Senin, 13 Juli 2020

Usaha Lab Wuhan Tepis Tudingan Jadi Dalang Virus Corona

 Wuhan Institute of Virology dicurigai beberapa pihak, termasuk beberapa ilmuwan dan pemerintah Amerika Serikat, sebagai asal muasal virus Corona COVID-19. Pihak laboratorium itu pun gencar melontarkan bantahan.
Para pejabat Wuhan Institute of Virology sudah beberapa kali tampil untuk menepis tudingan jadi dalang virus Corona. Berikut beberapa pernyataan mereka:

Masalah Ilmiah

Ketika April silam presiden AS Donald Trump, mengatakan tengah menginvestigasi apa ada bukti COVID-19 berkaitan dengan Wuhan Institute of Virology, China menepisnya. Menurut mereka, tak ada bukti COVID-19 dibuat di laboratorium Wuhan ataupun kemungkinan kedua, bocor dari sana.

"China percaya bahwa asal dari virus tersebut adalah masalah ilmiah yang harus ditangani dengan serius," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian.

"WHO mengatakan tidak ada bukti yang membuktikan bahwa itu (COVID-19) dibuat di lab. Dan banyak pakar medis terkemuka juga mengatakan jika klaim virus tersebut bocor dari lab tidak punya dasar ilmiah," tambahnya.

"China akan terus bekerja dengan negara-negara lain dan mendukung satu sama lain untuk mengendalikan pandemi," pungkasnya.

Bantahan 'Batwoman"

Shi Zengli adalah virologis yang menjadi Direktur Center for Emerging Infectious Disease di Wuhan Institute of Virology. Dia tahu, banyak jari menunjuk pada dirinya dan buka suara. Shi Zengli menegaskan tidak ada kebocoran virus dari lab di Wuhan.

Kepada Scientific American yang dilansir News.com Australia, Shi Zengli mengakui laboratoriumnya memang punya virus Corona. Saat wabah COVID-19 merebak, Shi dan tim ilmuwan memang lagi meneliti virus Corona.

"Saya sempat berpikir apakah ini dari laboratorium kami? Saya bertanya-tanya apa dinas kesehatan salah. Saya tidak pernah menyangka ini terjadi di Wuhan," ujar perempuan berjuluk Batwoman ini karena meneliti virus kelelawar.

Shi dan tim terlibat mencari sumber penularan dan berlomba dengan waktu karena korban jiwa terus bertambah. Tim ilmuwan memakai teknis reaksi berantai polymerase untuk mendeteksi virus dengan memperkuat material genetiknya.

"Hasilnya tidak ada sekuens yang cocok dengan virus yang tim kami ambil dari kelelawar gua. Pikiran saya lega sekali, saya tidak tidur berhari-hari," kata Shi menegaskan tidak ada kebocoran dari laboratoriumnya.

Virus Corona Tak Mungkin Buatan Manusia

Direktur lab tersebut, Yuan Zhiming, menyatakan di awal Juni bahwa studi terpercaya di seluruh dunia soal genom coronavirus tidak menunjukkan bukti modifikasi oleh manusia. Virus itu juga berbeda dari virus apapun yang sudah diketahui, sehingga tak mungkin dikembangkan dari virus yang sudah ada.

"Mendesain dan menciptakan sebuah virus yang benar-benar tidak diketahui sebelumnya adalah di luar kapabilitas laboratorium eksisting apapun di institut kami," kata Zhiming, dikutip detikINET dari Xinhua.

"Kami tidak pernah berpartisipasi dalam mendesain atau menciptakan sebuah virus baru dan tidak akan pernah melakukan hal tersebut," tegasnya.

Dia menyinggung pula bahwa mencari asal COVID-19 adalah pekerjaan ilmiah yang sukar dan tidak akan ditemukan jawabannya dalam waktu singkat.

"Saya harap setiap orang bisa mengesampingkan prasangka mereka dan yakin pada sains dan bukti untuk menciptakan lingkungan riset rasional untuk melacak asal virus ini," pungkas Zhiming.

Diklaim Sangat Aman

Dr Yuan Zhiming kembali tampil belum lama ini, membahas keamanan lab Wuhan. Ia mengibaratkan, seekor nyamuk saja tidak akan bisa masuk ke sana tanpa izin atau otorisasi. Begitu pula tidak ada yang bisa keluar dari sana tanpa proses yang sangat ketat.

"Tanpa otorisasi, tidak ada dari periset kami yang bisa mengambil setetes air atau selembar kertas keluar dari lab," cetus Dr Yuan dalam siaran di televisi pemerintah China, CGTN.

"Jadi ketika beberapa orang berspekulasi bahwa kami mungkin membawa hewan eksperimen keluar atau menjualnya atau mungkin hewan itu lolos dari lab, mereka sebenarnya sama sekali tak tahu tentang manajemen dan operasi di lab kami," tegasnya.

Wuhan National Biosafety Laboratory di Wuhan Institute of Virology memang levelnya P4 atau secara teori keamanannya sangat tinggi dan satu-satunya di China yang menyandangnya. Lab P4 dirancang dapat meneliti virus amat berbahaya seperti ebola.

