Kamis, 05 Maret 2020

Menapaki Jejak Maha Dahsyat Letusan Tambora (6)

Diiringi gumpalan debu yang menyelinap di sela-sela kacamata dan memenuhi kerongkongan, saya terbatuk-batuk. Debu, debu dan debu. Ia berterbangan kesana kemari dibawa angin Gunung. Jaket biru yang saya gunakan mulai tak jelas warnanya. Sementara itu secercah cahaya mulai Nampak. Terpancar dari balik dinding terjal yang sedang ditapaki.

Saya semakin mempercepat langkah, bagai dikejar sesuatu. Target hari ini adalah sampai di kaldera sebelum matahari muncul. Namun sepertinya sudah terlambat. Langit sudah keburu terang, semburat warna kuning di ufuk timur yang begitu cantik menandakan surya, sang penanda pagi telah muncul. Sementara scenery sekeliling muai terlihat, begitu memanjakan mata!.

Saya mengaku kalah, kalah dengan waktu. Benar, waktu memang tidak dapat dilawan, maka bersahabatlah dengannya, jangan menyia-nyiakan waktu. Inilah konsekuensi karena kami bangun terlambat. Saya terduduk menyeka keringat sambil mengatur ritme, kemudian beranjak melanjutkan sisa-sia pendakian yang hampir selesai.

Kaldera dan Puncak

Saya berdiri terdiam, menghirup udara dalam-dalam.

Saya berteriak menghempaskannya dengan keras ke muka akwah, tentu saja tak berarti apa-apa di depan kaldera yang terbentang sangat luas saat itu. Entah berapa hektar luasnya. Yang pasti ia menjadi bukti mahadahsyatnya letusan tahun 1815.

Dulu tinggi gunung ini diperkirakan mencapai 4000 meter diatas permukaan laut, kemudian separuh tubuhnya hancur, menyisakan kaldera yang menganga. Sejauh mata memandang terlihat membentuk garis horizon di sebrang sana. Seolah-olah memberi batas antara langit dan badan Gunung. sementara itu, Langit sudah begitu terang, namun sebagian tubuh matahari masih terhalang batas dari mulut kaldera di sisi timur.

Tanaman edelweis yang begitu cantik nampak tumbuh di dinding-dinding kaldera. Mereka menggantung di tempat-tempat yang tak terjangkau, sesekali saya temukan pula yang tumbuh di pinggiran. Tertarik, saya menodongkan kamera ke tumbuhan cantik ini dan mengambil beberapa gambar. Otomatis saya harus melongo dan memandang ke dalam kawah.

Sontak tubuh ini begidik, ngeri sekaligus takjub. Apa jadinya kalau sampai terjatuh ke dasar kaldera yang dalamnya hingga ratusan meter?! Yang pasti tidak akan selamat, belum lagi tubuh yang mungkin sudah tidak karuan saat ditemukan karena terbentur dinding tajam kaldera, atau terkena gas beracun dibawah sana.

perlahan saya berjalan menyisir kaldera. Mengikuti jalur yang memabawa saya menuju puncak Gunung ini. Masih sekitar 40 menit dari tempat saya berdiri. Terlihat bendera merah putih berkibar-kibar di atas gundukan bukit di sisi sebelah kanan. Ya, itulah puncak tambora.

Beberapa langkah lagi! mungkin sekitar 15 langkah saya akan berada pada titik tertinggi di pulau sumbawa.

Perjuangan ini terbayar sudah. Saya berdiri di samping bendera merah putih yang berkibar pada ketinggian 2.852 meter diatas permukaan laut. Diantara hembusan angin yang tak terhalang apapun. Saya mengusap-usap mata, ini bukan lagi video youtube tentang ekspedisi kaldera tambora yang beberapa hari lalu masih saya tonton di sela-sela pekerjaan kantor.

Kaldera itu terlihat begitu megah dari sini. Terpampang jelas betapa lebarnya ia. Dasar kawah yang tadi masih Dijejali kabut kini tersibak sudah. Sementara dibelakang sana hamparan laut biru tak terbatas mata memandang. Saya memandang kearah kaldera yang lebih dari dua abad tertidur pulas dengan tatapan tajam, berharap ia tak bangun dan meluluh lantakan peradaban yang tumbuh di kakinya.

