Senin, 08 Februari 2021

Pria Ini Lolos dari Maut Berkat Apple Watch

 Sebagai hadiah ulang tahun pernikahan yang ke-17 Lori March memberikan Apple Watch kepada suaminya Bob March. Hadiahnya tersebut ternyata menjadi penyelamat hidup sang suami.

Dilansir detiKINET dari Mac Rumors, Sabtu (6/2/2021) Bob March yang merupakan mantan atlet tingkat perguruan tinggi yang juga berlari setengah maraton saat dewasa ini mulai menjajal fungsi jam tangan barunya.


Lalu ia menemukan aplikasi Heart Rate namun saat ia dalam kondisi santai ternyata pembacaan detak jantungnya menunjukkan 127 denyut per menit sebuah angka yang cukup tinggi.


Pada awalnya ia menepis dan menduga angka tersebut hanyalah kebetulan saja, namun ia melihat pembacaan pada monitornya tidak menentu dan selalu naik turun.


"Saya pikir, ini gila. Jika saya mengurangi lari atau pendinginan, saya pasti akan mencapai angka seperti itu." kata Bob.


Namun hari demi hari Bob dan Lori memperhatikan pembacaan detak jantung yang lebih tidak menentu.


"Saya mulai berlari dan itu mulai turun tetapi kemudian akan kembali naik. Jadi saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang mungkin tidak benar di sini." jelasnya.


Beberapa hari kemudian setelah melihat pola yang serupa akhirnya mendorong Lori untuk menjadwalkan janji untuk pemeriksaan fisik rutin.


"Saya pikir dokter akan menyuruh saya berlatih pernafasan, mencoba yoga, mengurangi natrium atau semacamnya. Tapi justru 10 menit setelah bertemu dengan saya dia memasukkan ke dalam ambulans menuju ke UGD," kata Bob.


Ternyata dokter telah menemukan penyakit artimia yang menyebabkan jantung Bob bekerja terlalu keras. Kondisi ini jika dibiarkan bisa berakibat fatal.


Bob pun akhirnya telah berhasil menjalani operasi dan memuji performa Apple Watch karena telah memainkan peran yang sangat penting menyelamatkan nyawanya.

https://tendabiru21.net/movies/love-loyalty-the-making-of-the-remains-of-the-day/


Jepang Minta Maaf Aplikasi Tracing COVID-19 Android Tak Berfungsi


 Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang meminta maaf atas tidak berfungsinya aplikasi tracing COVID-19 versi Android. Sejak September 2020, aplikasi ini tidak memberikan notifikasi ketika ada kontak yang terinfeksi.

Mengingat Jepang baru-baru ini sedang mengalami gelombang ketiga kasus terinfeksi COVID-19, kabar ini sangat mengejutkan. Kesalahan tersebut dinilai memalukan, terutama karena Jepang dikenal dengan reputasi negaranya yang sangat disiplin dan terkontrol dengan ketat.


Kementerian Kesehatan Jepang mengakui adanya masalah dalam update aplikasi tracing COVID-19 versi Android tersebut dalam pengumuman di halaman website aplikasi tersebut.


Dikutip dari The Register, Sabtu (6/2/2021) dalam website itu disebutkan bahwa notifikasi adanya kontak dengan orang terinfeksi COVID-19 tidak berfungsi sejak akhir September 2020 dikarenakan update untuk versi Android aplikasi tersebut belum rilis.


"Kami sungguh meminta maaf telah merusak kepercayaan masyarakat yang menggunakan aplikasi ini. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan akan bekerja keras untuk segera mengatasi kesalahan ini da mengontrol kualitasnya secara menyeluruh. Kami akan terus melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa orang-orang dapat menggunakan aplikasi ini dengan nyaman," demikian permohonan maaf tersebut disampaikan lewat website aplikasi.


Pada halaman aplikasi tersebut di Google Play, tercantum keterangan bahwa update terakhir diperbarui pada 14 Desember 2020. Karena kesalahan ini, cukup banyak para pengguna berpikir aplikasi tersebut tidak berguna berguna. Rating aplikasi menunjukkan angka 1,8 dari 5 pada lebih dari 15.800 ulasan.


Halaman Google Play juga mengungkapkan bahwa aplikasi ini telah diunduh lebih dari lima juta kali. Angka ini tentunya sangat besar dan seharusnya cukup untuk dijadikan sebagai alat pelacakan COVID-19 yang bisa diandalkan.


Sementara itu, kantor berita Nikkei melaporkan bahwa kesalahan aplikasi tersebut dirahasiakan sejak September 2020. Tak hanya itu, Nikkei juga melaporkan sejumlah masalah lainnya pada sistem kesehatan untuk penanggulangan COVID-19, antara lain ketidakmampuan untuk mencegah lebih banyak orang menggunakan aplikasi yang bermasalah tersebut.


Menurut Nikkei, konsekuensi dari masalah tersebut bisa membahayakan bahkan mungkin secara tidak langsung mematikan. Badan kesehatan dunia WHO menyebutkan Jepang saat ini sedang mengalami gelombang ketiga infeksi COVID-19 yang dimulai sejak November 2020.

https://tendabiru21.net/movies/the-remains-of-nothing/

Isi Aturan PPKM Mikro: WFH 50%, Mal Buka Sampai Pukul 21.00

 Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian baru saja menerbitkan Instruksi Mendagri (Inmendagri) 3/2021 tentang PPKM Mikro. Aturan ini mulai diterapkan pada 9 hingga 22 Februari 2021.