"Lab P4 dibuat dengan platform biosafety untuk memastikan periset aman dari patogen yang mereka teliti dan bahwa patogen itu tetap tersimpan di lab," papar Dr Yuan.
https://indomovie28.net/the-secret-room-of-pleasure-2/

Minggu, 12 Juli 2020

Modal Bisnis Masker Cukup Rp 5 Juta, Omzetnya Bisa 4 Kali Lipat

Masker menjadi komoditas usaha yang patut diperhitungkan di masa pandemi COVID-19 ini. Sebab dengan modal yang minim, dia bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah yang tak sedikit.
Seperti yang sudah dibuktikan oleh Raihan Abiyan Fattah. Hanya bermodal uang kurang dari Rp 5 juta, kini omzet bisnis masker buatannya sudah menyentuh Rp 20 jutaan per bulan.

"(Omzet) sekitar Rp 20 jutaan (per bulan)," kata Founder Masker Rupa Nusa itu kepada detikcom, Minggu (12/7/2020).

Omzet tersebut dia peroleh hanya dalam waktu singkat. Sebab dirinya baru merintis bisnis itu, tepatnya pada April lalu dan mulai memasarkan produknya pada 13 Mei melalui platform online.

Di bulan pertama, lanjut dia, maskernya laku terjual hingga 550 pcs. Lalu di bulan berikutnya, dia sudah mampu menjual hingga 1.000 pcs masker.

"Dalam 1 bulan penjualan 550 kejual. Jadi ngerasa 'wah bisa nih ternyata', lanjut lagi di bulan kedua, sekarang sih sudah 1.000 lebih masker kejual," sebutnya.

Masker tersebut dia banderol di Rp 20 ribu. Harga yang ditawarkannya bersifat flat, alias serba Rp 20 ribu untuk setiap masker bermotif yang ditawarkannya.

"Untuk harga Rp 20 ribu masker batiknya, flat Rp 20 ribu semua motif," tambahnya.

Alat Rapid Test Cuma Rp 45 Ribu, Kok Warga Bayar hingga Rp 425 Ribu?

 Alat pemeriksaan rapid test Corona di Indonesia masih didominasi oleh produk impor. Namun siapa sangka, harga impor alat rapid test ternyata hanya US$ 3 atau Rp 45.000 (kurs Rp 15.000/US$).
"Anda tahu harga impor berapa? Harga impor US$ 3 (satu rapid test). US$ 3 dolar tuh berapa sih Rp 43.000, itu harga impornya. Memang turun terus harganya US$ 4, US$ 3, US$ 2,5, anggap saja US$ 3 anggap Rp 45.000 deh," ungkap Pengamat Kesehatan Vincent Harjanto kepada detikcom, Kamis (9/7/2020).

Lalu, mengapa ada Rumah Sakit (RS)/Klinik yang mematok harga hingga Rp 425.000?

Sekjen Gabungan Alat Kesehatan dan Laboratorium Indonesia (Gakeslab), Randy Teguh mengatakan impor alat rapid test yang seharga US$ 3 sampai US$ 5 belum termasuk pajak dan pembiayaan pemeliharaan saat berada di gudang. Sehingga sebelum dijual ke RS, pihaknya harus memperhitungkan biaya pemeliharaan tersebut.

"Harus dihitung berapa pembiayaan gudang, apakah produk tersebut harus ditaruh di gudang yang suhunya terkontrol, itu semua ada biaya. Gudang harus kita pastikan bersih, jadi harus ada test controlnya, kita harus pastikan tidak lembap atau harus ada kontrol kelembapan itu biaya-biayanya ada. Belum lagi kalau alkes harus ada pelatihan kepada perawat, pelatihan kepada dokter, itu ada biaya-biaya. Semua itu baru biaya mencukupi untuk operasional sebagai pengusaha alkes," urainya.

Dengan harga alkes yang dijual selama ini ke pihak RS, Randy mengklaim telah menyesuaikan harga dengan memperhitungkan biaya pemeliharaan tersebut.

"Dari kami itu memang sudah mengeluarkan SE kepada seluruh anggota bahwa dalam masa pandemi kita harus berlaku sebagai pelaku usaha yang bertanggung jawab, profesional dan berintegritas. Bagi kami yang penting dari harga modal beli impornya ya kita tambahkan margin yang secukupnya untuk kita jual yang penting biaya-biaya tertutup," ujarnya.

Misalnya saja dari pengusaha menjual alat rapid test ke RS seharga Rp 65.000, pihak RS masih harus menghitung biaya lainnya saat melakukan rapid test ke pasien seperti Alat Pelindung Diri (APD), hingga jasa perawat.

"Kita jual ke RS dan memang petugasnya sendiri perlu pakai APD, katakan APD Rp 200.000 itu berarti sudah Rp 265.000 ditambah mungkin kita harus hitung jarum suntik, plester katakan Rp 10.000 berarti Rp 275.000, mungkin ada biaya untuk gaji perawat, pembayaran utilitasnya listrik, AC, mungkin Rp 350.000 sampai Rp 400.000 sih bisa jadi," katanya.
https://kamumovie28.com/kamen-rider-drive-episode-4-subtitle-indonesia/