Kamis, 16 April 2020

Pernah Dipakai untuk TB, Ilmuwan Uji Vaksin BCG pada Virus Corona

Bacillus Calmette-Guerin (BCG), sebuah vaksin yang dikembangkan ratusan tahun lalu untuk infeksi tuberkulosis (TBC) di Eropa saat ini sedang diuji terhadap virus Corona COVID-19.
Vaksin BGS hingga saat ini masih digunakan untuk mengatasi kondisi kesehatan lainnya, termasuk mencegah kematian dari berbagai infeksi serta secara signifikan mengurangi risiko infeksi pernapasan.

Dikutip dari New York Times, Ahli mengatakan vaksin BCG bisa 'melatih' sistem imun untuk mengenali dan merespons berbagai infeksi virus, bakteri, hingga parasit.

Ilmuwan di Melbourne, Australia, sudah memberikan vaksin BCG kepada ribuan tenaga medis, pada Senin (6/4/2020).

"Tidak ada yang mengatakan ini obat mujarab," kata Nigel Curtis, peneliti penyakit menular di University of Melbourne dan Murdoch Children's Research Institute.

Menurutnya, uji coba ini bertujuan untuk menyelamatkan tenaga kesehatan yang terinfeksi sehingga mereka dapat kembali bekerja secara lebih cepat.

Direktur Imunologi di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Denise Faustman, diketahui sedang mengumpulkan dana untuk memulai uji klinis vaksin kepada para pekerja kesehatan di Boston. Hasil awalnya dapat tersedia hanya dalam waktu empat bulan, katanya.

"Kami memiliki data yang sangat kuat dari uji klinis dengan manusia, bukan tikus. Bahwa vaksin ini melindungi Anda dari infeksi virus dan parasit. Aku ingin memulai sekarang," tuturnya.

Di Guinea-Bissau, Afria Barat, salah satu penelitian awal dari vaksin BCG ini sudah dilakukan terhadap 2.320 bayi tahun 2011. Hasilnya, dilaporkan tingkat kematian di antara bayi dengan berat lahir rendah berkurang secara dramatis setelah vaksinasi.

Studi lain, dilakukan selama 25 tahun terhadap lebih dari 150 ribu anak di 33 negara, melaporkan risiko anak-anak terkena infeksi saluran pernapasan 40% lebih rendah setelah mereka menerima vaksin BCG.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyimpulkan bahwa BCG memiliki 'efek di luar target' yang menguntungkan, dan merekomendasikan untuk melakukan lebih banyak uji coba vaksin terhadap infeksi lainnya.

Viral! Cerita Miris Dokter yang Lihat PDP Keluyuran Tak Isolasi Mandiri

Cuitan seorang dokter bernama dr Gia Pratama yang mengajak seorang pasien dalam pengawasan (PDP) untuk diisolasi di rumah sakit, viral di media sosial. Kisah ini ia bagikan melalui akun Twitter pribadi miliknya @GiaPratamaMD, Senin (6/4/2020).

"3 hari lalu saya menangani PDP, masih umur 20an, saya minta dia utk isolasi di rs, dia menolak keras, padahal masih ada satu ruangan lagi," tulis dr Gia pada postingannya di Twitter yang sudah di retweet lebih dari 2.600 kali hingga Rabu (8/4/2020).

"Saya jelasin abis2an tentang penularan. Tetap Ngotot bgt minta isolasi di rumah, Sampe tanda tangan perjanjian utk bener2 isolasi di rmh," lanjutnya.



dr. Gia Pratama
@GiaPratamaMD
3 hari lalu saya menangani PDP, masih umur 20an, saya minta dia utk isolasi di rs, dia menolak keras, padahal masih sisa satu ruangan lagi. 

Saya jelasin abis2an tentang penularan.

Tetap Ngotot bgt minta isolasi di rumah, Sampe tanda tangan perjanjian utk bener2 isolasi di rmh.

Lihat gambar di Twitter
2.455
19.31 - 6 Apr 2020
Info dan privasi Iklan Twitter
2.965 orang memperbincangkan tentang ini

Namun sayangnya, pasien itu tidak menepati janji untuk melakukan isolasi di rumah. dr Gia pun cukup mengecewakan hal itu, karena perilaku seperti ini jika dibiarkan bisa berdampak pada kelangsungan penyebaran virus Corona di Indonesia.

"Magrib tadi, pulang dari RS, saya melihat laki2 yang sama, sdg naik motor berdua sama seorang perempuan, ktawa ketiwi, tanpa masker sama sekali," ucap dr Gia.

