Sabtu, 08 Agustus 2020

Pasien Corona Sembuh Alami Kerontokan Rambut, Efek Samping COVID-19?

Sebuah survei mengungkapkan satu dari empat pasien Corona yang sudah sembuh melaporkan mengalami kerontokan rambut dalam jumlah yang banyak. Survei tersebut dilakukan secara online pada 1.500 orang yang telah sembuh dari COVID-19.
Hal ini dialami oleh seorang pasien Corona yang berhasil melawan virus tersebut sejak Maret lalu. Wanita bernama Grace Dudley dari Essex mengatakan saat dirinya bangun tidur, ia menemukan gumpalan-gumpalan rambut.

Selain Grace, sebanyak 27 persen pasien sembuh lainnya juga mengatakan mengalami kerontokan rambut yang ekstrim juga. Kerontokan ini terjadi di kulit kepala atau bagian tubuh lain, seperti alis.

Kondisi tersebut dikenal dengan Telogen Effluvium (TE), yaitu keadaan di mana seseorang mengalami kerontokan rambut untuk sementara waktu karena jumlah folikel di kulit kepala berubah. Menurut dokter, kondisi ini biasanya terjadi jika seseorang mengalami stres.

Pasien seringkali didiagnosis mengalami TE setelah mengidap penyakit serius, mengalami penurunan berat badan dalam jumlah besar, sampai demam parah.

Seorang dokter kulit bernama dr Shilpi Khetarpal mengatakan semakin banyak pasien sembuh yang mengalami kerontokan rambut. Ia mengatakan pasien yang sudah sembuh dari COVID-19 2-3 bulan yang lalu, saat ini mengeluh mengalami kerontokan rambut.

"Pada dasarnya, ini adalah kerontokan rambut berlebihan yang bersifat sementara akibat guncangan pada sistem tubuh. Ada beberapa pemicunya, seperti pembedahan, trauma fisik atau psikologi yang besar, efek infeksi, demam tinggi, penurunan berat badan yang ekstrim, hingga adanya perubahan pola makan," jelas Dr Khetarpal.

"Ini juga bisa disebabkan adanya perubahan hormon, seperti post-partum atau menopause. Ada juga karena kondisi medis atau nutrisi lain yan bisa memicu hal ini," lanjutnya.

Jika seseorang mengalami TE, seharusnya tidak muncul ruam, gatal, atau pengelupasan kulit. Dr Khetarpal pun menegaskan bahwa TE ini bukan termasuk gejala seseorang terinfeksi virus Corona.

"Telogen effluvium bukan gejala COVID-19, itu adalah efek dari infeksi," kata Dr Khetarpal.

Terpopuler Sepekan: Gas Beracun Nitrous Oxide Muncul Akibat Ledakan di Lebanon

Tidak hanya menyisakan ratusan korban jiwa dan ribuan luka orang luka-luka. Ledakan 2.750 ton amonium nitrat di Beirut juga menyebabkan udara tercemar gas beracun nitrous oxide atau N2O.
Oleh sebab itu, warga diimbau untuk menggunakan masker dan tidak keluar ruangan. Kedutaan Amerika Serikat juga mengimbau warganya di Beirut untuk melakukan hal yang sama.

"Ada laporan gas beracun terlepas dalam ledakan sehingga seluruh di area harus tetap berada di dalam ruangan dan menggunakan masker jika tersedia," demikian bunyi pesan tersebut, dikutip dari Washington Post, Rabu (5/8/2020).

Rumah sakit di Beirut pun dilaporkan kewalahan. Banyak pasien yang akhirnya harus dikirim ke luar Beirut untuk ditangani lebih lanjut.

Kasus virus Corona pun dilaporkan kembali melonjak usai ledakan di Beirut terjadi. Hal ini juga menambah beban medis menangani pasien yang terus melonjak di rumah sakit setempat.

"Virus Corona di Lebanon sedang 'meningkat' dan akan lebih sulit untuk dikendalikan setelah apa yang telah terjadi," kata Firass Abiad, manajer umum Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri Beirut, rumah sakit pemerintah utama Lebanon yang bertugas mengelola epidemi, dalam cuitan tweetnya Kamis (6/8/2020).

Dikutip dari Healthline, nitrous oxide merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau dan dikenal sebagai 'gas tertawa'. Jika terhirup, gas ini bersifat sedatif atau menenangkan tetapi dalam kadar tertentu bisa menyebabkan keracunan.

Beberapa gejala akut keracunan nitrous oxide antara lain:

Pusing, mual, muntah
Letih
Sakit kepala
Keringat berlebih
Menggigil
https://cinemamovie28.com/the-wolverine/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar