Minggu, 05 Juli 2020

Komplikasi Langka, 4 Jam Ereksi Tanpa Henti Gara-gara Virus Corona

Infeksi virus Corona COVID-19 diketahui memicu berbagai komplikasi. Namun yang satu ini relatif langka, dan sangat menyiksa bagi kaum pria: priapism.
Dikutip dari Mayo Clinic, priapism merupakan ereksi berkepanjangan, kadang hingga berjam-jam, yang bukan dipicu oleh rangsang seksual. Umumnya, ereksi disertai nyeri hebat di bagian Mr P.

Kondisi ini dialami oleh seorang pria 62 tahun yang dirawat karena virus Corona. Kasusnya dipublikasikan di The American Journal of Emergency Medicine.

Menurut laporan tersebut, pasien datang ke Centre Hospitalier de Versailles di Le Chesnay, Prancis, dengan keluhan demam dan batuk kering. Dokter memberinya antibiotik, namun 2 hari kemudian datang lagi ke RS dengan keluhan sesak napas.

Pasien mendapat penanganan untuk Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Pasien juga menjalani tes dan hasilnya positif infeksi SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Diyakini, infeksi tersebut membuatnya mengalami komplikasi langka.

"Priapism yang tidak teridentifikasi sebelumnya, tanpa ada kateterisasi saluran kencing," tulis para dokter yang memeriksa, dikutip dari Health.com.

Dokter berusaha mengatasinya dengan ice pack, tetapi gagal hingga berjam-jam kemudian. Diputuskan, aliran darah di penis pasien disedot dengan jarum. Dokter menemukan penggumpalan darah yang umum ditemukan pada pasien COVID-19.

Dilema Kaum Pria Saat Bersepeda, Dirangkap Celana Dalam atau Tidak?

Celana khusus untuk bersepeda umumnya didesain cukup ketat. Seharusnya memang tidak perlu dirangkap dengan celana dalam, tetapi banyak pria merasa risih mengikuti saran tersebut.
Menggunakan celana bersepeda dengan dirangkap celana dalam juga bukan tanpa kekurangan. Selain bisa memicu lecet atau blister saat dipakai untuk berespeda jarak jauh, juga tidak nyaman karena terasa mengganjal atau terlalu tebal.

Bagaimana dengan kelembapan area intim? Pakar urologi menjelaskannya dalam video berikut:

Kalung 'Antivirus' Eucalyptus Kementan Diklaim Tangkal COVID-19, Benarkah?

 Kementerian Pertanian (Kementan) berencana memproduksi kalung antivirus Corona secara massal. Kalung antivirus ini terbuat dari tanaman eucalyptus dan diklaim dapat membunuh virus Corona.
"Ini sudah dicoba. Jadi ini bisa membunuh, kalau kontak 15 menit dia bisa membunuh 42 persen dari Corona. Kalau dia 30 menit maka dia bisa 80 persen," tutur Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo usai menemui Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (3/7/2020).

Sudah dari beberapa bulan lalu, eucalyptus memang disebut-sebut bisa menjadi antivirus Corona. Bahkan, Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry pernah mengatakan bahan aktif dari tanaman eucalyptus dapat membunuh Mpro atau enzim dalam virus Corona.

Apa sih sebenarnya eucalyptus itu?
Eucalyptus merupakan genus tanaman yang mencakup lebih dari 700 spesies. Dikutip dari Medical News Today, eucalyptus yang banyak tumbuh di Australia banyak dicari untuk diambil minyaknya lewat proses destilasi.

Sebuah penelitian di jurnal Clinical Microbiology & Infection menunjukkan minyak eucalyptus memiliki efek antibakteri pada patogen penyebab infeksi saluran napas atas. Penelitian lain menyebut minyak eucalyptus dapat mencegah infeksi pada luka di kulit.

Tanaman eucaliptus masih berkerabat dengan pohon kayu putih (Melaleuca leucadendra) yang mengasilkan minyak kayuputih (cajuput oil).

Apa benar eucalyptus dapat menangkal COVID-19?
Menurut Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr dr Inggrid Tania, MSi, eucalyptus memang memiliki zat yang bersifat antibakteri, antivirus, dan antijamur. Namun, belum ada penelitian spesifik terkait manfaatnya untuk COVID-19.

"Penelitian Kementan ini baru diujikan sampai tahap in vitro pada virus influenza, beta corona, gamma corona. Belum diuji spesifik terhadap virusnya COVID-19 yakni virus SARS-CoV-2," tutur dr Inggrid kepada detikcom, Sabtu (4/7/2020).

