Otoritas di Florida, Amerika Serikat, baru-baru ini menyetujui pelepasan 750 juta nyamuk rekayasa genetik. Tujuannya untuk menekan kejadian kasus penyakit berbahaya akibat virus, seperti dengue dan zika, yang biasa disebarkan oleh nyamuk.
Cara kerjanya menurut Oxitec, perusahaan yang melakukan rekayasa genetik, nyamuk-nyamuk tersebut seluruhnya jantan dan akan berusaha berkembang biak dengan nyamuk liar di alam. Hanya saja nyamuk rekayasa ini memiliki protein khusus yang akan membunuh keturunannya, sehingga semakin lama populasi nyamuk liar semakin berkurang.
Proyek ini sudah direncanakan selama bertahun-tahun, namun kerap mendapat penolakan oleh aktivis. Ada kekhawatiran melepas begitu saja nyamuk rekayasa genetik dalam jumlah banyak akan membawa dampak buruk yang tidak bisa diprediksi.
"Pelepasan nyamuk rekayasa genetik hanya akan menempatkan warga Florida, alam, dan spesies terancam pada bahaya yang tak perlu di tengah pandemi," protes kelompok pecinta alam, Friends of the Earth, seperti dikutip dari BBC pada Jumat (21/8/2020).
Oxitec menanggapi tindakan pemanfaatan nyamuk rekaya genetik sudah terbukti aman oleh studi. Mereka juga sudah melakukannya berkali-kali di negara lain.
"Kami sudah melepaskan milyaran nyamik kami selama beberapa tahun. Tidak ada potensi bahaya bagi lingkungan atau manusia," kata salah satu ilmuwan Oxites pada kantor berita AP.
Bernyanyi dan Berbicara Sama-sama Bisa Tularkan Corona
Aktivitas sehari-hari seperti bernyanyi dan berbicara disebut menghasilkan aerosol yang bisa menularkan virus Corona COVID-19. Di antara keduanya, bernyanyi tidak lebih berisiko dibanding bicara.
Temuan ini terkait dengan kebijakan pemerintah Inggris yang mengizinkan penyanyi profesional maupun nonprofesional untuk tampil selama menerapkan social distancong dan protokol pencegahan pada umumnya. Tidak perlu ada mitigasi ekstra ketika bernyanyi.
Para ilmuwan di University of Bristol menyimpulkan hal itu setelah mengamati droplet dan aerosol yang dihasilkan oleh 25 penyanyi profesional. Hasilnya, massa aerosol yang dihasilkan meningkat hingga 20-30 kali ketika volume suara dibesarkan.
Meski demikian, bernyanyi tidak secara substansial menghasilkan lebih banyak aerosol dibanding bicara dengan volume yang sama besar.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa penularan virus yang dihasilkan ketika seseorang bernyanyi dan berbicara sama-sama dimungkinkan," kata Jonathan Reid, direktur ESPRC Centre for Doctoral Training in Aerosol Science, dikutip dari Reuters.
Waspadai Klaster 'Long Weekend', Catat Ini Pesan Pemerintah
Menyambut libur panjang pada akhir pekan ini, Satgas Penanganan COVID-19 mengimbau masyarakat agar tetap memperhatikan protokol kesehatan. Hal ini diungkapkan untuk mencegah timbulnya klaster Corona, terutama di tempat-tempat wisata.
"Kami mohon agar dalam perayaan liburan ini anggota masyarakat benar-benar memperhatikan protokol kesehatan, menjaga keadaan sehingga tidak terjadi kerumunan dan penularan (COVID-19)," kata juru Bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam konferensi pers di YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (20/8/2020).
Wiku juga menegaskan kepada para pengelola tempat wisata untuk benar-benar menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, seperti membatasi kapasitas pengunjung hanya 50 persen, menyediakan fasilitas cuci tangan, memastikan para pengunjung menggunakan masker, dan menjaga jarak.
"Pastikan seluruh pengunjung menggunakan masker demikian juga anggota masyarakat dapat disiplin melakukan hal tersebut," tegasnya.
"Karena kalau tidak tidak disiplin nanti kitalah yang akan memanen kasusnya di beberapa hari ke depan dan inilah yang harus kita hindari," tuturnya.
https://nonton08.com/mope/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar