Rabu, 02 September 2020

WNI Karantina di Natuna Akhirnya Punya Akses Komunikasi

Sebanyak 238 WNI (Warga Negara Indonesia) yang berada di Wuhan, China, akhirnya berhasil dievakuasi pada Sabtu (1/2) dan tiba di Natuna pada Minggu, (2/2). Seluruh WNI dari Wuhan akan menjalani proses observasi kesehatan atau karantina kesehatan di Natuna selama kurang lebih 14 hari sebagai upaya antisipasi penyebaran virus corona.
Saat tiba di Natuna, seluruh WNI dikabarkan kesulitan untuk berkomunikasi dengan keluarga atau kerabatnya. Mereka sempat tidak diperbolehkan untuk komunikasi dengan orang luar, meskipun menggunakan handphone. Selain itu alat komunikasi milik mereka masih terkoneksi dengan jaringan China.

Untuk memberikan kenyamanan bagi para WNI yang sedang dalam masa observasi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, drg. Widyawati, MKM mengatakan pihaknya telah memberikan akses komunikasi berupa pemberiam SIM Card. Hal ini dilakukan untuk membantu mereka berkomunikasi dengan keluarga atau kerabat setelah sebelumnya di berikan fasilitas berupa Wifi.

"Kita sudah memberikan SIM Card untuk WNI di Natuna setelah sebelumnya kita juga melakukan pemasangan wifi disana" jelas drg. Widyawati saat ditemui di Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (5/2/2020)

Sampai saat ini seluruh WNI yang berada di tempat karantina kesehatan di Natuna dalam keadaan baik dan sehat. Tidak ada kenaikan suhu tubuh sampai 38 derajat ataupun keluhan yang berkaitan dengan gejala virus corona seperti batuk dan demam.

Stok Mulai Langka, Masker Bisa Habis Terjual Dalam Sehari

Kelangkaan masker ternyata tidak hanya dirasakan para pembeli, tapi penjual juga. Meskipun masih tersedia di beberapa toko, stok tersebut bisa habis dalam waktu yang lumayan singkat dari biasanya.
"Iya lagi langka. Nanti juga kalau ke sini lagi agak siangan juga sudah habis. Makanya kalau mau itu (masker) dari pagi-pagi, stok masih ada," jelas penjaga apotek di Jakarta, Rahmawati, pada detikcom, Rabu (5/2/2020).

Menurut Rahmawati, habisnya masker tersebut waktunya tidak menentu. Tapi, bisa dikatakan lebih cepat daripada sebelum isu virus corona muncul. Sebelumya, bisa 3-7 hari baru habis.

"Nggak tentu, paling sejam yang akan datang ada yang beli, bisa juga sudah habis. Ya dari apotek lain juga ada (beli), sama orang-orang biasa aja buat pribadi," katanya.

"Masker anak juga mulai ramai dicari, ya buat anak mereka kali ya," tutur Rahmawati.

RI Pasang Thermal Scanner di Pelabuhan Pasca WNI Positif Virus Corona di Singapura

Kasus WNI di Singapura yang telah dinyatakan positif virus corona menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Meski belum memberlakukan larangan perjalanan, seluruh pintu masuk diperketat pengawasannya terutama dari Singapura.
"Terkait dengan hal tersebut, pemerintah Indonesia melakukan pengetatan pintu masuk dari berbagai negara termasuk Singapura karena diperkirakan ada 17 ribu orang berlalu lalang baik wisatawan maupun pekerja. Ini yang menjadi perhatian kita," jelas Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Anung Sugihantono, kepada media melalui sambungan telepon di Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Akses dari Singapura menuju Indonesia tak hanya jalur udara, ada juga yang melalui laut dengan pemberhentian pelabuhan. Seperti halnya di bandara, alat pengecekan suhu juga dipasang di pelabuhan.

"Pengecekan juga pakai thermal scanner. Sama seperti di bandara, di pelabuhan juga di pasang karena disana juga risiko," tutur Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI, dr Wiendra Wiworuntu.

Menurut penuturan Wiendra, setelah WHO mengumumkan status kewaspadaan virus corona, tak hanya di perbatasan Singapura, pengawasan di seluruh pintu masuk negara pun diperketat untuk mencegah penularan.

"Sebelum ini kan juga diperketat. Sekarang semua yang dari kapal feri kita periksa," pungkas Wiendra.
https://nonton08.com/laskar-pelangi-2-edensor/

Haruskah Menahan Kentut Agar Tak Ketahuan Saat Lewati Thermal Scanner?

Siapa yang belum tahu thermal scanner? Thermal scanner ini sebenarnya berfungsi untuk mendeteksi suhu tubuh manusia. Kementerian Kesehatan RI mengandalkan thermal scanner untuk mendeteksi wabah virus corona baru masuk ke Indonesia.
Belakangan sebuah video beredar soal thermal scanner yang terlihat bisa mendeteksi seseorang yang sedang kentut. Sepintas, masuk akal sih karena gas pencernaan yang kelar dalam wujud kentut memang terasa hangat.

Video yang beredar menyarankan agar penumpang yang melewati Thermal Scanner agar dapat menahan kentut, karena sensor inframerah disebut bisa memantau hal itu. Namun sebagian netizen beranggapan video yang beredar adalah fake. Bagaimana menurutmu?

Berikut 2 macam thermal scanner, dikutip dari CNN:

1. Thermal Gun

Thermal gun ini di bandara digunakan untuk mendeteksi suhu tubuh manusia sebelum turun dari pesawat. Salah satu tanda virus corona adalah demam.

Manusia bisa dikatakan demam ketika suhu tubuh sudah melewati rata-rata suhu tubuh normal, yakni 37,5 derajat. Alat ini berfungsi untuk langsung mendeteksi gejala dan tanda awal virus corona.

2. Thermal Scanner Camera

Thermal scanner ini memiliki kamera yang digunakan untuk mengecek suhu tubuh di seluruh bagian tubuh. Dilansir dari NBC, beberapa bandara menggunakan thermal scanner camera ini digunakan untuk memindai demam tanpa harus menggunakan termometer.

Cara thermal scanner camera adalah seperti kamera biasa. Akan tetapi, kamera ini juga bisa sensitif terhadap panas. Rekaman dari kamera ini muncul di layar video dengan objek yang lebih panas terlihat lebih terang.

WNI Karantina di Natuna Akhirnya Punya Akses Komunikasi

 Sebanyak 238 WNI (Warga Negara Indonesia) yang berada di Wuhan, China, akhirnya berhasil dievakuasi pada Sabtu (1/2) dan tiba di Natuna pada Minggu, (2/2). Seluruh WNI dari Wuhan akan menjalani proses observasi kesehatan atau karantina kesehatan di Natuna selama kurang lebih 14 hari sebagai upaya antisipasi penyebaran virus corona.
Saat tiba di Natuna, seluruh WNI dikabarkan kesulitan untuk berkomunikasi dengan keluarga atau kerabatnya. Mereka sempat tidak diperbolehkan untuk komunikasi dengan orang luar, meskipun menggunakan handphone. Selain itu alat komunikasi milik mereka masih terkoneksi dengan jaringan China.

Untuk memberikan kenyamanan bagi para WNI yang sedang dalam masa observasi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, drg. Widyawati, MKM mengatakan pihaknya telah memberikan akses komunikasi berupa pemberiam SIM Card. Hal ini dilakukan untuk membantu mereka berkomunikasi dengan keluarga atau kerabat setelah sebelumnya di berikan fasilitas berupa Wifi.

"Kita sudah memberikan SIM Card untuk WNI di Natuna setelah sebelumnya kita juga melakukan pemasangan wifi disana" jelas drg. Widyawati saat ditemui di Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (5/2/2020)

Sampai saat ini seluruh WNI yang berada di tempat karantina kesehatan di Natuna dalam keadaan baik dan sehat. Tidak ada kenaikan suhu tubuh sampai 38 derajat ataupun keluhan yang berkaitan dengan gejala virus corona seperti batuk dan demam.
https://nonton08.com/perempuan-tanah-jahanam/