Jumat, 29 Mei 2020

Penting! Kenali Suhu Tubuh Normal Manusia dan Artinya Jika Tak Sesuai

Salah satu gejala infeksi, termasuk virus corona COVID-19, adalah demam. Imbas mewabahnya virus ini, membuat hampir di semua tempat umum ada pemeriksaan suhu tubuh dengan thermometer gun.
Berapa sih suhu tubuh normal manusia?
Dikutip dari WebMD, suhu tubuh setiap orang berbeda-beda. Tubuh mengeluarkan panas setiap saat untuk melakukan pekerjaan yang membuat anda tetap hidup. Namun, ketika tubuh mengeluarkan lebih banyak atau lebih sedikit panas dari biasanya itu menandakan ada masalah dalam tubuh.

Pada umumnya, suhu tubuh normal untuk dewasa berkisar 36 hingga 37 derajat Celsius. Sedangkan untuk untuk bayi dan anak-anak, berkisar antara 36,6 sampai 38 derajat Celsius.

Apa artinya jika terlalu tinggi?
Suhu tinggi dapat mengakibatkan indikasi demam. Jika pada orang dewasa memiliki suhu di atas 38 derajat Celsius, mungkin sudah dianggap demam. Bahkan jika sudah di atas 39 derajat Celcius, segera hubungi dokter untuk memeriksakan kondisi lebih lanjut.

Indikasi demam untuk anak-anak lebih rumit. Seperti, usia di bawah 3 bulan memiliki suhu dubur di atas 38,5 derajat Celsius, usia antara 3 dan 3 tahun suhu dubur di atas 38,8 derajat Celsius, dan di atas tiga tahun memiliki suhu oral melebihi 39,4 derajat Celsius.

Bagaimana kalau suhu tubuh terlalu rendah?
Suhu rendah dapat menandakan hipotermia, yakni ketika suhu tubuh di bawah 35 derajat Celsius. Salah satu faktor penyebabnya adalah paparan di cuaca yang dingin di waktu yang lama baik di dalam maupun luar ruangan.

Faktor apa saja yang mempengaruhi suhu tubuh seseorang?
Aktivitas sehari-hari
Kondisi lingkungan pada jam atau waktu tertentu
Faktor usia
Jenis kelamin
Makanan dan minuman yang dikonsumsi
Siklus menstruasi (khusus untuk wanita).

10 Penyakit yang Disebabkan Virus, Selain Corona

 Penyakit yang disebabkan oleh virus tidak bisa ditangani dengan pemberian obat antibiotik. Virus hanya dapat dibasmi dengan obat antivirus. Akan tetapi beberapa penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus juga dapat sembuh dengan sendirinya selama sistem kekebalan tubuh kuat.
Ada beberapa gejala umum yang disebabkan akibat virus dan ciri-cirinya hampir mirip dengan bakteri. Yakni batuk dan bersin, demam, muntah, diare, kelelahan hingga kram.

Beberapa bulan belakangan muncul virus jenis baru yang berasal dari Wuhan, Hubei, China namanya Virus Corona (COVID-19). Virus ini telah menginfeksi lebih dari 100 negara di dunia dan mengakibatkan sekitar 6.400 orang meninggal dunia. WHO pun telah menyatakan virus Corona sebagai pandemi.

Virus Corona atau COVID-19 merupakan virus yang menyerang sistem pernapasan manusia. Virus ini masih bersaudara dengan SARS dan MERS yang sempat merebak beberapa tahun lalu.

Gejala virus Corona yang muncul pada beberapa pasien secara umum adalah flu, demam, batuk hingga sesak napas.

Selain virus Corona, ada juga beberapa penyakit lain yang juga disebabkan karena virus :

1. Gondongan
Penyakit yang disebabkan virus pada manusia salah satunya adalah gondongan. Gondongan ialah pembengkakan yang terjadi pada kelenjar parotis akibat infeksi virus. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari keluarga paramyxovirus.

Gejala gondongan biasanya baru akan muncul sekitar 14-25 hari setelah infeksi virus tejradi. Ditandai dengan pembengkakan kelenjar parotis yang membuat sisi wajah atau pipi bengkak.

Gondongan dapat sembuh saat sistem kekebalan tubuh berhasil mengatasi infeksi yang terjadi. Dan perbanyak minum air putih.

2. Herpes
Herpes adalah nama kelompok virus herpesviridae yang dapat menginfeksi manusia. Jenis virusnya dikenal dengan sebutan herpes simplex virus atau HSV yang dapat menyebabkan infeksi pada daerah mulut, wajah hingga kelamin (herpes genitalia).

Umumnya gejala herpes ditandai dengan demam, nyeri otot, muncul rasa nyeri dan gatal seperti terbakar, kemudian timbul lesi pada kulit seperti melepuh yang pecah dan mengering dalam beberapa hari.

Fokus pengobatan penyakit herpes biasanya untuk menghilangkan blister dan mencegah penyebaran herpes. Ada juga beberapa obat-obatan antivirus yang digunakan seperti Acyclovir, Valacyclovir dan Famciclovir.
https://nonton08.com/cast/tetona-jackson/

Yakin Mau Bikin Hand Sanitizer Sendiri? 5 Hal Ini Bikin Kamu Pikir Ulang

Hand sanitizer semakin sulit ditemukan. Beberapa orang memilih untuk membuat hand sanitizer sendiri. Namun para ahli mengingatkan untuk berhati-hati saat membuat hand sanitizer versi DIY (Do It Yourself).
Beberapa hal yang perlu kamu perhatikan sebelum kamu ingin membuat hand sanitizer versi DIY dirangkum detikcom dari berbagai sumber pada Selasa (17/3/2020):

1. Produk DIY belum tentu aman
Kalau kamu menggunakan bahan yang tidak kamu ketahui sebelumnya, lebih baik menghindari membuat hand sanitizer versi do it yourself. Salah satu kasus terjadi pada seorang bocah lelaki di New Jearsey mengalami luka bakar akibat menggunakan hand sanitizer semprot, yang dibuat dengan campuran pembersih berbusa dengan bahan lain yang tidak diketahui.

Berlaku juga dengan tisu disinfektan yang ditujukan untuk membersihkan permukaan, tak dianjurkan untuk digunakan pada tangan. "Ini memunculkan kesalahan umum lainnya yang saya lihat, orang yang menggunakan tisu disinfektan yang ditujukan untuk permukaan, di tangan mereka. Ini tidak dianjurkan, karena tisu ini mungkin mengandung pemutih atau bahan lain yang tidak dimaksudkan untuk digunakan pada kulit," jelas Stephen Morse, PhD, MS, seorang ahli penyakit menular dari Universitas Columbia di New York, mengatakan kepada Healthline.

2. Bahan 'etanol' dan 'hidrogen peroksida' terlalu rumit bagi orang awam
Pedoman pembuatan hand sanitizer juga dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun para ahli menjelaskan pedoman pembuatan hand sanitizer dengan menggunakan etanol atau hidrogen peroksida terlalu rumit bagi orang awam.

"Pedoman WHO sangat bagus tetapi tidak benar-benar dimaksudkan untuk digunakan di rumah dan mungkin terlalu rumit bagi banyak orang," kata Stephen Morse, PhD, MS, seorang ahli penyakit menular dari Universitas Columbia di New York.

"Anda juga dapat membeli etanol cair biasa (70 persen) atau isopropil alkohol (71 persen atau 91 persen) di apotek dalam botol biasa atau semprotan. Mereka mungkin kurang nyaman dan tidak selembut hand sanitizer di pasaran, tetapi tetap akan bekerja dengan baik. Jika memungkinkan, menggunakan sabun dan air putih sama baiknya, bahkan mungkin lebih baik," lanjutnya.

3. Kandungan bahan di hand sanitizer versi do it yourself dikhawatirkan tidak tepat
WHO memang membuat panduan khusus terkait pembuatan hand sanitizer sendiri. Jika takarannya benar, tentu akan sangat membantu. Namun pakar khawatir orang yang mengikuti pedoman tersebut membuat hand sanitizer dengan kandungan atau takaran yang tidak benar.

"Saya khawatir terhadap orang yang membuat pembersih sendiri karena akan sulit untuk memastikan bahwa kandungannya benar," kata Daniel Parker, asisten profesor kesehatan masyarakat di University of California, Irvine, dikutip dari CNN.

4. Berbahaya untuk kulit
Mengutip CNN, pembersih tangan yanng dibeli di toko biasanya memiliki kandungan yang dibuat untuk melawan efek alkohol yang 'keras' pada kulit. Menurut Sally Bloomfield, seorang profesor di London School of Hygiene dan Tropical Medicine, jika kamu tidak menambahkan bahan itu pada hand sanitizer buatan sendiri, bisa saja berisiko melukai kulit tangan.

5. Tak semudah yang dibayangkan
Mengutip Cnet, sebagian besar resep membuat hand sanitizer sendiri dianjurkan menggunakan campuran 91 persen atau 99 persen isopropil alkohol yang juga dikenal sebagai alkohol gosok. Adapula tambahan gel lidah buaya, yang diperlukan untuk menambah kelembaban pada kulit.

Meski begitu kamu tetap bisa keliru dalam mempraktikannya. Kamu harus benar-benar tahu komposisi alkohol yang dicampur dengan lidah buaya. Jika kurang campuran lidah buaya akan membuat tanganmu kering. Jika kurang alkohol, bisa jadi hand sanitizer yang kamu buat tidak efektik membasmi bakteri atau virus.
https://nonton08.com/cast/ayako-yoshitani/