Senin, 08 Februari 2021

Elon Musk Akan Uji Coba Tanam Chip di Otak Manusia Tahun Ini

 Startup Neuralink milik Elon Musk sudah membuat gebrakan dengan percobaan yang melibatkan babi dan monyet. Meski diklaim sudah menunjukkan hasil, eksperimen ini masih belum diuji coba langsung pada manusia.

Tapi itu sepertinya hal ini akan segera berubah. Lewat cuitan di akun Twitter pribadinya, Musk mengatakan ia berharap Neuralink bisa melakukan uji coba pada manusia pada tahun ini, seperti dikutip dari TechSpot, Sabtu (6/2/2021).


Kabar tersebut disampaikan CEO Tesla dan SpaceX ini untuk menjawab pertanyaan seorang follower-nya yang lumpuh dan ingin menjadi studi klinis Neuralink.


Musk menambahkan, sebelum bisa menguji coba teknologinya pada manusia, Neuralink harus bekerja keras untuk memastikan keamanan implan dan terus berkomunikasi dengan Food and Drug Administration (FDA) untuk mendapatkan persetujuan.


Saat didirikan pada tahun 2017, salah satu tujuan Neuralink adalah dengan menghubungkan otak manusia dengan mesin. Dengan teknologi tersebut, manusia bisa berinteraksi dengan mesin secara lebih cepat dan tidak tersaingi oleh kecerdasan buatan (AI).


Untuk kegunaan jangka pendek, Musk berharap teknologi ini bisa digunakan untuk membantu penderita lumpuh yang mengalami cedera otak atau tulang belakang untuk mengontrol mouse komputer atau ponsel hanya dengan berpikir.


Sedangkan untuk jangka panjang, pria berusia 49 tahun ini mengklaim Neuralink bisa membantu manusia saling berkomunikasi menggunakan telepati dan berada di dalam 'save state' setelah meninggal dunia agar bisa dimasukkan ke dalam robot atau manusia lainnya.


Baru-baru ini Musk mengungkap bahwa Neuralink berhasil menanamkan implan chip wireless ke otak seekor monyet yang kemudian berhasil memainkan game hanya dengan mengandalkan pikirannya.


Pada Agustus lalu, Neuralink juga mengadakan demonstrasi langsung yang menampilkan bagaimana mereka berhasil memprediksi pergerakan tiga ekor babi yang sudah dipasangi chip di otaknya.


Perbedaan utama antara kedua percobaan ini adalah chip di otak babi masih menggunakan kabel, sedangkan chip yang ditanam di otak monyet sudah wireless. Ini menunjukkan kemajuan yang signifikan jika Musk ingin segera menguji teknolog Neuralink di manusia.

https://tendabiru21.net/movies/one-remains/


Ultah ke-17, Facebook Jadi Kerajaan Besar Mark Zuckerberg


 Pada 4 Februari 2004 atau 17 tahun silam, Facebook diluncurkan oleh Mark Zuckerberg di kamar asramanya di Universitas Harvard. Kini, Facebook bersama layanan lainnya terutama Instagram dan WhatsApp, telah menjadi kerajaan besar yang dikendalikan oleh Zuck.

Facebook didirikan sebenarnya tak hanya oleh Zuck tapi bersama para rekannya yaitu Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes. Namun semua pendiri itu sudah resign dari Facebook dan tinggal Zuckerberg seorang diri memimpin Facebook.


"17 tahun silam, mahasiswa pertama mendaftar Facebook dan mulai terkoneksi dengan teman-temannya. Ini merupakan perjalanan yang liar sejak itu dan saya ingin berterima kasih pada Anda semua telah menjadi bagian dari komunitas ini," tulis Zuck di Facebook.


"Saya bangga dengan apa yang kami capai bersama-sama dalam 17 tahun terakhir, tapi saya lebih optimistis lagi tentang tahun-tahun mendatang," tambah dia.


Facebook awalnya ditujukan untuk menjadi media sosial para mahasiswa. Tak disangka, jejaring sosial ini kemudian meraksasa hingga saat ini belum ada yang mampu mengalahkannya. Medsos yang lebih dulu jaya seperti Friendster dan MySpace pun mereka libas.


Zuck jelas pantas optimistis karena belum ada tanda-tanda popularitas Facebook dan anak perusahaannya menurun walau dilanda beberapa kontroversi. Pada kuartal 4 2020, jumlah pengguna Facebook tembus 2,8 miliar.

https://tendabiru21.net/movies/the-remains-from-the-shipwreck/

Jepang Minta Maaf Aplikasi Tracing COVID-19 Android Tak Berfungsi

 Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang meminta maaf atas tidak berfungsinya aplikasi tracing COVID-19 versi Android. Sejak September 2020, aplikasi ini tidak memberikan notifikasi ketika ada kontak yang terinfeksi.