Maksudnya, kandungan antivirus dari eucalyptus yang telah diuji hanya baru sebatas 'ampuh' untuk virus Corona secara umum saja dan tidak spesifik pada virus penyebab COVID-19, yaitu SARS-CoV-2.

"Mohon berhati-hati, karena klaim sebagai 'antivirus Corona' bisa misleading. Karena ternyata banyak pemahaman masyarakat yang salah, menduga bahwa antara 'virus Corona' dengan 'virusnya COVID-19' adalah sama atau identik padahal cukup beda karakteristiknya," tuturnya.
https://kamumovie28.com/cast/oscar-flores/

Catat, Ini Waktu Terbaik Olahraga di GBK Agar Tak Terjebak Kerumunan

Sejak Gelora Bung Karno (GBK) dibuka kembali, banyak warga antusias berolahraga di GBK sehingga tak jarang membuat kerumunan. Kerumunan ternyata bisa dihindari dengan memilih shift yang tepat untuk berkunjung.
Pantauan detikcom Minggu pagi pukul 06:15 WIB belum ada antrean panjang ataupun kerumunan di kawasan GBK. Begitu juga antrean masuk ring road.

Putra, salah satu petugas di kawasan GBK pintu 5 membenarkan pada pagi hari belum ada peningkatan pengunjung sejak GBK dibuka pukul 05:00 WIB. Menurutnya, ramainya pengunjung biasanya terjadi menjelang pukul 07:00 WIB.

"Iya memang kalau pagi masih sepi, belum begitu banyak pengunjung. Jam-jam ramai biasanya di jam tujuh ke atas baru mulai ramai," jelas Putra saat ditemui detikcom Minggu (5/7/2020).

Salah satu pengunjung GBK, Adi (22) mengaku datang lebih pagi agar bisa berolahraga dengan nyaman. Dirinya mengaku selama berolahraga di GBK selalu memilih datang lebih pagi.

"Iya karena masih sepi. Biasanya tuh paling telat jam 7 udah beres (olahraga)," jelas Adi.

Sementara itu, Putra menyarankan bagi yang ingin berolahraga dengan nyaman menghindari kerumunan bisa selalu datang lebih pagi di jam 05:00 WIB hingga 06:30 WIB. Sementara untuk siang ke sore bisa datang di pukul 14:00 hingga 17:00 WIB.

Komplikasi Langka, 4 Jam Ereksi Tanpa Henti Gara-gara Virus Corona

Infeksi virus Corona COVID-19 diketahui memicu berbagai komplikasi. Namun yang satu ini relatif langka, dan sangat menyiksa bagi kaum pria: priapism.
Dikutip dari Mayo Clinic, priapism merupakan ereksi berkepanjangan, kadang hingga berjam-jam, yang bukan dipicu oleh rangsang seksual. Umumnya, ereksi disertai nyeri hebat di bagian Mr P.

Kondisi ini dialami oleh seorang pria 62 tahun yang dirawat karena virus Corona. Kasusnya dipublikasikan di The American Journal of Emergency Medicine.

Menurut laporan tersebut, pasien datang ke Centre Hospitalier de Versailles di Le Chesnay, Prancis, dengan keluhan demam dan batuk kering. Dokter memberinya antibiotik, namun 2 hari kemudian datang lagi ke RS dengan keluhan sesak napas.

Pasien mendapat penanganan untuk Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Pasien juga menjalani tes dan hasilnya positif infeksi SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Diyakini, infeksi tersebut membuatnya mengalami komplikasi langka.

"Priapism yang tidak teridentifikasi sebelumnya, tanpa ada kateterisasi saluran kencing," tulis para dokter yang memeriksa, dikutip dari Health.com.

Dokter berusaha mengatasinya dengan ice pack, tetapi gagal hingga berjam-jam kemudian. Diputuskan, aliran darah di penis pasien disedot dengan jarum. Dokter menemukan penggumpalan darah yang umum ditemukan pada pasien COVID-19.

Dilema Kaum Pria Saat Bersepeda, Dirangkap Celana Dalam atau Tidak?

Celana khusus untuk bersepeda umumnya didesain cukup ketat. Seharusnya memang tidak perlu dirangkap dengan celana dalam, tetapi banyak pria merasa risih mengikuti saran tersebut.
Menggunakan celana bersepeda dengan dirangkap celana dalam juga bukan tanpa kekurangan. Selain bisa memicu lecet atau blister saat dipakai untuk berespeda jarak jauh, juga tidak nyaman karena terasa mengganjal atau terlalu tebal.

Bagaimana dengan kelembapan area intim? Pakar urologi menjelaskannya dalam video berikut:
https://kamumovie28.com/cast/ahn-jae-mo/