Masker menjadi komoditas usaha yang patut diperhitungkan di masa pandemi COVID-19 ini. Sebab dengan modal yang minim, dia bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah yang tak sedikit.
Seperti yang sudah dibuktikan oleh Raihan Abiyan Fattah. Hanya bermodal uang kurang dari Rp 5 juta, kini omzet bisnis masker buatannya sudah menyentuh Rp 20 jutaan per bulan.
"(Omzet) sekitar Rp 20 jutaan (per bulan)," kata Founder Masker Rupa Nusa itu kepada detikcom, Minggu (12/7/2020).
Omzet tersebut dia peroleh hanya dalam waktu singkat. Sebab dirinya baru merintis bisnis itu, tepatnya pada April lalu dan mulai memasarkan produknya pada 13 Mei melalui platform online.
Di bulan pertama, lanjut dia, maskernya laku terjual hingga 550 pcs. Lalu di bulan berikutnya, dia sudah mampu menjual hingga 1.000 pcs masker.
"Dalam 1 bulan penjualan 550 kejual. Jadi ngerasa 'wah bisa nih ternyata', lanjut lagi di bulan kedua, sekarang sih sudah 1.000 lebih masker kejual," sebutnya.
Masker tersebut dia banderol di Rp 20 ribu. Harga yang ditawarkannya bersifat flat, alias serba Rp 20 ribu untuk setiap masker bermotif yang ditawarkannya.
"Untuk harga Rp 20 ribu masker batiknya, flat Rp 20 ribu semua motif," tambahnya.
Alat Rapid Test Cuma Rp 45 Ribu, Kok Warga Bayar hingga Rp 425 Ribu?
Alat pemeriksaan rapid test Corona di Indonesia masih didominasi oleh produk impor. Namun siapa sangka, harga impor alat rapid test ternyata hanya US$ 3 atau Rp 45.000 (kurs Rp 15.000/US$).
"Anda tahu harga impor berapa? Harga impor US$ 3 (satu rapid test). US$ 3 dolar tuh berapa sih Rp 43.000, itu harga impornya. Memang turun terus harganya US$ 4, US$ 3, US$ 2,5, anggap saja US$ 3 anggap Rp 45.000 deh," ungkap Pengamat Kesehatan Vincent Harjanto kepada detikcom, Kamis (9/7/2020).
Lalu, mengapa ada Rumah Sakit (RS)/Klinik yang mematok harga hingga Rp 425.000?
Sekjen Gabungan Alat Kesehatan dan Laboratorium Indonesia (Gakeslab), Randy Teguh mengatakan impor alat rapid test yang seharga US$ 3 sampai US$ 5 belum termasuk pajak dan pembiayaan pemeliharaan saat berada di gudang. Sehingga sebelum dijual ke RS, pihaknya harus memperhitungkan biaya pemeliharaan tersebut.
"Harus dihitung berapa pembiayaan gudang, apakah produk tersebut harus ditaruh di gudang yang suhunya terkontrol, itu semua ada biaya. Gudang harus kita pastikan bersih, jadi harus ada test controlnya, kita harus pastikan tidak lembap atau harus ada kontrol kelembapan itu biaya-biayanya ada. Belum lagi kalau alkes harus ada pelatihan kepada perawat, pelatihan kepada dokter, itu ada biaya-biaya. Semua itu baru biaya mencukupi untuk operasional sebagai pengusaha alkes," urainya.
Dengan harga alkes yang dijual selama ini ke pihak RS, Randy mengklaim telah menyesuaikan harga dengan memperhitungkan biaya pemeliharaan tersebut.
"Dari kami itu memang sudah mengeluarkan SE kepada seluruh anggota bahwa dalam masa pandemi kita harus berlaku sebagai pelaku usaha yang bertanggung jawab, profesional dan berintegritas. Bagi kami yang penting dari harga modal beli impornya ya kita tambahkan margin yang secukupnya untuk kita jual yang penting biaya-biaya tertutup," ujarnya.
Misalnya saja dari pengusaha menjual alat rapid test ke RS seharga Rp 65.000, pihak RS masih harus menghitung biaya lainnya saat melakukan rapid test ke pasien seperti Alat Pelindung Diri (APD), hingga jasa perawat.
"Kita jual ke RS dan memang petugasnya sendiri perlu pakai APD, katakan APD Rp 200.000 itu berarti sudah Rp 265.000 ditambah mungkin kita harus hitung jarum suntik, plester katakan Rp 10.000 berarti Rp 275.000, mungkin ada biaya untuk gaji perawat, pembayaran utilitasnya listrik, AC, mungkin Rp 350.000 sampai Rp 400.000 sih bisa jadi," katanya.
https://kamumovie28.com/kamen-rider-drive-episode-4-subtitle-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar