Sabtu, 08 Agustus 2020

Pakar Ungkap Aktivitas Rawan yang Memunculkan Klaster Corona, Apa Saja?

 Infeksi virus Corona di Indonesia masih bertambah setiap harinya. Saat ini banyak bermunculan klaster Corona yang mengkhawatirkan masyarakat.
Klaster sendiri adalah peningkatan jumlah kasus yang besar dalam satu kelompok tertentu, misalnya klaster pasar, pemukiman, atau klaster perkantoran yang kemarin sempat ramai dibicarakan.

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan ada beberapa penyebab munculnya klaster Corona di perkantoran. Menurutnya klaster di perkantoran bisa terjadi karena ada karyawan yang tadinya terjangkit dari pemukiman atau bisa dalam perjalanan menuju kantor.

"Sebenarnya orang yang berkantor itu kan asalnya dari rumah jadi pastinya dari pemukiman ada klaster dan itu bisa tertularnya bisa di rumah atau perjalanannya menuju kantor. Ke depannya mungkin bisa jadi terbentuk klaster terminal karena transportasi," kata Wiku dalam siaran BNPB di Youtube dan ditulis Sabtu (8/8/2020).

Tapi sebenarnya apa sih yang memicu klaster Corona bermunculan?

"Saya mengamati ketika stay at home, orang-orang mencari kegiatan yang bisa mengkompensasi kebosanan. Di pemukiman, anak-anak tuh berkumpul tidak tinggal di rumah. Nongkrong makin sering, ramai-ramai, itu potensial (memicu klaster)," terang pakar kesehatan masyarakat, Prof dr Ascobat Gani, MPH, DrPH.

"Kedua adanya kelompok sport bersama, misalnya gowes. Kemarin ada yang gowes satu kelompok banyak yang positif, jadi klaster sendiri," sambungnya.

Banyaknya orang yang saat ini akhirnya keluar rumah tanpa menerapkan protokol kesehatan seperti jaga jarak dan memakai masker juga berkumpul dalam satu waktu di satu tempat dengan jumlah orang yang banyak menjadi pemicu munculnya klaster Corona. Misalnya dalam upacara adat dan pesta pernikahan yang saat ini sudah banyak diadakan.

"Itu juga potensial jadi klaster sehingga harus jadi perhatian kita bagaimana protokol kesehatan bisa dikembangkan untuk masing-masing klaster spesifik itu,"

Kabar Baik! Kandidat Obat Corona Potensial Masuk Tahap Uji Akhir

Obat potensial virus Corona COVID-19 yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Tycan di Singapura akan memulai uji klinis tahap akhir. Dalam beberapa minggu ke depan, antibodi monoklonal atau protein sistem kekebalan yang dikenal sebagai TY027 akan diuji pada ratusan pasien Corona.
Uji klinis ini diperkirakan akan memakan waktu beberapa bulan sebelum akhirnya disetujui untuk pengobatan virus Corona.

Salah satu pendiri Tycan, Ooi Eng Eong, yang juga seorang profesor di Duke-NUS Medical School, mengatakan perusahaannya tidak memiliki sumber daya untu melakukan uji coba dengan melibatkan ribuan pasien. Oleh karena itu uji coba akan melibatkan 500 pasien COVID-19 yang baru didiagnosis.

"Kami harus lebih ketat dalam merekrut pasien yang kami daftarkan. Kriteria utamanya adalah pasien berada dalam tujuh hari pertama infeksi," ujarnya kepada Strait Times.

"Membatasi kriteria pasien yang kami daftarkan akan memberi kesempatan terbaik untuk menunjukkan dalam waktu yang sesingkat mungkin dan pada sesedikit mungkin pasien, bahwa obat ini bekerja untuk mencegah gejala COVID-19 yang parah," sambungnya.

Antibodi monoklonal adalah protein sistem kekebalan yang dibuat di laboratorium, dan dapat dirancang dan direkayasa secara khusus untuk menargetkan Sars-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19. Keuntungannya adalah antibodi ini dapat dikembangkan selama beberapa bulan dan diproduksi dalam jumlah besar.

Saat ini perusahaan masih menunggu persetujuan dari pihak otoritas ilmu kesehatan Singapura sebelum melakukan perekrutan pasien uji coba. Idealnya, semua pasien yang akan dites berasal dari Singapura, namun pihaknya terbuka untuk peserta dari luar.

Pasien hanya akan ikut uji coba jika mereka memberikan persetujuan. Perusahaan tersebut juga akan membayar untuk tes dan kunjungan klinis jika pasien berada di luar perawatan medis standar yang diberikan.

Adapun berapa lama uji coba akan berlangsung, ini akan tergantung pada seberapa cepat 500 pasien dapat direkrut.

Pada fase pertama dan kedua, Ooi menyebut TY027 menunjukkan hasil yang baik.

"Profil keamanannya baik, efek samping minimal, dan hasilnya sangat menggembirakan," tuturnya.

