Minggu, 12 Juli 2020

11 Provinsi Laporkan Pasien Corona Sembuh Lebih Banyak dari Kasus Baru

 Pasien virus Corona yang sembuh di beberapa provinsi ini disebut lebih banyak daripada kasus positif Corona. Pemerintah pada Minggu (12/7/2020) mengumumkan penambahan kasus baru Corona sebanyak 1.681 orang, 919 dinyatakan sembuh, dan 71 meninggal dunia.
"Total sembuh hari ini adalah 919 sehingga total sembuh menjadi 35.638. Meninggal 71 orang jadi totalnya 3.606," ujar juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19 Achmad Yurianto dalam siaran pers BNPB melalui kanal YouTube, Minggu (12/7/2020).

Berikut detail perkembangan kasus virus Corona di Indonesia pada Minggu (12/7/2020):

1. Jumlah kasus positif bertambah 1.681 menjadi 75.699.
2. Jumlah pasien sembuh bertambah 919 menjadi 35.638.
3. Jumlah pasien meninggal dunia bertambah 71 menjadi 3.606.

Total ada 11 provinsi yang melaporkan penambahan kasus sembuh Corona lebih banyak dibandingkan kasus positif. Berikut sebaran provinsi yang melaporkan penambahan kasus sembuh lebih banyak dibandingkan kasus positif per 12 Juli:

Bali
- Sembuh: 59
- Kasus baru: 48

Banten
- Sembuh: 50
- Kasus baru: 12

DI Yogyakarta
- Sembuh: 2
- Kasus baru: 1

Jambi
- Sembuh: 9
- Kasus baru: 0

Kalimantan Barat
- Sembuh: 12
- Kasus baru: 3

Kalimantan Selatan
- Sembuh: 107
- Kasus baru: 77

Kepulauan Riau
- Sembuh: 7
- Kasus baru: 5

Sulawesi Tenggara
- Sembuh: 5
- Kasus baru: 2

Sulawesi Tengah
- Sembuh: 1
- Kasus baru: 0

Maluku
- Sembuh: 25
- Kasus baru: 10

Papua Barat
- Sembuh: 5
- Kasus baru: 4

Modal Bisnis Masker Cukup Rp 5 Juta, Omzetnya Bisa 4 Kali Lipat

Masker menjadi komoditas usaha yang patut diperhitungkan di masa pandemi COVID-19 ini. Sebab dengan modal yang minim, dia bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah yang tak sedikit.
Seperti yang sudah dibuktikan oleh Raihan Abiyan Fattah. Hanya bermodal uang kurang dari Rp 5 juta, kini omzet bisnis masker buatannya sudah menyentuh Rp 20 jutaan per bulan.

"(Omzet) sekitar Rp 20 jutaan (per bulan)," kata Founder Masker Rupa Nusa itu kepada detikcom, Minggu (12/7/2020).

Omzet tersebut dia peroleh hanya dalam waktu singkat. Sebab dirinya baru merintis bisnis itu, tepatnya pada April lalu dan mulai memasarkan produknya pada 13 Mei melalui platform online.

Di bulan pertama, lanjut dia, maskernya laku terjual hingga 550 pcs. Lalu di bulan berikutnya, dia sudah mampu menjual hingga 1.000 pcs masker.

"Dalam 1 bulan penjualan 550 kejual. Jadi ngerasa 'wah bisa nih ternyata', lanjut lagi di bulan kedua, sekarang sih sudah 1.000 lebih masker kejual," sebutnya.

Masker tersebut dia banderol di Rp 20 ribu. Harga yang ditawarkannya bersifat flat, alias serba Rp 20 ribu untuk setiap masker bermotif yang ditawarkannya.

"Untuk harga Rp 20 ribu masker batiknya, flat Rp 20 ribu semua motif," tambahnya.

Alat Rapid Test Cuma Rp 45 Ribu, Kok Warga Bayar hingga Rp 425 Ribu?

 Alat pemeriksaan rapid test Corona di Indonesia masih didominasi oleh produk impor. Namun siapa sangka, harga impor alat rapid test ternyata hanya US$ 3 atau Rp 45.000 (kurs Rp 15.000/US$).
"Anda tahu harga impor berapa? Harga impor US$ 3 (satu rapid test). US$ 3 dolar tuh berapa sih Rp 43.000, itu harga impornya. Memang turun terus harganya US$ 4, US$ 3, US$ 2,5, anggap saja US$ 3 anggap Rp 45.000 deh," ungkap Pengamat Kesehatan Vincent Harjanto kepada detikcom, Kamis (9/7/2020).

Lalu, mengapa ada Rumah Sakit (RS)/Klinik yang mematok harga hingga Rp 425.000?

Sekjen Gabungan Alat Kesehatan dan Laboratorium Indonesia (Gakeslab), Randy Teguh mengatakan impor alat rapid test yang seharga US$ 3 sampai US$ 5 belum termasuk pajak dan pembiayaan pemeliharaan saat berada di gudang. Sehingga sebelum dijual ke RS, pihaknya harus memperhitungkan biaya pemeliharaan tersebut.

"Harus dihitung berapa pembiayaan gudang, apakah produk tersebut harus ditaruh di gudang yang suhunya terkontrol, itu semua ada biaya. Gudang harus kita pastikan bersih, jadi harus ada test controlnya, kita harus pastikan tidak lembap atau harus ada kontrol kelembapan itu biaya-biayanya ada. Belum lagi kalau alkes harus ada pelatihan kepada perawat, pelatihan kepada dokter, itu ada biaya-biaya. Semua itu baru biaya mencukupi untuk operasional sebagai pengusaha alkes," urainya.

Dengan harga alkes yang dijual selama ini ke pihak RS, Randy mengklaim telah menyesuaikan harga dengan memperhitungkan biaya pemeliharaan tersebut.

"Dari kami itu memang sudah mengeluarkan SE kepada seluruh anggota bahwa dalam masa pandemi kita harus berlaku sebagai pelaku usaha yang bertanggung jawab, profesional dan berintegritas. Bagi kami yang penting dari harga modal beli impornya ya kita tambahkan margin yang secukupnya untuk kita jual yang penting biaya-biaya tertutup," ujarnya.
https://kamumovie28.com/kamen-rider-drive-episode-5-subtitle-indonesia/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar