Rabu, 12 Agustus 2020

Vietnam Laporkan Lonjakan Kasus Kematian Virus Corona, Apa yang Salah?

 Setelah 99 hari berturut-turut Vietnam melaporkan tidak ada penularan kasus lokal COVID-19, kini negara tersebut melaporkan lonjakan kasus infeksi dan kematian akibat Corona. Hal ini memunculkan pertanyaan: apa yang salah?
Sebelumnya, pada minggu lalu Vietnam belum mencatat satu pun kasus kematian akibat virus Corona. Namun setelah itu, Vietnam melaporkan jumlah kematian akibat Corona mencapai 10 orang.

Vietnam menjadi negara pertama di dunia yang memberlakukan lockdown dan disebut sebagai salah satu wilayah yang berhasil menekan angka penularan Corona. Bahkan keputusan tersebut membuat Vietnam kala itu tidak mencatatkan adanya kasus kematian Corona.

Tetapi, lonjakan kasus baru-baru ini di kora Da Nang, Vietnam, membuat semua orang terkejut. Tidak ada yang tahu bagaimana kasus di Da Nang akhirnya menimbulkan lonjakan infeksi Corona bahkan kematian.

Saat ini ada 800 kasus di Vietnam, termasuk di ibu kota Hanoi dan Kota Ho Chi Minh, yang biasa dikenal sebagai Saigon.

Beragam analisa kemudian mulai muncul setelah kejadian tersebut. Beberapa waktu lalu, Pemerintah Vietnam mengatakan jenis virus Corona yang ada di kota Da Nang, lebih menular daripada virus Corona yang ada sebelumnya.

Dikutip dari laman BBC, di Hanoi Prof Rogier van Doorn, direktur Unit Penelitian Klinis Universitas Oxford, mengatakan sumber wabah terbaru ini masih menjadi "misteri besar".

Timnya bekerja sama dengan pemerintah untuk berfokus pada "pekerjaan detektif genetik" atau pengurutan genom virus yang dapat membantu memerangi rantai penularan.

Media lokal telah memuat laporan yang menunjukkan wabah terbaru mungkin disebabkan oleh jenis virus yang lebih ganas. Yang lain menunjuk pada kasus penyelundupan orang baru-baru ini di sepanjang perbatasan Vietnam-China.

Tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan jenis virus yang lebih mematikan atau bahwa para migran telah membawa virus ke negara itu.

Kemungkinan lain, kata para peneliti, adalah bahwa virus tidak terdeteksi selama bulan-bulan di mana tidak ada kasus yang dilaporkan, dan berpotensi ditularkan secara tidak bergejala di masyarakat. Atau mungkin ada kesalahan di suatu tempat selama proses karantina dengan seseorang yang dibebaskan sebelum waktunya.

Mulai Uji Klinis Hari Ini, Ini 5 Fakta Vaksin Corona Sinovac

Uji klinis vaksin Corona Sinovac di Indonesia rencananya akan dimulai hari ini, 11 Agustus, di Bandung, Jawa Barat.
Uji klinis vaksin ini dijadwalkan berjalan selama enam bulan dan ditargetkan selesai pada Januari 2021. Apabila uji klinis vaksin Covid-19 tahap 3 lancar, maka Bio Farma akan memproduksinya pada kuartal 1 2021 mendatang.

Selain itu, berikut 5 fakta vaksin Corona Sinovac yang sebentar lagi akan melakukan uji klinis di Indonesia.

1. Metode pembuatan vaksin
Salah satu alasan pemilihan Sinovac sebagai mitra adalah platform vaksin atau metode pembuatan vaksin yang digunakan oleh Sinovac, sama dengan kompetensi yang dimiliki oleh Bio Farma. Metode pengembangan vaksin yang dilakukan adalah metode inaktivasi.

Inaktivasi adalah metode pembuatan vaksin dengan menggunakan versi tidak aktif dari jenis virus atau bakteri penyebab penyakit tertentu.

2. Siapa saja yang jadi relawan?
Uji klinis vaksin Corona Sinovac rencananya akan melibatkan sekitar 1.620 relawan atau partisipan. Relawan yang mengikuti uji klinis vaksin Corona diharapkan berdomisili di Bandung berada dalam rentang usia produktif dan dalam kondisi yang sehat.

Hal tersebut dilakukan guna mempermudah proses pemantauan uji klinis vaksin selama enam bulan lebih.

"Hanya yang tinggal di Kota Bandung. Kalau luar kota mau ikut ini, pindah dulu ke Kota Bandung," kata Kusnandi di Rumah Sakit Pendidikan Unpad Jalan Eyckman nomor 38 Kota Bandung, Rabu (22/7/2020).

3. Adakah efek sampingnya?
Tim Peneliti Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Kusnandi Rusmil mengatakan, dalam pemberian vaksin kemungkinan terdapat dua efek samping di antaranya efek lokal dan sistemik.

"Efek sampingnya dua, reaksi lokal dan sistemik. Reaksi lokal di tempat suntikan ada merah, bengkak, nyeri dalam 48 jam sudah hilang lagi," kata Kusnandi.

4. Tempat uji klinis
Manajer Lapangan Uji Klinis Vaksin COVID-19 Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Eddy Fadlyana mengatakan, uji klinis tahap ketiga Vaksin Corona Sinovac akan dilakukan di enam tempat di Kota Bandung. Keenam tempat tersebut adalah:

1. Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Unpad
2. Balai Kesehatan Unpad Dipatiukur, dan
3. Puskesmas Ciumbuleuit
4. Puskesmas Puskesmas Garuda
5. Puskesmas Dago
6. Puskesmas Sukaparkir.

