Senin, 07 Desember 2020

BUMN China Hadapi Gagal Bayar Obligasi

 Kepercayaan investor terhadap pasar obligasi terbesar di dunia, yaitu China tengah diuji. Lantaran, ada beberapa perusahaan milik pemerintahan China (BUMN China) yang belakangan ini justru mengajukan status gagal bayar utang.

Padahal, berdasarkan data yang dikumpulkan Bloomberg, awal tahun 2020 lalu, kasus gagal bayar utang China sempat mengalami penurunan sebanyak 20% atau menjadi 85,1 miliar Yuan setara US$ 13 miliar. Lantaran ditopang kebijakan pemerintah menanggulangi dampak pandemi COVID-19. Setidaknya, saat itu selusin korporasi berhasil lolos dari jeratan gagal bayar utang.


Akan tetapi, kasus gagal bayar utang di China kembali meningkat di paruh kedua tahun ini. Padahal, kasus gagal bayar di pasar obligasi China dianggap sebagai kejadian langka. Lantaran, obligasi di China kebanyakan dikeluarkan oleh para BUMN China tersebut, yang biasanya kerap menerima dana talangan dari pemerintah. Sehingga, dianggap para investor sangat minim risiko.


Nyatanya, kali ini kasus gagal bayar di pasar obligasi China justru berasal dari BUMN China, sedangkan kasus gagal bayar dari korporasi swasta justru mulai mereda akhir tahun ini.


Siapa saja BUMN China yang gagal bayar utang tersebut?


Lanjut ke halaman berikutnya>>>


Pertama, Yongcheng Coal & Electricity Holding Group Co., penambang batu bara milik negara. Coal & Electricity Holding Group Co., baru saja mengajukan status gagal bayarnya pada November lalu.

Kedua, Tsinghua Unigroup Co., pembuat chip terkemuka di China.


Ketiga, Brilliance Auto Group Holdings Co., produsen mobil yang juga merupakan mitra usaha patungan BMW AG.


Sebelumnya, tepatnya tahun lalu, ada juga BUMN lain yang pernah menoreh catatan buruk di pasar obligasi. BUMN yang dimaksud adalah Tewoo Group. Perusahaan ini sampai mengajukan restrukturisasi utang US$ 1,25 miliar. Itu merupakan default (gagal bayar) obligasi dolar terbesar di antara perusahaan-perusahaan milik negara lainnya dalam 20 tahun terakhir.

https://tendabiru21.net/movies/acceleration/

AS Ternyata Punya Utang Jumbo ke China, Seberapa Besar?


 Utang Amerika Serikat (AS) ke China tembus US$ 1,06 triliun atau Rp 14.989,46 triliun (kurs Rp 14.141/US$). Sementara total utang AS ke sejumlah negara hingga akhir September mencapai US$ 20,4 triliun.

Dengan jumlah utang tersebut, China menjadi negara yang paling banyak memberikan utang ke AS. Selain China, surat utang AS paling banyak dipegang oleh Jepang.


Dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (5/12/2020), total kepemilikan asing terhadap surat utang AS mencapai US$ 7,07 triliun atau 35% dari yang diterbitkan. China memegang 5,2% dari seluruh surat utang AS tersebut.


China punya alasan tersendiri dari aksi borong surat utang AS tersebut. Salah satunya untuk menjaga nilai tukar Yuan agar tetap stabil. Mata uang Yuan penting dijaga tetap stabil agar ekonomi dalam negeri tak terpuruk sekaligus harga ekspornya terjaga murah.


Cara China menjaga Yuan agar tetap stabil adalah dengan mencetak Yuan banyak-banyak, lalu membeli dolar. Dolar yang dibeli itu tentu tidak bisa disimpan begitu saja, tetapi dipinjamkan ke Amerika dengan membeli surat utang bernama Treasury Securities yang dikeluarkan Pemerintah AS.


Lagi pula, Dolar AS juga diterima secara luas dan banyak digunakan dalam transaksi internasional. Komoditas penting seperti migas salah satunya, dihargai dan diperdagangkan dalam dolar AS.


Jika China mulai melepaskan utang AS, dapat memicu aksi jual di pasar obligasi, membuat suku bunga AS naik dan berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi. Aksi jual tiba-tiba juga bisa menyebabkan nilai tukar dolar AS jatuh terhadap yuan, membuat ekspor China lebih mahal dan dolar lebih lemah.