Dalam skenario kasus terbaik, TY027 dapat disetujui sebagai pengobatan obat untuk Covid-19 tahun depan, atau bahkan lebih awal. TY027 sedang dieksplorasi untuk pengobatan pasien Covid-19 karena kemampuannya untuk memperlambat perkembangan penyakit dan mempercepat pemulihan, serta potensinya untuk memberikan perlindungan sementara terhadap infeksi.
https://kamumovie28.com/jesus/

Jumat, 07 Agustus 2020

Dikira Terinfeksi Corona, Ternyata Wanita Ini Idap Kanker Payudara

Seorang wanita dilaporkan meninggal dunia setelah dokter menyebut gejala medis yang dialaminya sebagai indikasi infeksi COVID-19. Setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, ternyata masalah kesehatannya disebabkan oleh kanker.
Beth Pattinson sebelumnya sudah dua kali sembuh dari kanker payudara yang diidapnya pada 2016 dan 2017. Hanya saja di bulan Maret 2020, gejalanya mulai kambuh. Beth kemudian mengunjungi dokter umum di Bridge End Surgery, Inggris, karena mengalami batuk yang tidak kunjung reda.

Pada saat itu, dokter menyebut batuk yang dialaminya kemungkinan besar disebabkan oleh virus Corona yang kala itu sudah mulai menyebar di seluruh negeri.

Dua bulan setelahnya, Beth kembali berkonsultasi dengan dokter onkologi di Rumah Sakit Royal Victoria Newcastle melalui telepon. Lagi-lagi, ia diberitahu bahwa gejala yang diidapnya merupakan kondisi akibat infeksi virus Corona.

Tidak disangka, gejalanya makin memburuk. Beth akhirnya dirawat di rumah sakit pada awal Juni karena dugaan pneumonia. Beth menjalani tiga kali tes virus corona sebelum dirawat dan semua hasilnya negatif.

Sayangnya butuh lebih dari seminggu untuk dokter menyadari kondisi yang diidap Beth adalah kanker payudara yang sudah bermetastasis ke ovarium dan paru-parunya. Pada bulan yang sama ia dirawat, Beth meninggal dunia di Newcastle's Freeman Hospital.

Kepada BBC, pihak keluarga mengatakan mereka tidak menyalahkan petugas medis atas apa yang terjadi pada Beth.

"Kami tidak ingin menyalahkan tenaga kesehatan karena perawatan dan dukungan yang ia terima selama empat tahun tidak ada duanya dan kami pikir apa yang telah dilakukan mereka, terutama sejak Maret ketika pandemi itu datang, telah luar biasa," kata sang Ayah.

Menurutnya, Beth bukanlah korban COVID-19 tetapi korban keadaan yang disebabkan oleh virus Corona.

"Jika ada hal yang dapat diwariskan Beth, maka kami meminta orang-orang yang pernah didiagnosis kanker sebelumnya diperiksa terlebih dahulu sebelum melihat penyebab lain," pungkasnya.

Ilmuwan Prediksi Vaksin Corona Kurang Efektif Melindungi Orang Obesitas

Banyak ilmuwan di dunia masih terus berlomba membuat vaksin Corona. Tetapi, beberapa ilmuwan menduga jika vaksin yang ditemukan nantinya kurang efektif untuk melindungi orang-orang yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
Para peneliti menunjukkan bahwa vaksin lainnya yang berasal dari tahun 1985, seperti flu, hepatitis A dan hepatitis B, juga tidak memberikan kekebalan pada orang dewasa yang mengalami obesitas.

"Akankah kami memiliki vaksin virus Corona tahun depan yang efektif untuk orang yang mengalami obesitas? Tidak mungkin," kata Raz Shaikh, seorang profesor di departemen nutrisi di Universitas Carolina Utara yang dikutip dari Fox News, Kamis (6/8/2020).

Konon, mereka yang mengalami obesitas sangat dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi. Tetapi, belum ada vaksin yang ampuh untuk mereka.

"Vaksin influenza memang masih bekerja pada pasien obesitas, tetapi nyatanya tidak terlalu baik," ujar Direktur Riset Diabetes Universitas Alabama, Amerika Serikat, Dr Timothy Garvey.

Di Amerika Serikat, ada lebih dari 40 persen orang dewasa yang mengalami obesitas. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) pun telah memperingatkan bahwa kondisi mereka bisa meningkatkan risiko jika terinfeksi virus Corona.

Obesitas ini memang telah diakui sebagai salah satu faktor risiko yang signifikan dalam penyebab kematian penyakit kanker dan kardiovaskuler. Ahli imunologi menemukan ternyata obesitas juga memiliki dampak yang negatif terhadap respon kekebalan tubuh.

Namun, menurut Dr Larry Corey yang mengawasi uji coba fase II oleh National Institute of Health, berdasarkan uji klinis vaksin untuk virus Corona ini tidak memiliki pengecualian dalam hal berat badan.
https://indomovie28.net/insidious-chapter-2-2/