Melalui aturan ini, maka aturan work from office (WFO) dan work from home (WFH) ditetapkan menjadi 50%. Kemudian mal diperkenankan buka sampai pukul 21.00.


Dirjen Bina Administrasi Wilayah Kemendagri, Safrizal mengatakan, aturan tersebut keluar Sabtu lalu.


"Kami ingin sampaikan tentang Inmendagri Nomor 3, tadi malam sudah dikeluarkan jam 12 malam kurang 2 menit sudah dikeluarkan, jadi (terbit) masih hari Sabtu," ujarnya dalam Rapat Koordinasi Satuan Tugas Penanganan COVID-19 yang disiarkan di YouTube BNPB, Minggu (7/2/2021).


Aturan ini menjelaskan tentang penerapan PPKM mikro. Safrizal mengatakan Inmendagri ini berbeda dengan Inmendagri yang sudah diterbitkan pada PPKM mikro tahap kedua. Salah satunya adalah semua kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai wilayah PPKM mikro, maka di tingkat desa atau kelurahan otomatis wajib mengikuti aturan PPKM Mikro.


"Seluruh kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai wilayah PPKM mikro, maka seluruh desa yang ada di kabupaten itu ditetapkan sebagai wilayah pelaksanaan PPKM Mikro. Jadi misal, kabupaten yang ditetapkan Kota Depok, maka seluruh kelurahan di Kota Depok seluruhnya dilakukan PPKM Mikro. Bagi kabupaten kota yang nggak masuk dalam wilayah mikro, maka perintah pada kabupaten tersebut tetap jalankan arahan protokol kesehatan," katanya.


Instruksi Mendagri ini mengubah aturan WFO dan WFH menjadi 50%. Sekolah di wilayah PPKM mikro juga tetap berlangsung secara daring. Lalu, untuk aturan jam operasional mal juga diatur maksimal pukul 21.00 WIB/WITA tanpa toleransi.


"Kalau tahap 2, ada jam 19.00, namun ada berlakukan jam toleransi sampai jam 20.00, kemudian tahap kedua ada toleransi jam 20.00 ke jam 21.00, pada PPKM mikro ini pemberlakuan pusat belanja dilakukan maksimal pukul 21.00 WIB atau WITA," tegasnya.


Dine-in di restoran juga masih tetap dibatasi maksimal 50% Restoran juga diwajibkan tutup pukul 21.00 WIB. Termasuk juga pembatasan di rumah ibadah yakni hanya diperbolehkan 50% dengan mewajibkan memakai masker.


"Kemudian fasilitas umum, sosbud dihentikan sementara, kegiatan yang bisa timbulkan kerumunan dihentikan sementara," jelas Safrizal.


Sedangkan transportasi umum diminta tetap mengikuti protokol kesehatan ketat selama PPKM Mikro. Safrizal meminta penumpang transportasi pendek tidak membuka masker dan jam operasional tetap dibatasi.

https://tendabiru21.net/movies/all-that-remains/


Pria Ini Lolos dari Maut Berkat Apple Watch


Sebagai hadiah ulang tahun pernikahan yang ke-17 Lori March memberikan Apple Watch kepada suaminya Bob March. Hadiahnya tersebut ternyata menjadi penyelamat hidup sang suami.

Dilansir detiKINET dari Mac Rumors, Sabtu (6/2/2021) Bob March yang merupakan mantan atlet tingkat perguruan tinggi yang juga berlari setengah maraton saat dewasa ini mulai menjajal fungsi jam tangan barunya.


Lalu ia menemukan aplikasi Heart Rate namun saat ia dalam kondisi santai ternyata pembacaan detak jantungnya menunjukkan 127 denyut per menit sebuah angka yang cukup tinggi.


Pada awalnya ia menepis dan menduga angka tersebut hanyalah kebetulan saja, namun ia melihat pembacaan pada monitornya tidak menentu dan selalu naik turun.


"Saya pikir, ini gila. Jika saya mengurangi lari atau pendinginan, saya pasti akan mencapai angka seperti itu." kata Bob.


Namun hari demi hari Bob dan Lori memperhatikan pembacaan detak jantung yang lebih tidak menentu.


"Saya mulai berlari dan itu mulai turun tetapi kemudian akan kembali naik. Jadi saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang mungkin tidak benar di sini." jelasnya.


Beberapa hari kemudian setelah melihat pola yang serupa akhirnya mendorong Lori untuk menjadwalkan janji untuk pemeriksaan fisik rutin.


"Saya pikir dokter akan menyuruh saya berlatih pernafasan, mencoba yoga, mengurangi natrium atau semacamnya. Tapi justru 10 menit setelah bertemu dengan saya dia memasukkan ke dalam ambulans menuju ke UGD," kata Bob.


Ternyata dokter telah menemukan penyakit artimia yang menyebabkan jantung Bob bekerja terlalu keras. Kondisi ini jika dibiarkan bisa berakibat fatal.


Bob pun akhirnya telah berhasil menjalani operasi dan memuji performa Apple Watch karena telah memainkan peran yang sangat penting menyelamatkan nyawanya.

https://tendabiru21.net/movies/the-remaining/