Tidak hanya menyisakan ratusan korban jiwa dan ribuan luka orang luka-luka. Ledakan 2.750 ton amonium nitrat di Beirut juga menyebabkan udara tercemar gas beracun nitrous oxide atau N2O.
Oleh sebab itu, warga diimbau untuk menggunakan masker dan tidak keluar ruangan. Kedutaan Amerika Serikat juga mengimbau warganya di Beirut untuk melakukan hal yang sama.
"Ada laporan gas beracun terlepas dalam ledakan sehingga seluruh di area harus tetap berada di dalam ruangan dan menggunakan masker jika tersedia," demikian bunyi pesan tersebut, dikutip dari Washington Post, Rabu (5/8/2020).
Rumah sakit di Beirut pun dilaporkan kewalahan. Banyak pasien yang akhirnya harus dikirim ke luar Beirut untuk ditangani lebih lanjut.
Kasus virus Corona pun dilaporkan kembali melonjak usai ledakan di Beirut terjadi. Hal ini juga menambah beban medis menangani pasien yang terus melonjak di rumah sakit setempat.
"Virus Corona di Lebanon sedang 'meningkat' dan akan lebih sulit untuk dikendalikan setelah apa yang telah terjadi," kata Firass Abiad, manajer umum Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri Beirut, rumah sakit pemerintah utama Lebanon yang bertugas mengelola epidemi, dalam cuitan tweetnya Kamis (6/8/2020).
Dikutip dari Healthline, nitrous oxide merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau dan dikenal sebagai 'gas tertawa'. Jika terhirup, gas ini bersifat sedatif atau menenangkan tetapi dalam kadar tertentu bisa menyebabkan keracunan.
Beberapa gejala akut keracunan nitrous oxide antara lain:
Pusing, mual, muntah
Letih
Sakit kepala
Keringat berlebih
Menggigil
3 Fakta 'Tick-Borne', Virus yang Mewabah di China di Masa Pandemi Corona
Pandemi Corona masih berlangsung di seluruh dunia. Namun, baru-baru ini China melaporkan adanya kasus infeksi virus yang disebabkan oleh gigitan kutu atau dikenal dengan 'tick-borne'.
Dikutip dari Times of India, sejauh ini virus 'tick-borne' telah menginfeksi hampir 67 orang dan menewaskan sedikitnya 7 korban di China.
Berikut tiga fakta tentang virus 'tick-borne' yang perlu kamu tahu.
1. Sudah ada sejak 2009
Dikutip dari Firstpost, virus 'tick-borne' memiliki nama asli severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS).
Virus yang termasuk dalam kategori bunyavirus, yang merupakan keluarga arthropod-borne atau virus yang dibawa oleh hewan pengerat ini bukanlah penyakit baru. Sebab, SFTS telah ditemukan di China, Korea Selatan, dan Jepang sejak 2009.
2. Menular lewat gigitan kutu
SFTS umumnya ditularkan melalui gigitan kutu. Menurut sebuah studi tahun 2015, ada beberapa spesies kutu yang diduga sebagai pembawa virus SFTS, di antaranya H longicornis, R microplus, H campanulata dan D sinicus pada anjing, kucing, domba, dan sapi.
Para peneliti pun mengingatkan bahwa adanya kemungkinan virus SFTS dapat menular antarmanusia. Sebab, dicurigai penyakit ini bisa ditularkan melalui darah dan lendir dari orang yang terinfeksi.
3. Salah satu gejalanya menurunkan trombosit
Orang yang terinfeksi SFTS, di antaranya mengalami beberapa gejala sebagai berikut:
- Demam tinggi
- Menggigil
- Kehilangan nafsu makan
- Perdarahan gusi
- Muntah
- Diare
- Nyeri otot
- Trombosit menurun
- Sel darah putih menurun
https://nonton08.com/goat/