Kamis, 05 Maret 2020

Menapaki Jejak Maha Dahsyat Letusan Tambora (4)

Jika sebelumnya harus melawan keputusasaan di jalur yang tak berujung, musuh selanjutnya adalah jelatang. Tanaman yang dapat tumbuh hingga 1 meter. Daunnya beracun, hidupnya bergerombol. Jika terkena kulit akan terasa perih seperti terbakar, merah, kemudian muncul betol-bentol dan akhirnya membengkak. Disini Jelatang jadi momok para pendaki, karena kadang keberadaannya tak terdeteksi sampai sapuan dahsyatnya menyentuh kulit.

Kini saya telah siap mengahadapi para jelatang itu! Pakaian serba panjang menggantikan celana dan baju pendek yang tadi saya kenakan dari bawah. Tak lupa aksesori buff di kepala. Selain supaya terlihat modis, buff juga punya segudang fungsi dan kegunaan.

Saya spontan berteriak karena ada yang tak beres dengan jari-jari saya. Baru 10 menit meninggalkan pos 3, Saya sudah dibuat repot oleh tanaman ini. Jelatang-jelatang itu berhasil menyelinap di salah satu jari saya. Sensainya tidak main-main, butuh sekitar 15 menit untuk meredakan rasa terbakar akibat racun yang ada di daunnya. tanpa sadar kami sudah berada di jalur penuh jelatang.

Sementara jalanan terus menanjak semakin terjal, pepohonan sesekali mulai terbuka menuju pos 4, tak jarang pula kami berjalan jongkok, melompat atau merangkak.

Pos 4

Bukan karna penuh jelatang, saya merasa Pos 4 terasa begitu horror. Entahlah, mungkin karena kombinasi pohon-pohon besar yang saat itu bergoyang kesana kemari perlahan tertiup angin, sayup-sayup suara oaĆ¢€™ dari kejauhan, ditambah matahari yang sudah tak terlalu terik. Suasananya begitu gelap nan muram.

Beberapa kali saya berteriak bersahutan berharap ada balasan. Namun hanya dijawab oleh suara gesekan ranting pohon dihembus angin. Sepertinya Kami rombongan terakhir di jalur ini. Tak banyak yang dilakukan di Pos 4, sumber airpun tidak ada. Kami hanya beristirahat sebentar sekitar 15 menit, kemudian melanjutkan bagian akhir perjalanan hari ini. Tak lama kabut turun, menandakan kami harus segera beranjak menuju Pos terakhir. Entah kenapa ada perasaan legadalam diri saya ketika kami meninggalkan tempat itu.Kabut selalu mengandung misteri, datang tiba-tiba hilang pun tanpa rencana.

Jadi teringat satu kabut yang spesial. Ia selalu datang setiap tahun. Ketika datang, orang-orang menyambutnya dengan masker-masker di wajah. Banyak media yang memberitakannya. Ia merambah ke sudut-sudut jalanan. Membuat orang-orang kesulitan bernafas, sampai terserang berbagai penyakit. Membuat riuh kota disekitarnya karena jalanan jadi tak aman, jarak pandang makin berkurang. Ia didaulat jadi bencana tahunan ketika musim kemarau tiba.

Butiran debu berterbangan masuk ke sela-sela buff yang sejak tadi sudah terpasang menutupi wajah. Jalur mulai berubah, Pohon-pohon tinggi yang tadi mendominasi dari titik awal pendakian kini berkurang. Jenisnya pun berbeda, lebih banyak pohon pinus deselingi tanaman-tanaman perdu lainnya. Kini, Saya mencoba berkawan dengan alang-alang dan hempasan debu dari tiap jejakkan kaki kami di jalur yang menanjak semakin terjal.

Menapaki Jejak Maha Dahsyat Letusan Tambora (3)

Alunan tembang 'jaran goyang' menemani pendakian yang sudah berjalan sekitar 2 jam. Jalur tak begitu terjal, namun terasa begitu jauh. Sesekali saya dapat berlari di jalur pendakian ini. Tumbuhan didominasi pohon-pohon tinggi yang agak terbuka. Tim ini masih berjalan dalam satu rombongan utuh dengan formasi Inggar, Zahra, Saya, Hanin dan Taufik. Sedangkan dua porter yang kami sewa ada di depan dan di belakang. Obrolan santai tentang kantor, bos, musik, dan segala hal tumpah bercampur tak karuan hingga kami sampai di pos 2.

Pos 2

'Gunung bukan tempat sampah' kalimat itu tiba-tiba terlintas di fikiran saya. Membayangkan Tambora begitu berbeda dari bayangan saya. Ia begitu gagah dan asri. Menyimpan sejuta misteri dalam balutan kabutnya. Ia masih begitu bersih, meninggalkan kesan dalam beberapa jam saya mengenalnya.

Ayo Makan! Makan bareng kita sini Teriakan rombongan bapak-bapak pengusaha mengagetkanku. Rupanya mereka sudah sampai duluan dan sempat masak di pos ini. Bukan kaleng-kaleng! Mereka masak rawon di Gunung! Saya malu kepada diri sendiri yang umurnya jauh lebih muda, melirik sayu pada logistik serba instan yang kami bawa dari bawah.

Kami terkecoh oleh sungai kecil yang mengalir deras di Pos 2. Kami lalai, boros dengan minum sesuka hati. Kini botol-botol itu melompong kosong terselip di kanan-kiri tas kami, tinggal beberapa teguk. Perjalanan menuju Pos 3 begitu jauh, terasa jauh sekali.

Berbagai macam tembang yang diputar dalam speaker mini mengalun, mencoba bangkitkan kembali saya yang mulai dirundung keputusasaan. Melawan Langkah yang semakin gontai, jalan beberapa langkah kemudian beristirahat begitu berulang-ulang. VegetasiƂ begitu rapat, banyak pohon-pohon besar tumbang. Untungnya kondisi ini berpihak kepada kami dengan melindungi terjangan matahari langsung yang dapat semakin menghambat pendakian.

Tidak ada yang lebih buruk daripada terjebak dalm keputusasaan. Bahkan, sekelas Bill Gates pun pernah mengalaminya. Bayangkan jika Ia tidak bangkit dari kegagalan. Mungkin saat ini kita masih membawa sempoa kemana-mana, atau menenteng mesin tik sambil minum kopi di caffe.

Salah seorang porter kami menyingkir agak jauh di sela-sela istirahat, sebut saja Bang Mamat. Sejurus kemudian ia membakar lintingan yang sudah ia siapkan dari rumahnya. aromanya menyeruak di sela-sela obrolan kami. Sambil rebahan di batang kayu tumbang yang cukup besar, Ia begitu menghayati tiap hisapannya.

Pos 3

Setelah terseok-seok, kami sampai di Pos 3. Terdapat sebuah pondokan kayu yang berdiri disini, lokasinya cukup lapang untuk menampung sekitar 15 tenda. Namun target kami mengakhiri pendakian hari ini di Pos 5 sebelum gelap. Sementara itu Jam sudah menunjukkan pukul 14:30. Sambil terengah saya langsung bersandar di salah satu sudut pohon, meregangkan otot-otot kaki yang sedari tadi dipaksa untuk terus berjalan, sambil menikmati semilir angin yang mulai terasa dingin.

Sementara itu Bang amat mengumpulkan botol-botol kami untuk kemudian turun menuju sumber mata air. Menurutnya sumber mata air terakhir ada di pos 3, karena di Pos 5 hanya terdapat genangan air yang tidak layak minum.