"Rasanya kyk patah hati. Brp byk yg kyj gini. Isolasi diri hnya tinggal janji. Tibat2 pesimis corona bisa segera pergi dari negeri ini," tuturnya.

Viral APD Dibuang di Selokan, Begini Proses Pemusnahan Limbah Medis

 Viral di media sosial sebuah alat pelindung diri (APD) dibuang dan ditemukan warga di sebuah selokan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Selasa, (7/4/2020). Menanggapi hal ini Kapolres Jakarta Selatan merespon dengan melakukan penelusuran lebih lanjut.
"Sementara jadi TKP sementara ini masih kita telusuri," kata Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Budi Sartono saat dihubungi detikcom, Rabu (8/4/2020).

Mewabahnya virus Corona COVID-19 memang membuat meningkatnya keperluan perlengkapan medis dalam menangani pasien. Beberapa perlengkapan medis hanya bisa untuk sekali pakai, salah satunya APD.

Perlengkapan medis ini nantinya akan menjadi sampah atau limbah medis yang harus dimusnahkan. Alasannya karena limbah medis memiliki risiko dapat menjadi sumber penyebaran penyakit.

Lalu bagaimana sebenarnya prosedur pemusnahan sampah medis setelah selesai dipakai?

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan pedoman pengelolaan sampah medis. Pedoman ini tertuang dalam surat edaran menteri lingkungan hidup dan kehutanan No. SE.2/MLHK/PSLB3/P.LB3/3/2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19).

Pada surat edaran ini, sampah medis yang dihasilkan dari rumah sakit sebelum dibuang harus disimpan dalam kemasan tertutup paling lama dua hari sejak pertama dipakai.

Terdapat dua cara memusnahkan sampah medis. Pertama menggunakan incenerator dengan suhu pembakaran minimal 800 derajat celcius. Kedua menggunakan autoclave yang dilengkapi dengan pencacah atau shredder.

Nantinya, hasil pembakaran incenerator maupun cacahan autoclave dari sampah medis ini kemudian dikemas lalu ditempel tanda beracun. Selanjutnya disimpan di tempat penyimpanan sementara limbah B3 sebelum kemudian diserahkan kepada pengelola limbah B3.

Pernah Dipakai untuk TB, Ilmuwan Uji Vaksin BCG pada Virus Corona

Bacillus Calmette-Guerin (BCG), sebuah vaksin yang dikembangkan ratusan tahun lalu untuk infeksi tuberkulosis (TBC) di Eropa saat ini sedang diuji terhadap virus Corona COVID-19.
Vaksin BGS hingga saat ini masih digunakan untuk mengatasi kondisi kesehatan lainnya, termasuk mencegah kematian dari berbagai infeksi serta secara signifikan mengurangi risiko infeksi pernapasan.

Dikutip dari New York Times, Ahli mengatakan vaksin BCG bisa 'melatih' sistem imun untuk mengenali dan merespons berbagai infeksi virus, bakteri, hingga parasit.

Ilmuwan di Melbourne, Australia, sudah memberikan vaksin BCG kepada ribuan tenaga medis, pada Senin (6/4/2020).

"Tidak ada yang mengatakan ini obat mujarab," kata Nigel Curtis, peneliti penyakit menular di University of Melbourne dan Murdoch Children's Research Institute.

Menurutnya, uji coba ini bertujuan untuk menyelamatkan tenaga kesehatan yang terinfeksi sehingga mereka dapat kembali bekerja secara lebih cepat.

Direktur Imunologi di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Denise Faustman, diketahui sedang mengumpulkan dana untuk memulai uji klinis vaksin kepada para pekerja kesehatan di Boston. Hasil awalnya dapat tersedia hanya dalam waktu empat bulan, katanya.

"Kami memiliki data yang sangat kuat dari uji klinis dengan manusia, bukan tikus. Bahwa vaksin ini melindungi Anda dari infeksi virus dan parasit. Aku ingin memulai sekarang," tuturnya.

Di Guinea-Bissau, Afria Barat, salah satu penelitian awal dari vaksin BCG ini sudah dilakukan terhadap 2.320 bayi tahun 2011. Hasilnya, dilaporkan tingkat kematian di antara bayi dengan berat lahir rendah berkurang secara dramatis setelah vaksinasi.

Studi lain, dilakukan selama 25 tahun terhadap lebih dari 150 ribu anak di 33 negara, melaporkan risiko anak-anak terkena infeksi saluran pernapasan 40% lebih rendah setelah mereka menerima vaksin BCG.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyimpulkan bahwa BCG memiliki 'efek di luar target' yang menguntungkan, dan merekomendasikan untuk melakukan lebih banyak uji coba vaksin terhadap infeksi lainnya.