Lalu, bagaimana prospek kepemilikan utang AS di China? Klik halaman selanjutnya>>>

https://tendabiru21.net/movies/weathering-with-you/

Sabtu, 05 Desember 2020

Profil Dadang Hawari, Psikiater Kondang yang Wafat setelah Positif COVID-19

  Psikiater senior Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, meninggal dunia pada Kamis (3/12/2020). Meninggalnya Prof Dadang disampaikan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Dikabarkan Prof Dadang meninggal karena COVID-19. Namun menurut Ketua IDI Daeng M Faqih, pihaknya masih mengecek kebenaran penyebab meninggalnya Prof Dadang Hawari.


"Sedang diverifikasi kebenarannya," ujar Daeng M Faqih, ketika dikonfirmasi detikcom, Jumat (4/12/2020).


Salah satu pejabat Humas PB IDI Dr. Abdul Halik Malik, MKM, menyebut, Prof Dadang terkonfirmasi positif COVID-19. Namun hingga kini belum diketahui apakah meninggalnya akibat COVID-19.


Berikut profil Prof Dadang Hawari:

1. Psikiater Kondang

Prof Dadang Hawari merupakan psikiater beken. Dia mengadopsi konsep agama untuk mengobati pasien.


Konsep Prof Dadang yakni Biology, Psychology, Social and Spiritual (BPPS).


Dia kerap tampil di televisi sebagai narasumber untuk berbagai kasus psikologi.


Tempat praktik di rumahnya di daerah Tebet Barat, Jakarta Selatan.


2. Ceramah Kesehatan

Dadang dikenal sebagai Guru Besar Tetap di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dia kerap memberikan ceramah-ceramah berkonsep kesehatan.


3. Menulis Buku

Prof Dadang Hawari dikenal juga telah menulis buku.


Dia menulis buku antara lain Manajemen stress, cemas dan depresi, dan Konsep Islam memerangi AIDS & Naza.


4. Kehidupan Pribadi

Prof Dadang lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 16 Juni 1940. Dadang dibesarkan dalam keluarga dai. Ayahnya, K.H. Iskandar Idries, bekerja sebagai mubalig di Pekalongan. Ibunya bernama Hj. Siti Aisyah.


Dadang menikah dengan Hj. Ernie Hawari, pada 14 Februari 1965, dan dirayakan pada 30 September 1965. Dia dikaruniai empat anak bernama Hanief Hawari, Irawati Hawari, dan Ivonny Hawari.


Selamat jalan Prof Dadang Hawari!

https://cinemamovie28.com/movies/the-monkey-king-3/


Misteri Asal-usul COVID-19, Setahun Sejak Pasien Pertama Ditemukan di Wuhan


 Setahun lalu, pasien COVID-19 pertama kali terdeteksi di Wuhan, China. Kasus pertama yang diketahui komunitas medis internasional Wuhan hingga kini masih belum jelas asal-usulnya.

Menurut studi The Lancet di akhir Januari lalu, pasie pertama mulai menunjukkan gejala pada 1 Desember 20129. Namun, keluarga pasien COVID-19 tersebut tak pernah mengalami demam atau masalah pernapasan.


Faktanya, para peneliti hingga kini tak dapat menemukan hubungan epidemiologis antara siapa yang mereka yakini sebagai pasien pertama dan penularan COVID-19 di kasus berikutnya.


Dikutip dari CBS8, studi ini ditulis para peneliti China, mengamati 41 pasien konfirmasi positif COVID-19 pertama yang dirawat di RS. Konferensi pers Senin kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berkomitmen untuk terus mencari tahu asal-usul COVID-19.


"Kami ingin tahu asal usulnya dan kami akan melakukan segalanya untuk mengetahui asal usulnya," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal WHO, kepada wartawan.


Virus Corona baru ini kala itu akhirnya meninggalkan provinsi Hubei, China, dan menyebar ke berbagai wilayah di dunia termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Belakangan sebuah studi juga menemukan kemungkinan Corona menyebar lebih awal di Amerika Serikat beberapa minggu dari yang sebelumnya dilaporkan.


Para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menemukan antibodi COVID-19 dalam lusinan donor darah yang diambil antara 13 Desember 2019 hingga 17 Januari 2020.


Pada Selasa kemarin, AS memiliki kasus virus Corona terbanyak di dunia dengan lebih dari 13,5 juta. Disusul oleh India, Brazil, Rusia dan Prancis sebagai negara dengan kasus terbanyak.


Jumlah kematian akibat COVID-19 hingga kini terus bertambah bahkan sudah menyentuh 1,5 juta kasus. Beberapa vaksin COVID-19 kini tengah dikembangkan, dua di antaranya sudah melaporkan hasil akhir dengan efektivitas melebihi 90 persen.

https://cinemamovie28.com/movies/semper-fi/