Saya merasa sangat bersyukur, berterimakasih kepada Allah SWT. Melalui ciptaannya ini saya belajar banyak arti kesabaran dalam perjalanan kali ini. Kemudian saya memalingkan wajah ke arah barat sambil menatap tujuan berikutanya nun jauh disana, yaitu rumah!

Menapaki Jejak Maha Dahsyat Letusan Tambora (5)

Butiran debu berterbangan masuk ke sela-sela buff yang sejak tadi sudah terpasang menutupi wajah. Jalur mulai berubah, Pohon-pohon tinggi yang tadi mendominasi dari titik awal pendakian kini berkurang. Jenisnya pun berbeda, lebih banyak pohon pinus deselingi tanaman-tanaman perdu lainnya. Kini, Saya mencoba berkawan dengan alang-alang dan hempasan debu dari tiap jejakkan kaki kami di jalur yang menanjak semakin terjal.

Pos 5

Semburat cahaya kuning keemasan mengintip dari sela-sela dedaunan. Kini Saya dapat melangkah lebih leluasa, beberapa menit menuju Pos 5, jalur semakin bersahabat. Ia menjadi lebih landai, pijakan terasa lebih keras. Dari sebelah kanan Terpampang nyata wajah raksasa itu. Raksasa yang pernah menyebabkan kepanikan di berbagai belahan dunia. Guratan-guratan bukitnya begitu jelas dan tegas, disinari cahaya keemasan yang semakin lama semakin redup berganti warna menjad jingga kemerahan. Jadi ingat cerita Frankenstein yang konon lahir karena langit gelap akibat letusannya.

Cahaya keemasan itu berubah menjadi jingga kemerahan. Perlahan kemudian sirna berganti dengan kegelapan dan suara-suara malam yang menemani kami dalam balutan dinginnya udara di pos 5. Kerlap-kerlip taburan bintang  begitu jelas terlihat, orang bilang itu milkyway. Obrolan dari rombongan bapak-bapak sebelah terdengar sayup-sayup dari sini.

Sambil menikmati minasarua yang baru dihangatkan, kami mengisi malam dengan sekedar ngobrol atau bermain ludo. Udara dingin yang semakin menusuk memaksa saya agar segera menarik sleeping bag dan bersiap menutup hari. Hingga nyanyian alam yang begitu syahdu sukses meninabobokkan Saya di pundak tambora yang telah lebih dulu terlelap sejak dua abad yang lalu.

Jumat, 11 Mei 2018

Break! Dalam kegelapan kami meraba-raba mencari bidang datar untuk sekedar bertumpu, atau duduk menghela nafas sejenak. Diatas sana terpampang indah persembahan dari langit, taburan bintang yang jauh lebih indah dari kerlap-kerlip lampu kota dibawah sana. Sementara itu senter para pendaki yang sudah dulu naik ke atas terlihat bagaikan titik-titik kecil membentuk jalur.

Jam tangan masih menunjukkan pukul 04:00 dini hari, Namun keringat sudah mengalir deras membasahi leher lewat sela-sela telinga. Menutupi hawa dingin yang tadi begitu menusuk tulang. Jaket tebal yang saya pakai, mulai terasa pengap. Namun saya tak lantas membukanya, sekali lagi angin gunung telah bersiap di luar sana, menunggu untuk masuk menggerayangi tiap jengkal kulit dan membuat begidik sendi-sendi saya.

Entah sudah berapa kali kalimat yang sama kami dengar. Mungkin Ia hanya basa-basi melihat kami yang sudah mulai putus asa. Wajah-wajah kami begitu lelah dihajar jalur berpasir ini. Beberapa kali saya merosot karena pijakan yang begitu rapuh.

Batas vegetasi sudah dilewati, tidak ada lagi pepohonan, hanya beberapa tanaman setinggi lutut yang bisa dihitung, sisanya lautan pasir dan bebatuan kecil. Jalan terjal menanjak 45 derajat. Tidak! Perjalanan dini hari ini tidak semulus perjalanan menuju Pos 2, pijakannya tidak sekeras saat menuju pos 5. Tidak ada Jelatang. Air pun masih melimpah dalam botol yang saya masukkan di tas kecil.