Selain di Indonesia, uji klinis fase 3 vaksin ini juga dilakukan di Brazil dan Bangladesh.
https://indomovie28.net/arq/

5 Fakta Uji Klinis Vaksin Sinovac yang Bakal Ditinjau Jokowi Hari Ini

 Uji klinis fase ketiga calon vaksin Corona buatan Sinovac akan dilaksanakan di Kota Bandung pada hari ini, Selasa (11/8/2020). Rencananya, penyuntikan perdana vaksin dari Negeri Tirai Bambu ini akan disaksikan langsung Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
Berikut lima fakta yang terhimpun soal uji klinis calon vaksin COVID-19 tersebut :

1. Diprediksi Siap Edar Februari 2021
Bio Farma dan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) akan melakukan uji klinis vaksin Corona Sinovac pada 1.620 relawan. Uji klinis fase III ini dijadwalkan akan berlangsung selama enam bulan dan selesai pada Januari 2021.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, sebagai koordinator dan pengontrol, mengharapkan vaksin Corona Sinovac siap edar Februari 2021.

"Prediksinya diperkirakan Bio Farma akan mengajukan izin edar atau conditional approval atau persetujuan penggunaan di Januari. Jadi sekitar Februari mudah-mudahan bisa dikeluarkan," ujar Direktur Standardisasi Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif BPOM, Dra Togi Junice Hutadjulu, Apt, MHA, dalam siaran pers BNPB yang dilihat detikcom, Kamis (6/8/2020).

Sebelum diedarkan secara massal di Indonesia, uji klinik fase III akan dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan PT Bio Farma dan Badan Litbangkes. Pihak Bio Farma juga menyebut telah menyiapkan fasilitas produksi vaksin dengan kapasitas 250 juta dosis.

2. Relawan Dapat Asuransi
Manajer Lapangan Uji Klinis Vaksin COVID-19 Eddy Fadlyana mengatakan, dalam pengujian ini pihaknya bekerjasama dengan PT Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 (Bumida) sebagai pemberi asuransi.

Lewat asuransi ini, keluhan kesehatan dari tingkat ringan sampai berat akan terlingkupi selama periode penelitian berlangsung.

"Jadi semua jenis penyakit ringan sampai berat selama periode penelitian," ujar Eddy saat dihubungi wartawan, Selasa (28/7/2020).

Kesehatan peserta dipastikan tetap dipantau oleh petugas penelitian secara teratur selama jalannya penelitian, atau sekitar 6 bulan setelah pemberian vaksin terakhir. Selain itu, calon relawan juga akan mendapatkan pemeriksaan rapid test dan swab test secara gratis.

3. Potensi Efek Samping Calon Vaksin
Ketua Tim Peneliti Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Kusnandi Rusmil menjelaskan, kemungkinan ada dua efek samping yang muncul saat pemberian vaksin Corona.

"Efek sampingnya dua, reaksi lokal dan sistemik. Reaksi lokal di tempat suntikan ada merah, bengkak, nyeri dalam 48 jam sudah hilang lagi," kata Kusnandi di Balai Kota Bandung, Senin (27/7/2020).

Efek samping lokal umumnya terjadi sebanyak 30 persen dari jumlah subjek penelitian (relawan). Sementara, efek samping lainnya yaitu sistemik di mana kondisi relawan mengalami demam di 30 menit pertama saat pemberian vaksin.

Jika relawan atau subjek mengalami efek samping di 30 menit pertama, akan dilakukan tindakan atau penanganan tertentu oleh pengawas atau dokter. Kusnandi mengatakan, reaksi ini akan timbul jika relawan memiliki alergi tertentu.

"Penting 30 menit pertama kita lihat ada tidak yang lemas, itu yang harus dijaga pertama, orang itu tidak boleh pulang dan dijaga betul oleh dokter. Nah kita belum tau ada yang reaksi alergi atau tidak. Tapi apapun reaksi suntikan vaksin akan begitu alergi ada, juga yang tidak," jelasnya.

4. Bio Farma Siap Produksi 250 Juta Dosis Vaksin Corona
Apabila uji klinis vaksin COVID-19 tahap ketiga lancar, maka Bio Farma akan memproduksinya pada kuartal 1 2021 mendatang.

"Kami sudah mempersiapkan fasilitas produksinya di Bio Farma, dengan kapasitas produksi maksimal di 250 juta dosis," ujar Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir.

Fasilitas produksi yang dimaksud adalah dengan mengoperasikan kembali Gedung 43 yang memiliki kapasitas produksi COVID-19 sebanyak 150 juta dosis pertahun. Bio Farma pun telah berinvestasi senilai Rp 1,3 triliun.

5. Uji Klinis Tahap III Tak Hanya di Indonesia
Tidak hanya Indonesia, beberapa negara lain juga dilaporkan akan melakukan uji klinis tahap III untuk vaksin kembangan Sinovac di negaranya.

Dikutip dari Reuters pada Senin (20/7/2020), Bangladesh juga telah menyetujui uji klinis tahap III vaksin Corona Sinovac.

Uji klinis rencananya akan dilakukan oleh Pusat Penelitian Penyakit Diarrheal Internasional di Bangladesh (ICDDR, B) pada bulan depan dan melibatkan sebanyak 4.200 relawan.

Negara kedua yang dilaporkan ikut uji coba tahap III adalah Brasil. Badan Regulasi Kesehatan Brasil (ANVISA) telah memberikan persetujuan untuk melakukan uji klinis tahap III vaksin Corona Sinovac. Dalam uji klinis ini, Sinovac bekerja sama dengan pusat penelitian biologi di Brasil, yakni Instituto Butantan.
https://indomovie28.net/10-minutes-gone-2/