yang meninggal akibat penyakit menular.
APD lengkap harus digunakan petugas yang menangani jenazah jika pasien tersebut meninggal dalam masa penularan.
Jenazah harus terbungkus seluruhnya dalam kantong jenazah yang tidak mudah tembus sebelum dipindahkan ke kamar jenazah.
Jangan ada kebocoran cairan tubuh yang mencemari bagian luar kantong jenazah.
Pindahkan sesegera mungkin ke kamar jenazah setelah meninggal dunia.
Jika keluarga pasien ingin melihat jenazah, diijinkan untuk melakukannya sebelum jenazah dimasukkan ke dalam kantong jenazah dengan menggunakan APD.
Petugas harus memberi penjelasan kepada pihak keluarga tentang penanganan khusus bagi jenazah yang meninggal dengan penyakit menular. Sensitivitas agama, adat istiadat dan budaya harus diperhatikan ketika seorang pasien dengan penyakit menular meninggal dunia.
Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik pengawet.
Jika akan diotopsi harus dilakukan oleh petugas khusus, jika diijinkan oleh keluarga dan Direktur Rumah Sakit.
Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi.
Jenazah hendaknya diantar oleh mobil jenazah khusus.
Jenazah sebaiknya tidak lebih dari 4 (empat) jam disemayamkan di pemulasaraan jenazah.

32 Meninggal dari Total 369 Kasus, Tingkat Kematian Corona RI 8,67 Persen

Jumlah kasus dan kematian pasien virus corona COVID-19 di Indonesia terus bertambah. Hingga hari Jumat (20/3) sudah ada 369 kasus positif yang 32 di antaranya meninggal dunia dan 17 sembuh.
"Ada 60 kasus baru sehingga jumlah total 369," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Ahmad Yurianto, Jumat (20/3/2020).

Dengan data tersebut, artinya hari ini tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) virus corona di Indonesia ada di angka 8,67%. Sementara itu menurut data yang dihimpun Research Center Johns Hopkins University, CFR wabah corona di dunia saat ini rata-rata 4,1%.

Beberapa ahli menjelaskan angka CFR yang tinggi bisa menunjukkan beberapa hal. Salah satu kemungkinannya ada kasus infeksi corona yang tak terdeteksi.

"Bila kita melihat sistem yang bisa menghitung tidak hanya pasien sakit parah, tapi juga orang-orang yang terinfeksi dan rawat jalan, maka angka CFR-nya jadi lebih akurat dan akan berkurang jauh," komentar ahli epidemiologi Isaac Bogoch dari University of Toronto.

Italia yang sering disebut jadi episentrum wabah corona di Eropa memiliki CFR 8,29%. Di lain sisi Iran yang disebut episentrum corona di Timur Tengah memiliki CFR 6,96%.

Kiat-kiat Agar Sistem Pencernaan Si Kecil Kuat

Memiliki pencernaan yang sehat menjadi salah satu pendukung optimalisasi tumbuh kembang anak. Namun, saluran cerna anak rentan dan sensitif terhadap gangguan. Karena itu jangan sepelekan masalah pencernaan karena bisa menghambat perkembangan anak.
Head of Medical Kalbe Nutritionals dr Muliaman Mansyur mengatakan seringkali anak-anak mengalami gangguan pencernaan seperti infeksi, sakit perut kolik, susah makan, diare, sembelit, hingga susah BAB.

"Biasanya pada anak yang diare dan sembelit, sering muntah, sakit perut, dan rasa tidak tuntas saat BAB. Keluhan ini yang seringkali membuat orang tua datang ke dokter, penyebabnya adalah hubungan saluran cerna dan otak. Jika saraf antara saluran cerna dan otak terganggu, maka anak akan merasakan sensasi nyeri dan kembung," jelas dr Muliaman kepada detikHealth baru-baru ini.

dr Muliaman mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan saluran pencernaan si Kecil, Mulai dari kematangan sistem imun di saluran cerna, dimana sel-sel saluran cerna belum siap menerima benda asing dari luar.

"Sementara untuk diare, yang terganggu adalah motilitas atau gerakan saluran cernanya. Kalau terlalu lambat dan lemah bisa menyebabkan sembelit, sedangkan pergerakan saluran cerna yang cepat dapat menyebabkan diare. Faktor yang terakhir adalah mikroflora (atau bakteri baik) yang tidak seimbang di saluran cerna si kecil," jelasnya.

Pencernaan tentu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan anak. Banyak studi yang menghubungkan keduanya mulai dari jenis asupan nutrisi yang dimakan termasuk juga hubungan mikroflora yang ditambahkan (probiotik) di saluran cerna si kecil yang akan mempengaruhi penyerapan nutrisi, dengan pertumbuhan badan si kecil.

Untuk membangun sistem pencernaan yang kuat, bisa dilakukan dengan pemenuhan makanan berserat serta tercukupinya kebutuhan cairan. Namun, seringkali masalah anak adalah susah makan. Si Kecil tidak mau makan apa yang disajikan oleh orang tua sebagai makanan keluarga.

"Tentunya konsekuensinya adalah anak tidak akan mendapatkan gizi yang baik. Sarannya adalah buat pola makan yang lebih atraktif untuk anak, sesuaikan rasa dan konsistensinya dengan anak, dan buat suasana makan segembira mungkin," ucapnya.

Selain asupan nutrisi yang baik, anak juga disarankan untuk berolahraga. Menurut dr Muliaman, tidak ada olahraga khusus untuk saluran cerna si kecil, tapi pada saat si kecil mengalami susah air besar sering para dokter menganjurkan untuk berolahraga atau beraktivitas seperti berjalan atau berlari.

"Selain itu, banyak minum dan mulai makan buah dan sayur untuk mendorong BAB yang belum turun ke bawah," tambah dr Muliaman.

Selain itu, agar anak berkembang dengan baik dan tidak terserang gangguan pencernaan, konsumsi susu yang mengandung laktoferin seperti susu formula terbaik Morinaga Chil Kid Platinum dan Morinaga Chil School Platinum. Susu tersebut mengandung pro-prebiotik agar si kecil tak mudah diare serta telah teruji klinis sebagai bakteri baik oleh Morinaga Research Center di Jepang.