Sebuah rumah berlantai tanah di Malaysia viral setelah diunggah seorang pengguna Facebook. Dia mengaku takjub dengan bagian dalam rumah yang berdinding kayu dan seng itu.
Seorang aktivias masyarakat di Negeri Jiran bernama Natipah Abu mengunggah ke Facebook kekagumannya pada sebuah rumah berlantai kayu yang didatanginya. "Datanglah pada bila-bila masa pun, rumah ini memang senantiasa bersih dan kemas," demikian tulisnya seperti dilansir Mstar.
Natipah mendatangi rumah milik pasangan yang memiliki dua anak itu setelah mendengar dari warga sekitar bahwa rumah tersebut perlu diperbaiki. Natipah yang dikenal kerap melakukan aksi sosial pun mengungkapkan kekagumannya setelah datang langsung melihat rumah sangat sangat sederhana itu.
"Biarpun dapur cuma berlantaikan tanah tapi dijaga bersih. Ada ruang basuhan di hujung dapur tapi tiada sebarang bau yang kurang menyenangkan," tulisnya.
Natipah menggambarkan dinding rumah ini di buat dari berbagai bahan. Ada batu bata, kayu dan seng. Gorden menjadi batas pemisah antar ruangan.
"Jarang sekali kita temui rumah orang tidak mampu yang sebersih ini," tulis Natipah lagi mengenai rumah dari pasangan yang berada di Baling, Kedah, Malaysia itu.
Kekaguman Natipah pada rumah ini bukan hanya pada bagian dapur dan kebersihannya saja, ruangan lain di rumah ini pun membuatnya takjub. Salah satu yang menarik atensinya adalah baju-baju yang meskipun tidak diletakkan di lemari tertutup, tersusun dengan rapi.
"Susunan kain baju melambangkan mereka punya disiplin yang kuat sesama keluarga. Kalau ibu saja yang susu tapi anak-anak membuatnya berantakan lagi, tentu tidak akan seperti ini. Pendek kata, miskin bukanlah alasan untuk hidup dalam keadaan kotor," tulisnya.
Postingan Natipah ini pun viral di Facebook. Banyak netizen yang sepakat dengannya bahwa hidup dalam kekurangan bukan berarti tidak bisa menjaga kebersihan dan kerapian rumah.
Ini Alasan Psikologis Orang Sering Menonton Insta Stories-nya Sendiri
Saat berbagi foto dan video ke media sosial, kamu mungkin sering bolak balik melihatnya lagi. Beberapa orang ingin mengetahui seberapa banyak orang yang merespon, ada juga yang menonton insta stories yang diunggahnya sendiri. Tak selalu karena narsis, seorang pakar mengungkap ada alasan psikologis di baliknya. Dikatakan jika hal ini adalah versi upgrade dari apa yang dilakukan orang-orang di zaman purba.
Melihat kembali konten media sosial yang telah kita unggah dikatakan adalah sesuatu yang normal. Tak perlu merasa punya karakteristik narsistik, banyak orang melakukannya untuk mencari validasi dan ingin menampilkan imej tertentu pada dunia. Dengan mengetahui ada orang yang berinteraksi, kita akan merasa terlebih terhubung dengan orang lain.
"Kita menonton kembali (Insta) stories untuk melihat lagi apa yang kita posting di sana dan mengetahui siapa yang melihatnya, siapa yang tertarik melihatnya. Dalam hal ini, itu bisa membuat kita merasa lebih terkoneksi," kata Dr Elena Touroni, seorang konsultan psikologi dilansir Cosmopolitan.
Tak disangka ini adalah sebuah evolusi dari hal serupa yang dilakukan orang-orang jaman dulu. "Manusia pada dasarnya bersuku. Kita punya keinginan turunan untuk terkoneksi dan merasa diterima. Dulu, mengamankan tempat dalam suku penting untuk bertahan suku. Itulah mengapa keinginan untuk diterima sangat kuat, itu dulu adalah urusan hidup atau mati," jelas Elena.
Namun sering melihat konten medsos yang kita unggah memang bisa menggambar sesuatu mengenai diri kita. Mungkin kamu bukan orang yang narsis atau egois, tapi mungkin sedikit kurang punya penghargaan diri.
https://indomovie28.net/yoga-instructor-provoke-without-underwear-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar