Selasa, 26 Mei 2020

Mereka yang Rela Antre demi 'Tes Corona' COVID-19

Setelah virus corona COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), banyak warga khawatir akan kesehatannya. Mereka mulai ramai mendatangi pusat kesehatan bersama keluarganya untuk melakukan tes kesehatan.
Seperti terpantau pada Senin (16/3/2020) lalu, masyarakat mulai memadati pos pemantauan yang ada di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara. Antrean bahkan menumpuk sejak pagi hari.

Mereka yang datang ingin periksa kebanyakan merasakan gejala-gejala yang mirip COVID-19, seperti demam, batuk, pilek, sesak napas, hingga sakit saat menelan. Masyarakat yang menunggu juga diberikan nomor antrian dan selembar formulir yang digunakan sebagai alat screening pasien, masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), atau tidak sama sekali.

Pasien yang datang ke rumah sakit tidak hanya yang memiliki riwayat bepergian atau ada kontak dengan pasien positif. Tapi, banyak juga yang berinisiatif untuk mengecek kesehatannya saja.

Hal ini dilakukan oleh Yogi (25) yang datang ke pos pemantauan sejak Jumat lalu. Ia datang ke rumah sakit karena ingin mengecek kesehatan, bukan hanya karena tuntutan kantor tapi keinginan pribadinya juga.

Ia mengisi formulir screening dan langsung diarahkan ke Medical Check Up (MCU) umum, karena tidak memiliki riwayat bepergian dan kontak dengan pasien positif.

"Sempat flu, batuk, dan demam sedikit aja," ujarnya pada detikcom saat ditemui di ruang MCU (Medicak Check Up) RSPI Sulianti Saroso, Senin (16/3/2020).

"Saya sudah datang dari Jumat, tapi katanya langsung disuruh ke MCU aja. Karena baru bisa Senin, ya sudah saya kembali lagi hari ini dari jam 09.00 lah," tambahnya.

Hal ini serupa dengan Mirna dan suaminya, yang baru kembali dari perjalannya ke Thailand. Mereka pergi bersamaan karena ada keperluan pekerjaan.

Sebelum pergi ke sana, Mirna memang sudah mengalami radang tenggorokkan. Sementara suaminya tidak merasakan gejala apa-apa.

"Sebelum ke sana (Thailand) saya memang sudah radang tenggorokkan. Karena takut ada apa-apa kan, yaudah datang ke sini dialihkan ke dokter spesialis dan MCU aja," jelas Mirna.

Berdasarkan pantauan tim detikcom, antrian pasien di pos pemantauan terjadi hingga sore hari. Sedangkan di tempat MCU, pada pukul 16.00 nomor antrian sudah ditutup dan menyisakan pasien yang masih menjalani rangkaian check up.

Jepang Berhasil Tekan Corona Tanpa Kebijakan Ketat

- Jepang resmi mencabut status darurat nasional pandemi Covid-19 setelah berhasil meratakan kurva penyebaran virus corona, Senin (25/5).

Jepang berhasil meraih capaian tersebut meski tidak menerapkan kebijakan ketat yang umumnya dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Hanya pembatasan tanpa hukuman atau sanksi tegas bagi setiap pelanggar.

Pada April lalu, Perdana Menteri Shinzo Abe memutuskan memperluas status darurat nasional setelah melihat kasus Covid-19 kembali melonjak signifikan. Dengan status darurat itu, warga hanya diimbau melakukan karantina mandiri dan berdiam di rumah.

Status darurat di Jepang juga tidak mengikat warga sehingga masih memungkinkan melakukan perjalanan, termasuk bekerja di kantor meski jam kerjanya dikurangi.

Banyak pihak menyangsikan kemampuan Jepang melawan virus karena jumlah populasi manula yang tinggi serta kepadatan penduduk di Tokyo. Selain itu ada pula gambaran pekerja-pekerja yang berjejal di kereta komuter.

Jepang tidak melakukan pengujian virus secara massal layaknya negara lain yang sukses menekan penularan seperti China dan Korea Selatan. Rumah sakit di Jepang hanya akan memeriksa orang yang bergejala.

Jepang disorot karena terhitung negara dengan angka pengecekan Covid-19 yang rendah, sekitar 270 ribu. Angka itu menjadi tingkat per kapita terendah dalam kelompok tujuh negara maju menurut Worldometer.

Pemerintah Jepang bersikeras bahwa pengujian massal tidak pernah menjadi bagian dalam rencana penanganan pandemi mereka.
http://kamumovie28.com/chihayafuru-part-ii/

Senin, 25 Mei 2020

Pakar Ingatkan Virus-virus yang Harus Diwaspadai Selain Corona

 Penanganan dan pencegahan virus Corona terus dilakukan pemerintah. Namun masyarakat juga tidak boleh lengah dengan penyakit lain yang disebabkan oleh virus, selain virus Corona.
Hal tersebut disampaikan Praktisi kesehatan Kolonel (CDM) Dr. dr. Putu Wasi Nugroho, Sp.B.(Onk), M.A.R.S. saat diskusi menyikapi fenomena penyebaran virus korona di Indonesia dan Wilayah Banyumas, di Ramiro Cafe Purwokerto, Rabu (18/3/2020).

"Corona sama dengan virus-virus yang lain. Hanya saja, virus-virus yang lain ini bermetamorfosis lebih banyak karena corona itu sebetulnya hanya satu, kalau (virus) flu itu banyak sekali metamorfosisnya, tipe A, tipe B, tipe C, dan sebagainya," kata Putu.

Menurut dia, virus Corona bukan satu satunya penyakit yang harus diwaspadai saat ini. Masih banyak penyakit lain yang harus diwaspadai dan disebabkan oleh virus serta menimbulkan kematian.

Diantaranya yakni demam berdarah dengue akibat lingkungan sekitar yang kurang bersih. Dimana jentik nyamuk berkembang biak dan ketika tergigit akan mudah sekali menular ketubuh seperti virus Corona.

"Sama seperti virus corona, penularan demam berdarah dengue akan mudah sekali terjadi saat sistem imun tubuh kita sedang menurun," ucapnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, selama bulan Januari hingga awal Maret 2020 tercatat sebanyak 16.099 kasus demam berdarah dengue di seluruh Indonesia dengan korban meninggal dunia sebanyak 100 orang.

Maka dari itu dia mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak terlalu panik mengahadapi penyebaran virus Corona saat ini. Namun tetap waspada terhadap virus Corona dan selalu menjaga kebersihan serta kesehatan.

"Semua penyakit yang disebabkan virus, intinya hanya satu, kita harus memperbaiki lingkungan kita, sistem kita, tubuh kita sendiri, cara makan kita, dan sebagainya. Tanpa itu, kita akan gampang sekali terkena infeksi virus apa pun, termasuk virus corona," ucapnya.

Dia menjelaskan jika upaya pemerintah dalam penanganan virus Corona di Indonesia saat ini terus menjadi perhatian berbagai masyarakat. Dia menyarankan lock down seluruh wilayah Indonesia secara serentak, diharapkan menjadi salah satu pilihan menekan penyebaran virus Corona.

"Saran untuk negara adalah segera lakukan lock down serempak. Kalau tidak serempak, ada satu daerah lain yang sudah lock down dan ada daerah lain yang belum. Nanti yang satu sudah kena dan yang satu sudah mulai membaik, berkunjung ke satu daerah (virusnya) akan muter terus. Menyebar lagi, muncul lagi, ini yang disebut dengan sirkulus vitiosus atau lingkaran setan," jelasnya.

Dia mengatakan jika lock down serempak itupun bukan hanya dilakukan selama 14 hari saja. Namun idealnya selama 37 hari hingga dipastikan virus tersebut benar benar mati.

"Maksimal butuh waktu 37 hari. Alasannya usia dari pada virus, kalau cuma 14 hari, virus tersebut sudah mulai melemah. Tapi belum mati sama sekali. Terus kalau pindah pindah (lock down) virusnya semakin lama semakin kuat. Tapi kalau 37 hari, sudah pasti mati semua," ujarnya.