Mengingat Jepang baru-baru ini sedang mengalami gelombang ketiga kasus terinfeksi COVID-19, kabar ini sangat mengejutkan. Kesalahan tersebut dinilai memalukan, terutama karena Jepang dikenal dengan reputasi negaranya yang sangat disiplin dan terkontrol dengan ketat.


Kementerian Kesehatan Jepang mengakui adanya masalah dalam update aplikasi tracing COVID-19 versi Android tersebut dalam pengumuman di halaman website aplikasi tersebut.


Dikutip dari The Register, Sabtu (6/2/2021) dalam website itu disebutkan bahwa notifikasi adanya kontak dengan orang terinfeksi COVID-19 tidak berfungsi sejak akhir September 2020 dikarenakan update untuk versi Android aplikasi tersebut belum rilis.


"Kami sungguh meminta maaf telah merusak kepercayaan masyarakat yang menggunakan aplikasi ini. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan akan bekerja keras untuk segera mengatasi kesalahan ini da mengontrol kualitasnya secara menyeluruh. Kami akan terus melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa orang-orang dapat menggunakan aplikasi ini dengan nyaman," demikian permohonan maaf tersebut disampaikan lewat website aplikasi.


Pada halaman aplikasi tersebut di Google Play, tercantum keterangan bahwa update terakhir diperbarui pada 14 Desember 2020. Karena kesalahan ini, cukup banyak para pengguna berpikir aplikasi tersebut tidak berguna berguna. Rating aplikasi menunjukkan angka 1,8 dari 5 pada lebih dari 15.800 ulasan.


Halaman Google Play juga mengungkapkan bahwa aplikasi ini telah diunduh lebih dari lima juta kali. Angka ini tentunya sangat besar dan seharusnya cukup untuk dijadikan sebagai alat pelacakan COVID-19 yang bisa diandalkan.


Sementara itu, kantor berita Nikkei melaporkan bahwa kesalahan aplikasi tersebut dirahasiakan sejak September 2020. Tak hanya itu, Nikkei juga melaporkan sejumlah masalah lainnya pada sistem kesehatan untuk penanggulangan COVID-19, antara lain ketidakmampuan untuk mencegah lebih banyak orang menggunakan aplikasi yang bermasalah tersebut.


Menurut Nikkei, konsekuensi dari masalah tersebut bisa membahayakan bahkan mungkin secara tidak langsung mematikan. Badan kesehatan dunia WHO menyebutkan Jepang saat ini sedang mengalami gelombang ketiga infeksi COVID-19 yang dimulai sejak November 2020.


Pada gelombang kali ini, kasus infeksi per hari melonjak hingga mencapai 8.000. Sebelumnya di gelombang kedua, Jepang 'hanya' mengalami 2.000 kasus infeksi baru per harinya.


Di situasi gelombang ketiga ini, tercatat 4.254 dari total kematian COVID-19 di Jepang telah terjadi sejak November 2020, dari total keseluruhan 6.020. Ada 635 kematian di pekan lalu, menandai pekan terburuk Jepang selama masa pandemi.

https://tendabiru21.net/movies/the-time-that-remains/


Elon Musk Akan Uji Coba Tanam Chip di Otak Manusia Tahun Ini


Startup Neuralink milik Elon Musk sudah membuat gebrakan dengan percobaan yang melibatkan babi dan monyet. Meski diklaim sudah menunjukkan hasil, eksperimen ini masih belum diuji coba langsung pada manusia.

Tapi itu sepertinya hal ini akan segera berubah. Lewat cuitan di akun Twitter pribadinya, Musk mengatakan ia berharap Neuralink bisa melakukan uji coba pada manusia pada tahun ini, seperti dikutip dari TechSpot, Sabtu (6/2/2021).


Kabar tersebut disampaikan CEO Tesla dan SpaceX ini untuk menjawab pertanyaan seorang follower-nya yang lumpuh dan ingin menjadi studi klinis Neuralink.


Musk menambahkan, sebelum bisa menguji coba teknologinya pada manusia, Neuralink harus bekerja keras untuk memastikan keamanan implan dan terus berkomunikasi dengan Food and Drug Administration (FDA) untuk mendapatkan persetujuan.

https://tendabiru21.net/movies/all-that-remains-2/