Jumat, 07 Agustus 2020

Dikira Terinfeksi Corona, Ternyata Wanita Ini Idap Kanker Payudara

Seorang wanita dilaporkan meninggal dunia setelah dokter menyebut gejala medis yang dialaminya sebagai indikasi infeksi COVID-19. Setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, ternyata masalah kesehatannya disebabkan oleh kanker.
Beth Pattinson sebelumnya sudah dua kali sembuh dari kanker payudara yang diidapnya pada 2016 dan 2017. Hanya saja di bulan Maret 2020, gejalanya mulai kambuh. Beth kemudian mengunjungi dokter umum di Bridge End Surgery, Inggris, karena mengalami batuk yang tidak kunjung reda.

Pada saat itu, dokter menyebut batuk yang dialaminya kemungkinan besar disebabkan oleh virus Corona yang kala itu sudah mulai menyebar di seluruh negeri.

Dua bulan setelahnya, Beth kembali berkonsultasi dengan dokter onkologi di Rumah Sakit Royal Victoria Newcastle melalui telepon. Lagi-lagi, ia diberitahu bahwa gejala yang diidapnya merupakan kondisi akibat infeksi virus Corona.

Tidak disangka, gejalanya makin memburuk. Beth akhirnya dirawat di rumah sakit pada awal Juni karena dugaan pneumonia. Beth menjalani tiga kali tes virus corona sebelum dirawat dan semua hasilnya negatif.

Sayangnya butuh lebih dari seminggu untuk dokter menyadari kondisi yang diidap Beth adalah kanker payudara yang sudah bermetastasis ke ovarium dan paru-parunya. Pada bulan yang sama ia dirawat, Beth meninggal dunia di Newcastle's Freeman Hospital.

Kepada BBC, pihak keluarga mengatakan mereka tidak menyalahkan petugas medis atas apa yang terjadi pada Beth.

"Kami tidak ingin menyalahkan tenaga kesehatan karena perawatan dan dukungan yang ia terima selama empat tahun tidak ada duanya dan kami pikir apa yang telah dilakukan mereka, terutama sejak Maret ketika pandemi itu datang, telah luar biasa," kata sang Ayah.

Menurutnya, Beth bukanlah korban COVID-19 tetapi korban keadaan yang disebabkan oleh virus Corona.

"Jika ada hal yang dapat diwariskan Beth, maka kami meminta orang-orang yang pernah didiagnosis kanker sebelumnya diperiksa terlebih dahulu sebelum melihat penyebab lain," pungkasnya.

Ilmuwan Prediksi Vaksin Corona Kurang Efektif Melindungi Orang Obesitas

Banyak ilmuwan di dunia masih terus berlomba membuat vaksin Corona. Tetapi, beberapa ilmuwan menduga jika vaksin yang ditemukan nantinya kurang efektif untuk melindungi orang-orang yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
Para peneliti menunjukkan bahwa vaksin lainnya yang berasal dari tahun 1985, seperti flu, hepatitis A dan hepatitis B, juga tidak memberikan kekebalan pada orang dewasa yang mengalami obesitas.

"Akankah kami memiliki vaksin virus Corona tahun depan yang efektif untuk orang yang mengalami obesitas? Tidak mungkin," kata Raz Shaikh, seorang profesor di departemen nutrisi di Universitas Carolina Utara yang dikutip dari Fox News, Kamis (6/8/2020).

Konon, mereka yang mengalami obesitas sangat dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi. Tetapi, belum ada vaksin yang ampuh untuk mereka.

"Vaksin influenza memang masih bekerja pada pasien obesitas, tetapi nyatanya tidak terlalu baik," ujar Direktur Riset Diabetes Universitas Alabama, Amerika Serikat, Dr Timothy Garvey.

Di Amerika Serikat, ada lebih dari 40 persen orang dewasa yang mengalami obesitas. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) pun telah memperingatkan bahwa kondisi mereka bisa meningkatkan risiko jika terinfeksi virus Corona.

Obesitas ini memang telah diakui sebagai salah satu faktor risiko yang signifikan dalam penyebab kematian penyakit kanker dan kardiovaskuler. Ahli imunologi menemukan ternyata obesitas juga memiliki dampak yang negatif terhadap respon kekebalan tubuh.

Namun, menurut Dr Larry Corey yang mengawasi uji coba fase II oleh National Institute of Health, berdasarkan uji klinis vaksin untuk virus Corona ini tidak memiliki pengecualian dalam hal berat badan.
https://indomovie28.net/insidious-chapter-2-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar